Jumat, 25 Mei 2018

Hinaan


Jika kau menganggap kemuliaan seseorang datang karena banyaknya pujian dan penghargaan manusia mungkin kamu harus belajar lagi membaca perjalanan hidup para kekasih Allah, karena pada kenyataannya, hinaan dan caci maki yang datang dari manusia ternyata mendatangkan kemuliaan bagi pemiliknya.

Bacalah hadist dibawah ini :
“Hendaklah engkau tetap bertakwa kepada Allah. Jika ada orang yang mencelamu dengan sesuatu perkara yang dia ketahui ada didalam dirimu, maka janganlah engkau membalas celaannya dengan sesuatu perkara yang engkau ketahui ada padanya. Dengan demikian, maka dosa adalah diatas orang itu, dan pahalanya adalah untukmu. Jangan pula sekali-kali engkau  mamaki-maki seseorang” HR Ahmad dan Thabrani

Itulah yang berkali-kali saya tanamkan dalam benak fikiran saya, saya melakukan apa yang memang harus saya lakukan, saya menjalankan apa yang Allah perintahkan kepada saya, semampu saya, dan saya tidak perduli bagaimana respon orang lain terhadap saya, sungguh saya tidak butuh pujian dan penghargaan dari siapapun, dan bukan kehendak saya ketika ada orang-orang yang secara tidak sengaja memuji saya. Mungkin Allah sayang kepada saya, karena Allah menggerakkan saya untuk melakukan kebaikan ini dan itu, Allah sayang sehingga Allah menghindarkan saya untuk melakukan hal-hal yang buruk. Allah masih menutupi aib saya dihadapan manusia.

Dan ketika ujian itu datang....

Semua hal baik yang saya lakukan dianggap salah, ketika ketidaksengajaan yang saya lakukan dianggap sebagai kelalaian dan kebodohan, dibilang ini itu yang tidak sesuai dengan apa yang saya lakukan, bahkan ketika kebaikan saya disalah artikan dianggapnya saya ingin menarik pujian orang lain, sungguh itu benar-benar menyesakkan dada saya. Saya tidak punya hati serendah itu, ketika orang memberikan pujian kepada saya, sungguh itu bukan keinginan saya. Ketika seseorang menghina saya ini itu, sungguh sebagai manusia, sebagai perempuan, hati saya terasa sakit, tapi apalah yang bisa saya lakukan, untuk sekedar membela diri pun saya tidak punya kemampuan apa-apa, semua itu hanya dapat saya terima dengan lapang dada.

Akhirnya saya mengalami hal-hal terberat dalam hidup saya. Yang membuat hari-hari saya menjadi berat, apalagi setelah ujian datang, saya sudah tidak peduli lagi hinaan dan ucapan negatif orang-orang kepada saya, anggap saja itu jadi tabungan pahala saya diakhirat. Jika manusia mulia seperti Nabi Muhammad saja dihina dan diperlakukan buruk oleh orang-orang kafir masih bisa bersabar, apalah saya yang hanya manusia biasa, dan banyak dosa seperti ini. Mungkin iman saya tidak sekuat orang-orang shalih seperti Nabi Muhammad, Maryam,  dan Aisyah yang ketika diumpat dan dicaci maki oleh orang-orang tetap bisa sabar dan berserah diri pada Allah, mereka tetap mulia meski direndahkan oleh manusia. Namun saya belajar, dari keteguhan orang-orang shalih tersebut, bahwa segala bentuk perlakuan buruk manusia tidak boleh membuat keyakinan dan ketundukkan kita kepada Allah menjadi berkurang.

Saya percaya bahwa segala bentuk kesulitan dna kepahitan hidup yang Allah berikan kepada saya, adalah bentuk kasih sayang Allah kepada saya, entah sebagai kafarat penggugur dosa, atau sebagai peningkatan kualitas keImanan saya, semoga Allah memberikan pahala yang tanpa batas atas segala kesabaran saya menerima segala takdir dan ketetapannya.

Bandung, 26 Mei 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar