Bahwa didalamnya kita memiliki
komitmen untuk menjadi sebaik-baik teman belajar, teman berjuang, teman
diskusi, teman bercita-cita, teman bahagia, teman dalam suka dan duka.
Kita tak perlu punya harapan
apapun kecuali keinginan untuk mendukungnya, membahagiakannya. Mendampinginya
dalam proses bertumbuh dan belajarnya.
Jika itu yang dimiliki, saya
yakin ketika ada kesalahan yang dilakukannya, saat mungkin ada satu dua hal
yang membuat kita gak berkesan, hati akan berkata “ Gak apa-apa, dia masih
belajar” Jangan bosan untuk menuntunnya, jangan lelah untuk mempercayainya...
Rumah tangga akan serasa surga
sebelum surga ketika kita tak menuntut apapun, kecuali menuntut diri agar tutur
dan tingkah laku kita bisa jadi sebab bahagianya.
Rumah tangga akan benar-benar
jadi surga sebelum surga, jika kita memahaminya, jika kita melaksanakannya” - Quraners
Salah satu hal yang paling sulit
dalam hidup saya adalah ketika memutuskan untuk menikah. Saya sangat menjunjung
tinggi lembaga yang disebut “pernikahan”, bahkan karena banyak rasa takut dan
pertimbangan saya menikah jauh diatas umur ideal perempuan untuk menikah.
Entahlah, saya beberapa kali melakukan proses taaruf tapi banyak sekali hal
yang menjadi pertimbangan, hingga mungkin saya banyak melewatkan pria baik yang
berniat baik pada saya. Bagi saya pernikahan adalah sesuatu yang sangat
berharga, yang ingin saya lakukan sekali seumur hidup.
Mungkin orang bilang saya terlalu
pemilih, tapi secara jujur saya jelaskan, tidak mungkin saya tidak memilih
untuk seseorang yang akan menjadi Imam dan menjadi ayah dari anak-anak saya,
saya pasti memilih seseorang yang secara keilmuaan agama jauh dari saya, saya
perlu dibimbing dan diajarkan banyak hal tentang kehidupan dari seorang
laki-laki yang bernama “suami”, saya ingin dapat tumbuh dan berkembang menjadi
pribadi yang lebih baik darinya.\
Saya belajar banyak dari
kehidupan pernikahan bapak dan ibu, meski perjalanan pernikahan mereka tak
jarang ditemui banyak ujian dan cobaan, tapi saya sangat menghargai, bagaimana
kesetiaan bapak dan ibu menjaga keutuhan pernikahan, hingga kami bisa tumbuh
menjadi anak-anak yang baik dan berpendidikan hingga sekarang. Entahlah,
dibalik perbedaan yang ada diantara mereka berdua, saya merasakan rasa sayang
dan cinta yang dalam dari ibu dan bapak, apalagi setelah ibu sakit dan
menderita stroke ringan, semua pekerjaan rumah tangga dilakukan oleh bapak, dan
bapak juga yang setia merawat ibu, mengantar ibu kerumah sakit untuk berobat
dan terapi.
Saya menyadari sebagai seorang
perempuan, dan sebagai seorang istri, saya masih jauh dari kata “baik” masih
jauh dari kata “sempurna” tapi saya berusaha keras menjalankan amanah saya
sebagai seorang istri, semoga perjalanan waktu dapat membuat saya menjadi
perempuan yang kuat, baik saat bersama suami maupun kelak saat tak ada lagi
suami disamping saya, saya hanya ingin menunjukkan pada anak-anak saya kelak,
jika ibunya ini adalah perempuan yang sangat menyayangi dan mencintai ayahnya
sepenuh hati.
Bandung, 13 Agustus 2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar