Selasa, 20 Agustus 2019

Ibu


“Nak, hati ibu tak luas, tak juga punya ornamen Indah
Tetapi, Nak, disana teduh, disana semegah-megahnya rumah ibadah"
Anonim
Secara proporsi wanita normal Indonesia, mungkin tinggi badan saya, kurang dari tinggi ideal, begitupula dengan berat badan, berat badan saya mungkin diatas normal yang seharusnya, ada saja yang bilang saya gendut, tapi terserahlah... mau dibilang gendut atau apa, yang jelas beberapa murid bilang saya “kecil” mungkin karena saya tidak tinggi. Saya berharap meski tubuh saya kecil, mudah-mudahan, Iman dan keyakinan saya pada Allah tidak kecil. Saya berusaha berlapang dada menerima setiap takdir yang Allah gariskan dalam hidup saya.

Sejak akhir 2017, Ibu sakit dan terkena gejala strooke, saya sudah sangat takut kehilangan ibu, ibu yang pada saat itu benar-benar drop kesehatannya, alhamdullilah saat ini sudah berangsur-angsur sehat, meski tangan kanan ibu tidak lagi berfungsi normal. Dan semenjak kejadian jatuhnya ibu dikamar mandi, saya dan bapaklah yang pada akhirnya menghandle seluruh pekerjaan rumah tangga dirumah, mulai dari menyapu, mengepel, mencuci, menjemur, memasak, apapun dikerjakan berdua oleh bapak dan saya. Setiap hari bapak yang memasak, dan saya mulai terbiasa menyiapkan sarapan pagi sendiri jika memang bapak tidak sempat memasak kemarinnya. Jika hari libur sabtu dan minggu, tentu saya yang memasak. Selesai memasak, saya dan bapak juga yang bergantian menyiapkan makan ibu, obat ibu, dan membantu untuk menyuapi ibu setiap kali makan.

Setiap sholat saya sering kali membantu ibu menggunakan mukena, karena ibu tak lagi bisa berdiri tegak saat melaksakan sholat, pernah suatu waktu ibu berkata pada saya “dede gak bosen makein mukena ibu?” aaah... sejujurnya hati kecil saya melelah, saya selalu berusaha menahan air mata saya jika sedang berusaha mengurus Ibu, jangan sampai ibu sedih, biarlah segala kesedihan itu tersimpan dalam hati kecil saya saja. Jujur... sebenernya saya malas sekali menulis dan menceritakan hal-hal sedih yang saya alami, tapi bagaimanapun juga saya butuh untuk bercerita dan menumpahkan segala kekhawatiran dan kesedihan saya selama ini.

Hingga suatu waktu paman saya yang datang ke bandung untuk menjenguk ibu, melihat bagaimana kondisi ibu sekarang, menyedihkan memang, tapi bagaimanapun saya dan keluarga harus terus mendukung ibu untuk terus berusaha agar sembuh. Menyemangati ibu agar tidak letih terapi dan kontrol setiap minggu pada dokter syaraf maupun dokter penyakit dalam, paman tidak lama menginap dirumah karena beliaupun harus berdagang di Madiun. Dan ketika pamit, paman saya berpesan pada saya “ De.. aku titip ibu yah... jangan dimarahin, kalau kamu dimarahin sama ibu, kamu diam aja, jangan membalas” aah... beliau meneteskan air mata, dan saya pun tidak kuat menahan air mata saya, saya peluk paman, saya yakinkan beliau bahwa semuanya akan baik-baik saja, tanpa diminta, saya sudah berkewajiban untuk menjaga dan mengurus Ibu.

Salah satu kesyukuran yang mungkin kadang menjadi kesedihan bagi saya adalah kenyataan bahwa hingga kini saya belum dikaruniai anak oleh Allah, sesuatu yang sudah lama saya tunggu, tapi tak kunjung Allah berikan, mungkin Allah ingin saya yang mengurus orang tua saya, ibu dan bapak, mungkin inilah pintu surga saya, yang ada ditempat terdekat, Rumah. Semoga suatu saat, Allah mengaruniai saya anak, pada saat saya benar-benar siap, diwaktu yang tepat dengan orang yang tepat, aamiin.

Bandung, 21 Agustus 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar