Selasa, 06 September 2016

Aku bukan Ibumu, dan Kau bukan Ayahku….



Entah kenapa… tiba-tiba saja aku ingin menuliskan ini...

Ayah dan Ibu adalah dua orang manusia yang bersatu karena cinta, dan aku adalah buah cinta kedua orang yang saling mencinta, maka besarlah aku dengan cinta mereka berdua…
Namun… saat waktu terus berjalan…. semua yang ada pada mereka menurun padaku, merekalah yang sadar tidak sadar telah membentukku menjadi pribadi yang baru, aku tak tahu apakah watak dan sifat-sifat mereka seluruhnya menurun padaku atau tidak, tapi yang jelas aku mencintai mereka sebagaimana mereka mencintaiku…

Seperti halnya sejarah penciptaan Hawa, memang Adam tak mungkin hidup sendirian, dan ia pun harus melakukan regenerasi, agar makhluk yang bernama manusia ini tidak hilang dari Peradaban, dan jika seorang wanita diciptakan dari tulang rusuk seorang laki-laki, maka suatu hari ia harus menemukan patahan tulang rusuknya.

Aku tidak tau bagaimana mekanisme semesta membuat seseorang merasakan yang namanya jatuh cinta, namun yang aku tau dari ayat dalam Al-Quran, bahwa Allah telah menciptakan manusia secara berpasang-pasangan, antara laki-laki dan perempuan, maka aku tak pernah heran, jika pada akhirnya secara emosional kita yang perempuan akan merasakan lebih nyaman jika memiliki hubungan dengan lawan jenis kita, ada banyak hal yang tidak bisa diselesaikan dengan perasaan, harus dengan logika, begitu pun logika, suatu saat ia membutuhkan perasaan untuk dapat terus hidup.

Maka… tak heran jika seorang anak perempuan akan begitu mengidolakan ayahnya, karena mungkin hanya ia pria yang dilihat pertama kali saat ia lahir, atau seorang anak laki-laki akan begitu mengidolakan ibunya, karena mungkin hanya ialah wanita pertama yang dilihatnya saat ia menghirup nafas pertama kalinya di bumi.

Aku… merasakan benar bagaimana cintanya Ayah padaku, ayah adalah sosok pria hebat dimataku, Ia yang cerdas, Ia yang bijaksana, Ia yang begitu sabar, yang begitu rajin membantu pekerjaan rumah tangga ibuku, yang mau memijat kaki ibuku saat ibu merasa kelelahan melakukan pekerjaan rumah tangga, ayah juga yang selalu mengantarku ke sekolah, bahkan hingga aku bekerja, tak jarang beliau menungguiku hingga larut malam, mengantarku dan menjemputku hingga sampai dirumah dengan selamat…,  Maka ketika akad itu diucapkan dengan menjabat tanganmu… ia mau tidak mau harus merelakan bidadari kecilnya ini hidup dan menghabiskan umurnya bersama dengan seorang pria yang kelak akan jadi suaminya. Maka… jika Aku menikah kelak… aku pasti ingin suamiku bisa melakukan hal yang sama dengan yang Ayah lakukan kepadaku.

Dan kamu… merasakan benar bagaimana cintanya Ibu padamu, Ibu adalah sosok wanita hebat dimatamu, Ia yang cerdas, Ia yang bijaksana, Ia yang begitu sabar, yang begitu rajin mengerjakan pekerjaan rumah tangga, yang mencuci bajumu setiap hari,  yang menjahitkan kancing pakaianmu, yang memasakan masakan-masakan enak untukmu, Ia yang menyusuimu selama 2 tahun, membawamu dalam rahimmnya selama 9 bulan, dan tak pernah lelah untuk menemanimu bermain hingga kau terlelap tidur…, Maka ketika akad itu diucapkan dengan menjabat tangan ayahku… ia mau tidak mau harus merelakan anak laki-laki kesayangannya ini hidup dan menghabiskan umurnya bersama dengan wanita yang kelak akan jadi istrinya. maka… jika Kau menikah kelak… Kau pasti ingin istrimu bisa melakukan hal yang sama dengan yang Ibu lakukan kepadamu.

Ini tidak akan mudah kawan…

Aku akan belajar menjadi Ibu yang Baik untuk anak-anakku, dan Kau akan belajar menjadi Ayah yang baik untuk anak-anakku…

karena,

Aku bukan Ibumu dan Kau bukan Ayahku…

Bandung, 6 September 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar