Kamis, 28 Maret 2019

Menjadi Ibu


Petuah Ayah
Nak hati ibu tak luas,
tak juga punya ornamen indah
Tetapi, Nak, disana teduh, disana
semegah-mehanya rumah ibadah.
(anonim)

Salah satu kebahagiaan terbesar bagi seorang perempuan dewasa adalah fase menjadi Istri dan mejadi Ibu, sebuah fase yang konon sangat diharapkan oleh setiap wanita, fase yang bisa menjawab semua pertanyaan netijen juga mertua, ketika kita memberikan kabar gembira bahwa kita hamil. Sayangnya mungkin saya belum merasakan hal itu, Allah masih ingin lihat saya jadi wanita yang kuat dan sabar hingga dititik ini. Saya sempat berfikir kelak kalau saya punya anak, saya ingin sekali dipanggil Bunda atau Ibu. Tapi nyatanya belum waktunya.

Entahlah... saya sudah melewati waktu panjang untuk memohon dan berharap kepada Allah agar saya hamil, saya masih ingat 2 tahun lalu saya begitu maksa sama Allah untuk hamil, hampir setiap malam saya tahajud, berdoa, dan meminta kepada Allah agar saya bisa hamil tapi nyatanya Allah tidak berkehendak saat itu. Hingga akhirnya saya jadi susah lagi buat tahajud sampai sekarang, saya gak marah sama Allah, tapi rasanya saya sudah lelah saja, sudah pada titik terserah Allah saja, mau dikasih anak atau enggak juga terserah.

Saya benar-benar mengalami traumatis yang panjang tentang banyak hal, ingin rasanya hilang ingatan, atau dihapus saja sebagain ingatan buruk saya tentang masa lalu saya beberapa tahun kebelakang, syukurnya ditahun ini Allah kasih amanah saya untuk jadi wali kelas, saya punya 21 orang putri disekolah, yang setiap hari memanggil saya “Ibu”... hahaha, saya yang belakang sudah merasa masa bodoh, mau tidak mau harus belajar menjadi seorang Ibu yang baik, dan punya anak dengan 21 karakter yang berbeda, dari yang diam, pemalu, dan penurut, sampai yang cerewet, cuek, nyolot, dna susah diberi nasehat, bebal.

Hingga saya berfikir betapa sulitnya menjadi seorang ibu. Namun diperjalan saya menemukan hal yang selama ini mungkin Ibu rasakan. Seorang Ibu harus mempunya hati yang lapang, mau memaafkan kesalahan anaknya, meski anaknya tidak meminta maaf sama sekali karena perbuatan atau ucapannya yang menyakiti hati. Itulah yang saya rasakan, saya memaafkan mereka yang ucapan dan sikapnya menyakiti hati saya, meskipun mereka tidak meminta maaf sama sekali.

Yang kedua, kita mungkin akan berdoa agar kelak dikaruniai anak-anak yang Qurrotayyun, penyejuk mata, namun tak sedikit orang tua yang anaknya menjadi ujian, atau lebih buruk dari itu, jadi musuh. Saya belajar merasakan menjadi orang tua saat saya harus mengasuh 21 anak, yang ternyata tidak semuannya baik, dan tidak semuanya suka dengan saya. Saya mungkin sudah berusaha sebaik mungkin tapi kenyataanya, meski saya sudah berusaha adil dan berlaku baik, ada saja anak-anak yang sikapnya jauh dari kata baik, saya yang lebih memilih menghindari anak-anak itu, karena saya ingin menjaga hati saya agar tidak emosi, dan tidak marah menghadapi sikap mereka yang sering seenaknya sendiri, dan tidak peduli sama kondisi sekitar.

Yang ketiga, sekeras apapun kamu berusaha, anak merupakan amanah yang Allah titipkan kepada kita, tugas kita adalah mendidik mereka menjadi orang yang bertakwa, bermanfaat tidak hanya untuk keluarga, tapi juga bermanfaat bagi umat, dan menjadi penyambung risalah Rasul dimuka bumi, inilah yang paling berat, maka bekal menjadi orang tua, jauh harus disiapkan sebelum anaknya lahir, sebelum menikah, dna menjadi ayah dan ibu, kita harus membekali diri kita tentang ilmu mendidik anak, ini tentu tidak ada sekolahnya, meski sekarang banyak sekali kelas-kelas parenting dan seminar tentang bagaimana mendidik anak.

Karena sejatinya tidak ada anak yang bodoh, tidak ada anak yang nakal, dan tidak ada anak yang gagal, karena kesalahan anak saat ini bisa jadi imbas dari kesalahan orang tua dalam mendidik anak. Kita mungkin bisa mentolerir kesalahan anak kita sendiri, jika memang sikapnya ternyata memberikan masalah kepada kita orang tuanya, yang lebih ditakutkan adalah ketika anak kita justru jadi masalah untuk orang lain, terlebih membuat susah hidup orang lain.
Saya hanya berdoa, semoga kelak saya bisa menjadi Ibu yang baik untuk anak-anak saya kelak, mudah-mudahan Allah kasih saya umur dan kesempatan untuk dapat mendidik dan membesarkan mereka dengan penuh keteladanan seperti Lukman Al Hakim, aamin

Bandung, 28 Maret 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar