Sabtu, 12 Desember 2020

Kelabu


 “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan kedalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (Ali Imran :185)

Bulan terakhir di tahun 2020, dimana Pandemi Corona belum juga berakhir, tahun yang berat untuk banyak orang didunia, semua pasti merasakan hidup yang sulit, tidak nyaman, dan tidak normal. Peningkatan kasus positif Covid justru semakin bertambah belakangan hari ini, membuat jarak kehidupan dan kematian menjadi semakin tipis, dan kapanpun kematian bisa menghampiri kita. Tapi nyatanya kematian yang terjadi bukan hanya karena kasus Covid, banyak pula yang meninggal karena sakit ataupun kecelakaan. Dan bulan desember ini, saya merasa kehilangan bapak-bapak sholeh baik hati yang merupakan pengurus dkm, orang-orang yang rajin memenuhi shaf-shaf shalat di mesjid Al Istiqomah dekat rumah saya. Bapak-bapak ini wafat karena sakit yang diderita bukan karena Covid 19.

Yang pertama adalah Pak Anwar..., bendahara mesjid, pemegang kunci mesjid. Sebagai mantan remaja mesjid, saya banyak menghabiskan masa muda saya dimesjid, dan pak anwar lah yang sering saya dan teman-teman saya repokan tiap malam minggu, kami selalu meminjam kunci mesjid untuk melaksanakan Ta’Lim REMASIS (Remaja Mesjid Al Isqtioqamah). Setiap Ramadhan pula, pak anwar yang rajin memasak air untuk minum orang-orang yang berbuka, pak anwar usianya memang sudah sepuh, tapi sangat amanah, beliaulah orang yang sering saya repotkan setiap kali ada acara Remasis dimesjid, beliau wafat karena sakit, walau tak semat dirawat lama di Rumah Sakit, saya kurang tau pak anwar sakit apa, tapi memang beberapa kali sempat masuk rumah sakit, terima kasih ya pak, maaf banyak direpotkan oleh saya dan remasis selama ini.

Yang kedua adalah Pak Handi, beliau adalah bendahara Yayasan, beliau juga aktif di dkm Al Istiqomah, beberapa tahun lalu, beliaulah yang banyak saya repotkan dalam mengurus administrasi Madrasah, beberapa kali berinteraksi dengan beliau, dan beliau sangat baik. Beliau juga ayah dari salah satu adik saya di Remasis, beliau memang sudah tua juga, mungkin umurnya sekitar 60an seperti bapak, beliau menderita penyakit paru-paru kalau tidak salah, dan meninggal beberapa hari setelah kepergian pak Anwar, terima kasih banyak ya pak, sudah banyak saya repotkan, semoga segala kebaikan bapak dibalas oleh Allah dengan balasan yang terbaik, aamiin.

Yang ketiga adalah Pak Agus Halimi, beliau adalah Guru saya, Guru kami semua anak-anak Remasis, beliaulah yang selalu menjadi Imam saat tarawih, mengisi pengajian bapak-bapak, mengisi pengajian ibu-ibu, dan sempat juga mengisi pengajian anak-anak remaja. Beliau pula yang selalu kami mintain tolong untuk menjadi penceramah Tarawih maupun Kuliah Shubuh saat Ramadhan. Sayangnya tahun ini ketika Corona tidak ada kegiatan sholat Tarawih dimesjid, tahun ini saya tidak bisa mendengarkan tausyiahnya. Jujur beliau sangat baik dalam menyampaikan tausyiah, bahasanya sederhana namun mengena dihati. Dan salah satu tausyiah yang seringkali membuat air mata saya jatuh adalah tentang “Birruwalidain” (Berbakti Kepada Orang tua), beliau menceritakan kisah Jurais, salah seorang sahabat Rasul yang sulit meninggal karena kesalahannya pada ibunya. Beliau wafat kemarin shubuh di hari Jumat kaaren sakit lambung juga jantung. Terima kasih pak atas segala ilmu yang bapak berikan pada saya dan adik-adik saya di Remasis, semoga kami bisa tetap Istiqomah memakmurkan mesjid Al Istiqomah, dan melanjutkan dakwah bapak dimesjid, semoga Allah menempatkan bapak ditempat yang terbaik, aamiin.

 

Bandung, 12 Desember 2020

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar