“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku
hikmah dan masukanlah aku kedalam golongan orang-orang yang saleh, dan
jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian,
dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mmeusakai surga yang penuh kenikmatan,
dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan
orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka
dibangkitkan” QS Asy Syu’ara ayat 83-87
Siapa yang tidak kenal dengan
Nabi Ibrahim, beliau mendapat gelar “Bapaknya Para Nabi”, beliau adalah orang
yang Istiqomah dalam ketaatan, begitu teguh memegang akidahnya, meski ayahnya
sendiri seorang pembuat patung berhala, ia yang perjalanan hidupnya penuh
dengan ujian, yang tak gentar sedikitpun ketika harus mendapat hukumun dari
Raja Namrudz dibakar hidup-hidup dihadapan banyak orang, demi mempertahanan
akidahnya.
Dan lihatlah doanya diatas,
seorang nabi mulia yang Imannya begitu teguh, yang taat dalam menjalankan
ibadah, masih berdoa agar dimasukan kedalam golongan orang-orang yang sholeh,
sementara kita? Iman yang kadang naik turun, yakin gak yakin sama Allah, ibadah
seadanya, entah khusyu entah tidak, dan sering kali beribadah hanya sekedar
menggugurkan kewajiban, beribadah diwaktu sisa, jarang sekali berdoa agar
dimasukan kedalam golongan orang-orang sholeh, mungkin kita yang tidak pernah
berusaha untuk seperti nabi Ibrahim, sehingga kata sholeh, jauh sekali dalam
hidup kita.
Orang-orang sholeh sepertinya
hanya “predikat” bagi orang-orang yang mempunyai kualitas keimanan dan
ketakwaan sekelas para Nabi dan Rasul, para sahabat, generasi tabiin, dan
ulama-ulama yang tetap berdakwah dijalanNya, padahal sholeh adalah perintah
yang memang sudah Allah terangkan dengan sangat jelas di Al Quran, sholeh
adalah bentuk kata sifat bagi manusia-manusia yang taat dan patuh kepada Allah
mengikuti segala aturan yang sudah di syariatkan kepadanya.
Sayangnya banyak orang yang jadi
salah memahami ini, termasuk saya..., apalagi ketika ditanya tentang kriteria
pasangan hidup, jawaban saya yang utama pasti sama, menginginkan laki-laki
sholeh yang baik agamanya. Sholeh yang hanya ada dipersepsi saya, sholeh yang
saya buat sendiri bukan sholeh dihadapan Allah. Harus Sholat fardhu dimesjid,
punya hafalan quran, rajin ibadah sunah, aktif dakwah, berbakti kepada orang
tua, ringan tangan mau bersedakah atau apalah namanya, padahal dimensi “Sholeh”
itu benar-benar luas, bukan sesuatu yang hanya terlihat secara fisik, tidak
selalu ibadah yang berhubungan dengan Allah (habluminallah), tapi juga yang berhubungan dengan orang lain (habluminanas).
Pernah dengar tentang sahabat
Rasul yang “ahli surga”, akhirnya salah seorang sahabat ingin tau dan tinggal
menginap dirumah orang yang kata Rasullulah merupakan ahli surga, ternyata
sahabat kaget, ibadah orang “ahli surga” ini biasa saja, mungkin sama seperti
ibadah-ibadah sahabat lainnya, hingga ia bertanya mengapa Rasullulah menyebutmu
“ahli surga”, orang ini menjawab dengan bahasa yang sederhana
“Yang aku amalkan tidak lebih
dari apa yang engkau saksikan, Hany saja aku tidak pernah menyimpan rasa dengki
kepada mereka atas kebaikan yang diberikan Allah SWT kepada mereka”
Bagi saya kesholehan pribadi
memang hanya milik ia dengan Tuhannya, meski secara fiisk kita yang awam dapat
memberikan label “sholeh” kepada siapa saja hanya dengan melihat akhlak dan
keperibadian orang tersebut, dan belajarlah untuk meneladani kehidupan nabi
Ibrahim, ia yang menurut saya sudah sangat sholeh sekali, masih berdoa kepada
Allah untuk dimasukan kedalam golongan orang-orang yang sholeh. Saya sendiri
rasanya masih jauh untuk dikatakan sholeh/sholehah, tapi teruslah belajar dan
berusaha, dan berdoa, semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang
yang sholeh seperti Nabi Ibrahim, aamiin
Bandung, 26 Mei 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar