Selasa, 27 September 2016

Jangan Tanya

"Wahai Rabbku, kepada Engkaulah aku adukan kelemahan tenagaku dan kekurangan daya upayaku pada pandangan manusia. Wahai Rabbku Yang Maha Rahim Engkaulah Rabbnya orang-orang yang lemah dan Engkaulah Rabbku. Kepada siapa Engkau menyerahkan diriku?  Kepada musuh yang akan menerkamku, atau kepada keluarga yang Engkau berikan kepadanya urusanku, tidak ada keberatan bagiku asal Engkau tidak marah kepadaku. Sedangkan afiat-Mu lebih luas bagiku. AKu berlindung dengan cahaya mukaMu yang mulia menyinari langit dan menerangi segala yang gelap. Dan atasNyalah teratur segala urusan dunia dan akhirat. Dari Engkau menimpakkan atas diriku  kemarahanMu atau dari Engkau turun atasku adzabMu. Kepada Engkaulah aku adukan halku sehingga Engkau Ridha. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Engkau"
Lemparan batu itu menyisakan darah segar dibagian tubuhnya, nafasnya mungkin tersenggal karena menahan rasa sakit dan letih, namun sungguh kemuliannya tak berkurang sedikitpun, dengan penuh kerendahan hati Ia berdoa kepada Rabbnya....

Jangan tanya bagaimana perasaan Rasullulah saat itu, membaca doanya saja saya hanya bisa meneteskan air mata, beliau walaupun seorang Rasul dan Nabi, namun tetap manusia biasa yang bisa sakit dan terluka, luka ditubuhnya mungkin tidak lebih sakit dari hatinya, tapi beliau menjalaninya dengan ikhlas dan penuh kesabaran, dan ketika Jibril menawarkan agar gunung-gunung dijatuhkan dan ditimpakan pada penduduk Thaif yang telah menzdaliminya, Rasullulah enggan menerimanya, justru beliau menolaknya, karena beliau menaruh harapan semoga kelak ada keturunan penduduk kota tersebut yang beriman kepada Allah SWT. Jika tidak penduduknya sekarang, mungkin anak-anaknya, mungkin cucu-cucunya kelak.

Bukan hanya Rasullulah....

Jangan tanya perasaan Maryam ketika harus mengandung bayi laki-laki, dan dicemooh serta dihina oleh orang-orang sekitarnya, karena mengandung seorang bayi tanpa seorang suami, ia yang harus berpuasa bicara, dan menelan semua omongan pahit orang-orang tentang dirinya sendirian.

Jangan tanya perasaan Yunus ketika berada dikegelapan, berada dibawah lautan samudra nan jauh dan gelap, dan berada didalam perut ikan paus tanpa ada cahaya sedikitpun, kepada siapa ia meminta pertolongan dan perlindungan.

Jangan tanya perasaan Ibrahim, ketika diperintahkan untuk meninggalkan SIti Hajar dan putranya Ismail yang baru saja dilahirkan, dan tak lama ia pun diperintahkan untuk menyembelih putranya yang sudah ia tunggu kehadirannya di dunia selama bertahun-tahun.

Jangan tanya perasaan Aisyah, ketika ia difitnah berselingkuh dengan salah satu sahabat nabi Shofwan, yang digunjingkan oleh orang-orang munafik penyebar fitnah, hingga membuat Rasullulah marah padanya, tanpa ada saksi yang membelanya hingga turun ayat yang menjelaskan bahwa ia adalah wanita baik-baik.

Jangan tanya perasaan Nuh yang berdakwah selama 950 tahun siang dan malam,  namun hanya sedikit yang mengikutinya, dan begitu banyak orang yang menolak dakwahnya, termasuk Istri dan putranya sendiri yang harus mendapat azab dari Allah SWT.

Jangan tanya perasaan Siti Hajar ketika ditinggalkan oleh Ibrahim semuanya, digurun pasir yang kering, panas, dan kerontang tanpa setetes air pun, bagaimana ia berusaha mencari air untuk putranya berlari dari Sofa ke Marwah sendirian, namun ia ikhlas menjalaninya karena itu adalah perintah Allah untuk suaminya.

Jangan tanya bagaimana perasaannya, ini bukan sesuatu yang mudah, ujian akan selalu datang dalam hidup kita, tidak terkecuali, baik itu kebahagiaan atau pun kesedihan, mungkin itu cara Allah menguatkan Iman kita, dan Allah tidak pernah salah menakar, semoga setiap kesulitan hidup yang kita alami tak lain menambah Iman kita semakin kuat, semoga Allah berikan kekuatan dan kesabaran kepada kita menghadapi segala permasalahan hidup, hanya kepada Allahlah kami berserah diri, aamiin

Bandung, 27 September 2016


Tidak ada komentar:

Posting Komentar