Mungkin kita yang terlalu bodoh
untuk memahami kehendak Allah...
Itu yang saya fikirkan,
perjalanan saya ke kalimantan kemarin memberikan banyak pelajaran, bagaimana
rasanya meninggalkan dan ditinggalkan, bagaimana rasanya memberi dan menerima,
bagaimana rasanya mencintai dan dicintai.
Satu bulan rasanya bukan waktu
yang sebentar untuk bisa memahami perasaan manusia, tapi jujur saya menangis
sepanjang perjalanan, dari mobil hingga naik pesawat, dari sadar sampai
terlelap, bahkan ketika tidur, entah kenapa air mata saya jatuh, entahlah
ketulusan dan kebaikan nyatanya selalu meninggalkan ruang dihati, padahal
mereka bukan siapa-siapa, hanya bertamu sekali, dan entah kapan akan bertemu
lagi.
Tak ada alasan untuk mencintai
dan menyayangi manusia, setiap orang berhak dicintai dan disayangi, namun hati
tak pernah bisa berbohong, apa yang datang dari hati pasti akan kembali ke
hati, terima kasih atas perhatiannya kepada saya, saya menyayangi kalian semua.
Maksud hati melarikan diri dari
kenyataan, nyatanya kenyataan tidak bisa dihindari. Apa yang harus terjadi, memang harus terjadi,
tak bisa kita menghindar dari setiap takdir Allah, apalagi masalah jodoh atau
kematian. Dua-duanya dekat, namun tak tau kapan akan datang.
Sebelum pergi saya menitipkan
orang-orang yang saya cintai kepada Allah, dan ketika saya kembali, pun saya akan
menitipkan orang-orang yang menyayangi dan mengasihi saya kepada Allah. Jarak
akan meninggalkan jejak rindu dihati, tapi kerinduan tidak akan selesai dengan
pertemuan, jika rindu datang mungkin waktunya saya untuk bermunajat, meminta
kebaikan dan kebahagiaan hadir dan datang pada orang yang saya rindui.
Hanya ucapan terima kasih yang
bisa saya sampaikan, semoga Allah memberkahi setiap pertemuan dan perpisahan
yang sudah ditakdirkan.
Bandung, 22 Maret 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar