Rabu, 25 Mei 2016

Sholeh




“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukanlah aku kedalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mmeusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan” QS Asy Syu’ara ayat 83-87

Siapa yang tidak kenal dengan Nabi Ibrahim, beliau mendapat gelar “Bapaknya Para Nabi”, beliau adalah orang yang Istiqomah dalam ketaatan, begitu teguh memegang akidahnya, meski ayahnya sendiri seorang pembuat patung berhala, ia yang perjalanan hidupnya penuh dengan ujian, yang tak gentar sedikitpun ketika harus mendapat hukumun dari Raja Namrudz dibakar hidup-hidup dihadapan banyak orang, demi mempertahanan akidahnya.

Dan lihatlah doanya diatas, seorang nabi mulia yang Imannya begitu teguh, yang taat dalam menjalankan ibadah, masih berdoa agar dimasukan kedalam golongan orang-orang yang sholeh, sementara kita? Iman yang kadang naik turun, yakin gak yakin sama Allah, ibadah seadanya, entah khusyu entah tidak, dan sering kali beribadah hanya sekedar menggugurkan kewajiban, beribadah diwaktu sisa, jarang sekali berdoa agar dimasukan kedalam golongan orang-orang sholeh, mungkin kita yang tidak pernah berusaha untuk seperti nabi Ibrahim, sehingga kata sholeh, jauh sekali dalam hidup kita.

Orang-orang sholeh sepertinya hanya “predikat” bagi orang-orang yang mempunyai kualitas keimanan dan ketakwaan sekelas para Nabi dan Rasul, para sahabat, generasi tabiin, dan ulama-ulama yang tetap berdakwah dijalanNya, padahal sholeh adalah perintah yang memang sudah Allah terangkan dengan sangat jelas di Al Quran, sholeh adalah bentuk kata sifat bagi manusia-manusia yang taat dan patuh kepada Allah mengikuti segala aturan yang sudah di syariatkan kepadanya.

Sayangnya banyak orang yang jadi salah memahami ini, termasuk saya..., apalagi ketika ditanya tentang kriteria pasangan hidup, jawaban saya yang utama pasti sama, menginginkan laki-laki sholeh yang baik agamanya. Sholeh yang hanya ada dipersepsi saya, sholeh yang saya buat sendiri bukan sholeh dihadapan Allah. Harus Sholat fardhu dimesjid, punya hafalan quran, rajin ibadah sunah, aktif dakwah, berbakti kepada orang tua, ringan tangan mau bersedakah atau apalah namanya, padahal dimensi “Sholeh” itu benar-benar luas, bukan sesuatu yang hanya terlihat secara fisik, tidak selalu ibadah yang berhubungan dengan Allah (habluminallah), tapi juga yang berhubungan dengan orang lain (habluminanas).

Pernah dengar tentang sahabat Rasul yang “ahli surga”, akhirnya salah seorang sahabat ingin tau dan tinggal menginap dirumah orang yang kata Rasullulah merupakan ahli surga, ternyata sahabat kaget, ibadah orang “ahli surga” ini biasa saja, mungkin sama seperti ibadah-ibadah sahabat lainnya, hingga ia bertanya mengapa Rasullulah menyebutmu “ahli surga”, orang ini menjawab dengan bahasa yang sederhana

“Yang aku amalkan tidak lebih dari apa yang engkau saksikan, Hany saja aku tidak pernah menyimpan rasa dengki kepada mereka atas kebaikan yang diberikan Allah SWT kepada mereka”

Bagi saya kesholehan pribadi memang hanya milik ia dengan Tuhannya, meski secara fiisk kita yang awam dapat memberikan label “sholeh” kepada siapa saja hanya dengan melihat akhlak dan keperibadian orang tersebut, dan belajarlah untuk meneladani kehidupan nabi Ibrahim, ia yang menurut saya sudah sangat sholeh sekali, masih berdoa kepada Allah untuk dimasukan kedalam golongan orang-orang yang sholeh. Saya sendiri rasanya masih jauh untuk dikatakan sholeh/sholehah, tapi teruslah belajar dan berusaha, dan berdoa, semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang sholeh seperti Nabi Ibrahim, aamiin

Bandung, 26 Mei 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar