“Nak, hati ibu tak luas, tak juga
punya ornamen Indah
Tetapi, Nak, disana teduh, disana
semegah-megahnya rumah ibadah"
Anonim
Sejak akhir 2017, Ibu sakit dan
terkena gejala strooke, saya sudah sangat takut kehilangan ibu, ibu yang pada
saat itu benar-benar drop kesehatannya, alhamdullilah saat ini sudah
berangsur-angsur sehat, meski tangan kanan ibu tidak lagi berfungsi normal. Dan
semenjak kejadian jatuhnya ibu dikamar mandi, saya dan bapaklah yang pada
akhirnya menghandle seluruh pekerjaan rumah tangga dirumah, mulai dari menyapu,
mengepel, mencuci, menjemur, memasak, apapun dikerjakan berdua oleh bapak dan
saya. Setiap hari bapak yang memasak, dan saya mulai terbiasa menyiapkan
sarapan pagi sendiri jika memang bapak tidak sempat memasak kemarinnya. Jika hari
libur sabtu dan minggu, tentu saya yang memasak. Selesai memasak, saya dan bapak juga yang bergantian menyiapkan makan ibu, obat ibu, dan membantu untuk
menyuapi ibu setiap kali makan.
Setiap sholat saya sering kali
membantu ibu menggunakan mukena, karena ibu tak lagi bisa berdiri tegak saat
melaksakan sholat, pernah suatu waktu ibu berkata pada saya “dede gak bosen
makein mukena ibu?” aaah... sejujurnya hati kecil saya melelah, saya selalu
berusaha menahan air mata saya jika sedang berusaha mengurus Ibu, jangan sampai
ibu sedih, biarlah segala kesedihan itu tersimpan dalam hati kecil saya saja.
Jujur... sebenernya saya malas sekali menulis dan menceritakan hal-hal sedih
yang saya alami, tapi bagaimanapun juga saya butuh untuk bercerita dan
menumpahkan segala kekhawatiran dan kesedihan saya selama ini.
Hingga suatu waktu paman saya
yang datang ke bandung untuk menjenguk ibu, melihat bagaimana kondisi ibu
sekarang, menyedihkan memang, tapi bagaimanapun saya dan keluarga harus terus
mendukung ibu untuk terus berusaha agar sembuh. Menyemangati ibu agar tidak
letih terapi dan kontrol setiap minggu pada dokter syaraf maupun dokter
penyakit dalam, paman tidak lama menginap dirumah karena beliaupun harus
berdagang di Madiun. Dan ketika pamit, paman saya berpesan pada saya “ De.. aku
titip ibu yah... jangan dimarahin, kalau kamu dimarahin sama ibu, kamu diam
aja, jangan membalas” aah... beliau meneteskan air mata, dan saya pun tidak kuat
menahan air mata saya, saya peluk paman, saya yakinkan beliau bahwa
semuanya akan baik-baik saja, tanpa diminta, saya sudah berkewajiban untuk
menjaga dan mengurus Ibu.
Salah satu kesyukuran yang
mungkin kadang menjadi kesedihan bagi saya adalah kenyataan bahwa hingga kini
saya belum dikaruniai anak oleh Allah, sesuatu yang sudah lama saya tunggu,
tapi tak kunjung Allah berikan, mungkin Allah ingin saya yang mengurus orang
tua saya, ibu dan bapak, mungkin inilah pintu surga saya, yang ada ditempat
terdekat, Rumah. Semoga suatu saat, Allah mengaruniai saya anak, pada saat saya
benar-benar siap, diwaktu yang tepat dengan orang yang tepat, aamiin.
Bandung, 21 Agustus 2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar