“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan kedalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (Ali Imran :185)
Bulan terakhir
di tahun 2020, dimana Pandemi Corona belum juga berakhir, tahun yang berat untuk
banyak orang didunia, semua pasti merasakan hidup yang sulit, tidak nyaman, dan
tidak normal. Peningkatan kasus positif Covid justru semakin bertambah
belakangan hari ini, membuat jarak kehidupan dan kematian menjadi semakin
tipis, dan kapanpun kematian bisa menghampiri kita. Tapi nyatanya kematian yang
terjadi bukan hanya karena kasus Covid, banyak pula yang meninggal karena sakit
ataupun kecelakaan. Dan bulan desember ini, saya merasa kehilangan bapak-bapak
sholeh baik hati yang merupakan pengurus dkm, orang-orang yang rajin memenuhi
shaf-shaf shalat di mesjid Al Istiqomah dekat rumah saya. Bapak-bapak ini wafat
karena sakit yang diderita bukan karena Covid 19.
Yang pertama
adalah Pak Anwar..., bendahara mesjid, pemegang kunci mesjid. Sebagai mantan
remaja mesjid, saya banyak menghabiskan masa muda saya dimesjid, dan pak anwar
lah yang sering saya dan teman-teman saya repokan tiap malam minggu, kami selalu
meminjam kunci mesjid untuk melaksanakan Ta’Lim REMASIS (Remaja Mesjid Al
Isqtioqamah). Setiap Ramadhan pula, pak anwar yang rajin memasak air untuk
minum orang-orang yang berbuka, pak anwar usianya memang sudah sepuh, tapi
sangat amanah, beliaulah orang yang sering saya repotkan setiap kali ada acara
Remasis dimesjid, beliau wafat karena sakit, walau tak semat dirawat lama di
Rumah Sakit, saya kurang tau pak anwar sakit apa, tapi memang beberapa kali
sempat masuk rumah sakit, terima kasih ya pak, maaf banyak direpotkan oleh saya
dan remasis selama ini.
Yang kedua
adalah Pak Handi, beliau adalah bendahara Yayasan, beliau juga aktif di dkm Al
Istiqomah, beberapa tahun lalu, beliaulah yang banyak saya repotkan dalam mengurus
administrasi Madrasah, beberapa kali berinteraksi dengan beliau, dan beliau
sangat baik. Beliau juga ayah dari salah satu adik saya di Remasis, beliau
memang sudah tua juga, mungkin umurnya sekitar 60an seperti bapak, beliau
menderita penyakit paru-paru kalau tidak salah, dan meninggal beberapa hari
setelah kepergian pak Anwar, terima kasih banyak ya pak, sudah banyak saya
repotkan, semoga segala kebaikan bapak dibalas oleh Allah dengan balasan yang
terbaik, aamiin.
Yang ketiga
adalah Pak Agus Halimi, beliau adalah Guru saya, Guru kami semua anak-anak
Remasis, beliaulah yang selalu menjadi Imam saat tarawih, mengisi pengajian
bapak-bapak, mengisi pengajian ibu-ibu, dan sempat juga mengisi pengajian
anak-anak remaja. Beliau pula yang selalu kami mintain tolong untuk menjadi
penceramah Tarawih maupun Kuliah Shubuh saat Ramadhan. Sayangnya tahun ini
ketika Corona tidak ada kegiatan sholat Tarawih dimesjid, tahun ini saya tidak
bisa mendengarkan tausyiahnya. Jujur beliau sangat baik dalam menyampaikan
tausyiah, bahasanya sederhana namun mengena dihati. Dan salah satu tausyiah
yang seringkali membuat air mata saya jatuh adalah tentang “Birruwalidain”
(Berbakti Kepada Orang tua), beliau menceritakan kisah Jurais, salah seorang
sahabat Rasul yang sulit meninggal karena kesalahannya pada ibunya. Beliau wafat
kemarin shubuh di hari Jumat kaaren sakit lambung juga jantung. Terima kasih
pak atas segala ilmu yang bapak berikan pada saya dan adik-adik saya di
Remasis, semoga kami bisa tetap Istiqomah memakmurkan mesjid Al Istiqomah, dan
melanjutkan dakwah bapak dimesjid, semoga Allah menempatkan bapak ditempat yang
terbaik, aamiin.
Bandung, 12
Desember 2020

Tidak ada komentar:
Posting Komentar