Rabu, 14 Agustus 2019

Murid Baik


“Saya murid yang baik kan bu?”
aamiin

Bahkan anak yang paling “baik” sekalipun masih ingin diakui sebagai anak baik. Entahlah, saya tidak pernah melihat seorang anak sebagai anak “nakal”, bagi saya anak-anak yang bermasalah adalah anak-anak yang kurang kasih sayang dan butuh perhatian, seperti Teori John Locke tentang Tabula Rasa, anak-anak itu seperti kertas kosong, saya percaya sejatinya anak-anak memiliki hati yang bersih, yang jika diarahkan dan didik dengan ketaatan dan ketakwaan ia akan tumbuh menjadi pribadi semulia Ismail atau Maryam.  Sebagai anak pendidikan, yang mendapatkan mata kuliah psikologi pendidikan dan psikologi peserta didik, saya berusaha memahami murid-murid saya disekolah. Berusaha mentolerir ketidak patuhan mereka terhadap aturan, dan perkataan-perkataan buruk yang seharusnya tidak mereka ucapkan.

Dan mungkin suatu rizky ketika kita diberi amanah murid yang “baik”, yang mungkin karenanya, kesabaran kita bertambah besar, dan ketakwaan kita meningkat karena kita menjadi pribadi yang harus mampu menahan marah, lapang dada, dan mau memaafkan. Haha... itulah yang saya rasakan saat ini,  rasanya menjadi guru tidaklah semudah yang dibayangkan.  Saya harus bisa menaklukan hati mereka dengan kesabaran, bukankah Rasullulah mengajarkan para sahabat dengan penuh kesabaran dan kasih sayang?

Terkisah satu murid yang paling “baik” dikelas, yang sering telat datang ke sekolah, sering tidur dikelas, sering keluar kelas tanpa kembali,sering memakai seragam yang salah, dan tak pernah memakai atribut sekolah secara lengkap, akademiknya? haha bisa dibayangkan bagaimana... bahkan ketika UTS lembar jawaban essaynya pun putih bersih, hanya ada tulisan namanya saja. Sampai saya sendiri bingung, apa yang ia lakukan dirumah, jika tiap pelajaran saya dia tidur dikelas. Bahkan pulpen saja untuk menulis dia sering tidak punya dan harus meminjam pulpen milik saya, gurunya.

Saya selalu percaya anak ini adalah anak yang baik, yang punya potensi untuk jadi orang yang baik dan sukses dikemudian hari, meski mungkin melihatnya sekarang “kacau dan berantakan”, bagaimanapun saya selalu menolerir setiap kesalahannya, hingga satu waktu saya benar-benar kesal, karena ia absen (mabal) pelajaran saya, dia yang izin keluar sebentar, nyatanya sampai pelajaran saya berakhir tidak juga kembali, sementara saya tidak mungkin meninggalkan kelas hanya untuk mencari satu orang.

Besoknya saya benar-benar kesal, dan saya acuhkan anak itu. Saya tidak mau bicara dan tidak mau menanggapi salamnya, hingga mungkin dia pun merasakan hal yang sama (kesal sama saya), perang dingin terjadi beberapa hari, hingga satu waktu, saya yang tidak tahan dan memanggil anak itu

“maunya gimana?”

“iya bu saya mengaku salah, saya minta maaf”

saya terus saja mengungkit-ngungkit kesalahan dia panjang lebar

“Kamu gak bisa masuk ke Lab karena gak punya Jas Lab, ibu yang cariin, kamu gak bisa masuk pelajaran Biologi, karena gada catetan biologi, ibu yang bantu pinjemin buku catatan biologi ketemen kamu yang rajin, kamu gada pulpen, ibu pinjemin pulpen”

“iya ibuuuuu, kan tadi saya udah minta maaf, saya gakan mabal lagi pelajaran Ibu”

Iya tapi kan kamu salah... *&^%$#*@*^*^#%^$&*@*^@%#*#^....

“IYA BU SAYA JANJI GAKAN NGULANGIN LAGI”

“Kalau kamu ngulangin lagi mau gimana? (saya kembali bertanya)

“IYA SAYA JANJI LAGI SAMA IBUUUU”
(dia tertawa dengan bahagia)

saya tidak bisa menahan tawa antara kesal ingin marah, tapi merasa itu lucu, anak ini benar-benar menyebalkan. tapi akhirnya perang dingin kami selesai, semuanya cair, dia kembali menyapa saya setiap kali bertemu. Namun ada saja masalah yang dibuat anak ini, hingga hampir-hampir tidak naik kelas karena melakukan banyak pelanggaran. Entahlah harus bagaimana mengambil hatinya agar dia mau berubah, saya sebagai guru hanya bisa mendoakan agar anak ini bisa dapat hidayah dari Allah, dan jadi anak yang baik. Dua tahun terakhir ini saya mengajar anak ini, dan dikelas 12, saya tidak ada ada jam dikelasnya, mudah-mudahan dia mau berubah dan memperbaiki diri. Semoga saat wisuda kelak tahun depan, saya bisa melihat dia lulus dari sekolah, aamiin

Bandung, 14 Agustus 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar