Senin, 12 Agustus 2019

Rumah Tangga


“Rumah tangga semestinya dibangun dengan pondasi pemahaman yang baik.
Bahwa didalamnya kita memiliki komitmen untuk menjadi sebaik-baik teman belajar, teman berjuang, teman diskusi, teman bercita-cita, teman bahagia, teman dalam suka dan duka.
Kita tak perlu punya harapan apapun kecuali keinginan untuk mendukungnya, membahagiakannya. Mendampinginya dalam proses bertumbuh dan belajarnya.
Jika itu yang dimiliki, saya yakin ketika ada kesalahan yang dilakukannya, saat mungkin ada satu dua hal yang membuat kita gak berkesan, hati akan berkata “ Gak apa-apa, dia masih belajar” Jangan bosan untuk menuntunnya, jangan lelah untuk mempercayainya...
Rumah tangga akan serasa surga sebelum surga ketika kita tak menuntut apapun, kecuali menuntut diri agar tutur dan tingkah laku kita bisa jadi sebab bahagianya.
Rumah tangga akan benar-benar jadi surga sebelum surga, jika kita memahaminya, jika kita melaksanakannya”  - Quraners

Salah satu hal yang paling sulit dalam hidup saya adalah ketika memutuskan untuk menikah. Saya sangat menjunjung tinggi lembaga yang disebut “pernikahan”, bahkan karena banyak rasa takut dan pertimbangan saya menikah jauh diatas umur ideal perempuan untuk menikah. Entahlah, saya beberapa kali melakukan proses taaruf tapi banyak sekali hal yang menjadi pertimbangan, hingga mungkin saya banyak melewatkan pria baik yang berniat baik pada saya. Bagi saya pernikahan adalah sesuatu yang sangat berharga, yang ingin saya lakukan sekali seumur hidup.

Mungkin orang bilang saya terlalu pemilih, tapi secara jujur saya jelaskan, tidak mungkin saya tidak memilih untuk seseorang yang akan menjadi Imam dan menjadi ayah dari anak-anak saya, saya pasti memilih seseorang yang secara keilmuaan agama jauh dari saya, saya perlu dibimbing dan diajarkan banyak hal tentang kehidupan dari seorang laki-laki yang bernama “suami”, saya ingin dapat tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik darinya.\

Saya belajar banyak dari kehidupan pernikahan bapak dan ibu, meski perjalanan pernikahan mereka tak jarang ditemui banyak ujian dan cobaan, tapi saya sangat menghargai, bagaimana kesetiaan bapak dan ibu menjaga keutuhan pernikahan, hingga kami bisa tumbuh menjadi anak-anak yang baik dan berpendidikan hingga sekarang. Entahlah, dibalik perbedaan yang ada diantara mereka berdua, saya merasakan rasa sayang dan cinta yang dalam dari ibu dan bapak, apalagi setelah ibu sakit dan menderita stroke ringan, semua pekerjaan rumah tangga dilakukan oleh bapak, dan bapak juga yang setia merawat ibu, mengantar ibu kerumah sakit untuk berobat dan terapi.

Saya menyadari sebagai seorang perempuan, dan sebagai seorang istri, saya masih jauh dari kata “baik” masih jauh dari kata “sempurna” tapi saya berusaha keras menjalankan amanah saya sebagai seorang istri, semoga perjalanan waktu dapat membuat saya menjadi perempuan yang kuat, baik saat bersama suami maupun kelak saat tak ada lagi suami disamping saya, saya hanya ingin menunjukkan pada anak-anak saya kelak, jika ibunya ini adalah perempuan yang sangat menyayangi dan mencintai ayahnya sepenuh hati.

Bandung, 13 Agustus 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar