Entah kenapa… tiba-tiba saja aku ingin menuliskan
ini...
Ayah dan Ibu adalah dua orang manusia yang bersatu karena
cinta, dan aku adalah buah cinta kedua orang yang saling mencinta, maka
besarlah aku dengan cinta mereka berdua…
Namun… saat waktu terus berjalan…. semua yang ada pada
mereka menurun padaku, merekalah yang sadar tidak sadar telah membentukku
menjadi pribadi yang baru, aku tak tahu apakah watak dan sifat-sifat mereka
seluruhnya menurun padaku atau tidak, tapi yang jelas aku mencintai mereka
sebagaimana mereka mencintaiku…
Seperti halnya sejarah penciptaan Hawa, memang Adam
tak mungkin hidup sendirian, dan ia pun harus melakukan regenerasi, agar
makhluk yang bernama manusia ini tidak hilang dari Peradaban, dan jika seorang
wanita diciptakan dari tulang rusuk seorang laki-laki, maka suatu hari ia harus
menemukan patahan tulang rusuknya.
Aku tidak tau bagaimana mekanisme semesta membuat
seseorang merasakan yang namanya jatuh cinta, namun yang aku tau dari ayat
dalam Al-Quran, bahwa Allah telah menciptakan manusia secara
berpasang-pasangan, antara laki-laki dan perempuan, maka aku tak pernah heran,
jika pada akhirnya secara emosional kita yang perempuan akan merasakan lebih
nyaman jika memiliki hubungan dengan lawan jenis kita, ada banyak hal yang
tidak bisa diselesaikan dengan perasaan, harus dengan logika, begitu pun
logika, suatu saat ia membutuhkan perasaan untuk dapat terus hidup.
Maka… tak heran jika seorang anak perempuan akan
begitu mengidolakan ayahnya, karena mungkin hanya ia pria yang dilihat pertama
kali saat ia lahir, atau seorang anak laki-laki akan begitu mengidolakan
ibunya, karena mungkin hanya ialah wanita pertama yang dilihatnya saat ia
menghirup nafas pertama kalinya di bumi.
Aku… merasakan benar bagaimana cintanya Ayah padaku,
ayah adalah sosok pria hebat dimataku, Ia yang cerdas, Ia yang bijaksana, Ia
yang begitu sabar, yang begitu rajin membantu pekerjaan rumah tangga ibuku,
yang mau memijat kaki ibuku saat ibu merasa kelelahan melakukan pekerjaan rumah
tangga, ayah juga yang selalu mengantarku ke sekolah, bahkan hingga aku
bekerja, tak jarang beliau menungguiku hingga larut malam, mengantarku dan
menjemputku hingga sampai dirumah dengan selamat…, Maka ketika akad itu
diucapkan dengan menjabat tanganmu… ia mau tidak mau harus merelakan bidadari
kecilnya ini hidup dan menghabiskan umurnya bersama dengan seorang pria yang
kelak akan jadi suaminya. Maka… jika Aku menikah kelak… aku pasti ingin suamiku
bisa melakukan hal yang sama dengan yang Ayah lakukan kepadaku.
Dan kamu… merasakan benar bagaimana cintanya Ibu
padamu, Ibu adalah sosok wanita hebat dimatamu, Ia yang cerdas, Ia yang
bijaksana, Ia yang begitu sabar, yang begitu rajin mengerjakan pekerjaan rumah
tangga, yang mencuci bajumu setiap hari, yang menjahitkan kancing
pakaianmu, yang memasakan masakan-masakan enak untukmu, Ia yang menyusuimu
selama 2 tahun, membawamu dalam rahimmnya selama 9 bulan, dan tak pernah lelah
untuk menemanimu bermain hingga kau terlelap tidur…, Maka ketika akad itu
diucapkan dengan menjabat tangan ayahku… ia mau tidak mau harus merelakan anak
laki-laki kesayangannya ini hidup dan menghabiskan umurnya bersama dengan
wanita yang kelak akan jadi istrinya. maka… jika Kau menikah kelak… Kau pasti
ingin istrimu bisa melakukan hal yang sama dengan yang Ibu lakukan kepadamu.
Ini tidak akan mudah kawan…
Aku akan belajar menjadi Ibu yang Baik untuk
anak-anakku, dan Kau akan belajar menjadi Ayah yang baik untuk anak-anakku…
karena,
Aku bukan Ibumu dan Kau bukan Ayahku…
Bandung, 6 September 2016