“Saya murid yang baik kan bu?”
aamiin
Bahkan anak yang paling “baik”
sekalipun masih ingin diakui sebagai anak baik. Entahlah, saya tidak pernah
melihat seorang anak sebagai anak “nakal”, bagi saya anak-anak yang bermasalah
adalah anak-anak yang kurang kasih sayang dan butuh perhatian, seperti Teori
John Locke tentang Tabula Rasa, anak-anak itu seperti kertas kosong, saya
percaya sejatinya anak-anak memiliki hati yang bersih, yang jika diarahkan dan
didik dengan ketaatan dan ketakwaan ia akan tumbuh menjadi pribadi semulia
Ismail atau Maryam. Sebagai anak
pendidikan, yang mendapatkan mata kuliah psikologi pendidikan dan psikologi
peserta didik, saya berusaha memahami murid-murid saya disekolah. Berusaha
mentolerir ketidak patuhan mereka terhadap aturan, dan perkataan-perkataan
buruk yang seharusnya tidak mereka ucapkan.
Dan mungkin suatu rizky ketika
kita diberi amanah murid yang “baik”, yang mungkin karenanya, kesabaran kita
bertambah besar, dan ketakwaan kita meningkat karena kita menjadi pribadi yang
harus mampu menahan marah, lapang dada, dan mau memaafkan. Haha... itulah yang
saya rasakan saat ini, rasanya menjadi
guru tidaklah semudah yang dibayangkan. Saya harus bisa menaklukan hati mereka dengan
kesabaran, bukankah Rasullulah mengajarkan para sahabat dengan penuh kesabaran
dan kasih sayang?
Terkisah satu murid yang paling
“baik” dikelas, yang sering telat datang ke sekolah, sering tidur dikelas,
sering keluar kelas tanpa kembali,sering memakai seragam yang salah, dan tak
pernah memakai atribut sekolah secara lengkap, akademiknya? haha bisa
dibayangkan bagaimana... bahkan ketika UTS lembar jawaban essaynya pun putih
bersih, hanya ada tulisan namanya saja. Sampai saya sendiri bingung, apa yang
ia lakukan dirumah, jika tiap pelajaran saya dia tidur dikelas. Bahkan pulpen
saja untuk menulis dia sering tidak punya dan harus meminjam pulpen milik saya,
gurunya.
Saya selalu percaya anak ini
adalah anak yang baik, yang punya potensi untuk jadi orang yang baik dan sukses
dikemudian hari, meski mungkin melihatnya sekarang “kacau dan berantakan”,
bagaimanapun saya selalu menolerir setiap kesalahannya, hingga satu waktu saya
benar-benar kesal, karena ia absen (mabal) pelajaran saya, dia yang izin keluar
sebentar, nyatanya sampai pelajaran saya berakhir tidak juga kembali, sementara
saya tidak mungkin meninggalkan kelas hanya untuk mencari satu orang.
Besoknya saya benar-benar kesal,
dan saya acuhkan anak itu. Saya tidak mau bicara dan tidak mau menanggapi
salamnya, hingga mungkin dia pun merasakan hal yang sama (kesal sama saya),
perang dingin terjadi beberapa hari, hingga satu waktu, saya yang tidak tahan
dan memanggil anak itu
“maunya gimana?”
“iya bu saya mengaku salah, saya
minta maaf”
saya terus saja
mengungkit-ngungkit kesalahan dia panjang lebar
“Kamu gak bisa masuk ke Lab
karena gak punya Jas Lab, ibu yang cariin, kamu gak bisa masuk pelajaran
Biologi, karena gada catetan biologi, ibu yang bantu pinjemin buku catatan
biologi ketemen kamu yang rajin, kamu gada pulpen, ibu pinjemin pulpen”
“iya ibuuuuu, kan tadi saya udah
minta maaf, saya gakan mabal lagi pelajaran Ibu”
Iya tapi kan kamu salah...
*&^%$#*@*^*^#%^$&*@*^@%#*#^....
“IYA BU SAYA JANJI GAKAN
NGULANGIN LAGI”
“Kalau kamu ngulangin lagi mau
gimana? (saya kembali bertanya)
“IYA SAYA JANJI LAGI SAMA IBUUUU”
(dia tertawa dengan bahagia)
saya tidak bisa menahan tawa
antara kesal ingin marah, tapi merasa itu lucu, anak ini benar-benar
menyebalkan. tapi akhirnya perang dingin kami selesai, semuanya cair, dia
kembali menyapa saya setiap kali bertemu. Namun ada saja masalah yang dibuat
anak ini, hingga hampir-hampir tidak naik kelas karena melakukan banyak
pelanggaran. Entahlah harus bagaimana mengambil hatinya agar dia mau berubah,
saya sebagai guru hanya bisa mendoakan agar anak ini bisa dapat hidayah dari
Allah, dan jadi anak yang baik. Dua tahun terakhir ini saya mengajar anak ini,
dan dikelas 12, saya tidak ada ada jam dikelasnya, mudah-mudahan dia mau
berubah dan memperbaiki diri. Semoga saat wisuda kelak tahun depan, saya bisa
melihat dia lulus dari sekolah, aamiin
Bandung, 14 Agustus 2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar