“Free yourself from the
complexities and drama of your life. Simplify. Look within. Within ourselves we
all have the gifts and talents we need to fulfill the purpose we’ve been
blassed with”
- Stave Maraboli
Kalau kamu perempuan, dan kamu
suka nonton film, pasti kebanyakan yang ditonton adalah film drama, yah, drama
romantis atau percintaan. Yang ceritanya macam-macam, dan berujung dua, happy
ending atau sad ending, saya yang juga perempuan mau tidak mau, harus mengakui
juga, kalo film drama seperti itu memang menarik, tak jarang membuat kita jadi
terharu atau mungkin menangis, biasa perempuan banyak pake perasaan, jangankan
nonton drama, lihat kucing kelindes mobil aja, mungkin akan sedih dan nangis
-__-
Sayangnya, ketika kembali ke
kehidupan nyata, kita jadi menciptakan “drama” sendiri, merasa jadi tokoh utama
dan menjadi korban atas keadaan atau hubungan yang rumit, galau, sedih,
menangis, hahhahahhaa…. Itulah yang kemarin dibahas dikantor, tentang hubungan
percintaan segitiga rekan kerja saya dengan tunangannya, yang bermasalah karena
hadirnya orang ketiga, saya pengen ketawa sebenarnya, tapi jahat juga klo saya
ketawa, saya berada dalam perbincangan teman-teman saya, yang gak tau harus
kasih solusi apa, karena kalau tentang cinta, saya tidak banyak tau, jangan
tanya cinta ke saya, toh saya gak pernah pacaran, gak pernah menjalin kasih
dengan laki-laki manapun. Saya hanya sering mendengar saja masalah percintaan
nan rumit, termasuk kisah cinta anak-anak SMA, dimana murid saya suka curhat
sama saya. Gak ngerti juga sih kenapa mereka curhat ke saya, padahal saya tidak
pernah “melegalkan” pacaran, dan saya bukan orang yang setuju dengan pacaran.
Dan saya pada akhirnya hanya bisa kasih masukan sama murid saya
“Yah kalo kamu mau komitmen sama
orang (pacaran) kamu harus siap nerima konsekuensinya, diphpin, diharkosin,
dikecawain, diselingkuhin, atau bahkan diputusin. Intinya kamu juga bisa jawab
masalah kamu sendiri, Tanya aja sama hati kecil kamu, toh kalo kakak ngasih
saran apapun, kamu sendiri kan yang tetap ngejalaninnya”
Balik lagi ke “drama”, kehidupan
nyata memang berbeda dengan drama-drama yang kamu sering lihat di televisi atau
dilaptop. Hidup kamu nyata, gausa terlalu lebay, jangan terlalu menghayati
cerita di film, okeylah hidup kamu gak Indah, kamu punya banyak masalah, tapi
kamu harus realistis, hadapi semuanya dengan kekuatan Iman dan Takwa, mau apa
lagi hidup, jangan menggantungkan harapan apalagi perasaan sama manusia, yang
ada ntar kamu kecewa. Macam ustazah yah saya ngomong? entahlah ini Cuma tulisan
buat pengingat diri, syukur-syukur bisa jadi nasehat buat orang lain juga,
bukankah sesama muslim kita harus saling mengingatkan?
Dan saya selalu ingat dengan
kisah hidupnya Maryam, yah beliau yang kisah hidupnya begitu mengagumkan,
beliau sepertinya lebih layak untuk mengeluh, sedih, dan menderita dengan
segala ujian hidup yang diberikan Allah kepadanya, tapi saya tau Maryam itu
wanita mulia, gada “drama” , hidupnya sepenuhnya ia abdikan untuk Tuhannya, ia
yang sendiri tanpa pernah mengenal laki-laki, tetap mulia, tetap bisa
berketurunan atas izin Allah. Dan ia adalah seorang wanita yang kuat, bukan
Cuma fisiknya, tapi hatinya juga strong, ia lakukan semua hal sendirian, bahkan
melahirkan pun sendirian, jadi kalau kamu pulang sendirian gada yang jemput,
malam-malam, hujan pula, nikmatin aja, kamu gak ditinggal digurun pasir kaya
Siti Hajar.
Jadi bersyukurlah kamu, jangan
banyak mengeluh, jangan suka membanding-bandingkan kehidupan kamu dengan orang
lain, kalau kamu menderita, diluar sana masih banyak orang yang hidupnya lebih
susah, lebih sedih, dan lebih menderita dari kamu, jangan jadi drama queen
juga, jadilah perempuan yang tangguh, kurangi cengengnya, kuatkan hatinya,
kuatkan Iman Islamnya, karena kelak kamu harus membesarkan anak-anak kamu untuk
jadi anak yang tangguh, yang kuat Iman Islamnya, kaya Ibunya.
Bandung, 26 April 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar