Petuah Ayah
Nak hati ibu tak luas,
tak juga punya ornamen indah
Tetapi, Nak, disana teduh, disana
semegah-mehanya rumah ibadah.
(anonim)
Salah satu kebahagiaan terbesar
bagi seorang perempuan dewasa adalah fase menjadi Istri dan mejadi Ibu, sebuah
fase yang konon sangat diharapkan oleh setiap wanita, fase yang bisa menjawab
semua pertanyaan netijen juga mertua, ketika kita memberikan kabar gembira
bahwa kita hamil. Sayangnya mungkin saya belum merasakan hal itu, Allah masih
ingin lihat saya jadi wanita yang kuat dan sabar hingga dititik ini. Saya
sempat berfikir kelak kalau saya punya anak, saya ingin sekali dipanggil Bunda
atau Ibu. Tapi nyatanya belum waktunya.
Entahlah... saya sudah melewati
waktu panjang untuk memohon dan berharap kepada Allah agar saya hamil, saya
masih ingat 2 tahun lalu saya begitu maksa sama Allah untuk hamil, hampir
setiap malam saya tahajud, berdoa, dan meminta kepada Allah agar saya bisa
hamil tapi nyatanya Allah tidak berkehendak saat itu. Hingga akhirnya saya jadi
susah lagi buat tahajud sampai sekarang, saya gak marah sama Allah, tapi
rasanya saya sudah lelah saja, sudah pada titik terserah Allah saja, mau
dikasih anak atau enggak juga terserah.
Saya benar-benar mengalami
traumatis yang panjang tentang banyak hal, ingin rasanya hilang ingatan, atau
dihapus saja sebagain ingatan buruk saya tentang masa lalu saya beberapa tahun
kebelakang, syukurnya ditahun ini Allah kasih amanah saya untuk jadi wali
kelas, saya punya 21 orang putri disekolah, yang setiap hari memanggil saya
“Ibu”... hahaha, saya yang belakang sudah merasa masa bodoh, mau tidak mau
harus belajar menjadi seorang Ibu yang baik, dan punya anak dengan 21 karakter
yang berbeda, dari yang diam, pemalu, dan penurut, sampai yang cerewet, cuek,
nyolot, dna susah diberi nasehat, bebal.
Hingga saya berfikir betapa
sulitnya menjadi seorang ibu. Namun diperjalan saya menemukan hal yang selama
ini mungkin Ibu rasakan. Seorang Ibu harus mempunya hati yang lapang, mau
memaafkan kesalahan anaknya, meski anaknya tidak meminta maaf sama sekali
karena perbuatan atau ucapannya yang menyakiti hati. Itulah yang saya rasakan,
saya memaafkan mereka yang ucapan dan sikapnya menyakiti hati saya, meskipun
mereka tidak meminta maaf sama sekali.
Yang kedua, kita mungkin akan
berdoa agar kelak dikaruniai anak-anak yang Qurrotayyun, penyejuk mata, namun
tak sedikit orang tua yang anaknya menjadi ujian, atau lebih buruk dari itu,
jadi musuh. Saya belajar merasakan menjadi orang tua saat saya harus mengasuh
21 anak, yang ternyata tidak semuannya baik, dan tidak semuanya suka dengan
saya. Saya mungkin sudah berusaha sebaik mungkin tapi kenyataanya, meski saya
sudah berusaha adil dan berlaku baik, ada saja anak-anak yang sikapnya jauh
dari kata baik, saya yang lebih memilih menghindari anak-anak itu, karena saya
ingin menjaga hati saya agar tidak emosi, dan tidak marah menghadapi sikap
mereka yang sering seenaknya sendiri, dan tidak peduli sama kondisi sekitar.
Yang ketiga, sekeras apapun kamu
berusaha, anak merupakan amanah yang Allah titipkan kepada kita, tugas kita
adalah mendidik mereka menjadi orang yang bertakwa, bermanfaat tidak hanya
untuk keluarga, tapi juga bermanfaat bagi umat, dan menjadi penyambung risalah
Rasul dimuka bumi, inilah yang paling berat, maka bekal menjadi orang tua, jauh
harus disiapkan sebelum anaknya lahir, sebelum menikah, dna menjadi ayah dan ibu,
kita harus membekali diri kita tentang ilmu mendidik anak, ini tentu tidak ada
sekolahnya, meski sekarang banyak sekali kelas-kelas parenting dan seminar
tentang bagaimana mendidik anak.
Karena sejatinya tidak ada anak
yang bodoh, tidak ada anak yang nakal, dan tidak ada anak yang gagal, karena
kesalahan anak saat ini bisa jadi imbas dari kesalahan orang tua dalam mendidik
anak. Kita mungkin bisa mentolerir kesalahan anak kita sendiri, jika memang
sikapnya ternyata memberikan masalah kepada kita orang tuanya, yang lebih
ditakutkan adalah ketika anak kita justru jadi masalah untuk orang lain,
terlebih membuat susah hidup orang lain.
Saya hanya berdoa, semoga kelak
saya bisa menjadi Ibu yang baik untuk anak-anak saya kelak, mudah-mudahan Allah
kasih saya umur dan kesempatan untuk dapat mendidik dan membesarkan mereka
dengan penuh keteladanan seperti Lukman Al Hakim, aamin
Bandung, 28 Maret 2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar