Jika kau
menganggap kemuliaan seseorang datang karena banyaknya pujian dan penghargaan
manusia mungkin kamu harus belajar lagi membaca perjalanan hidup para kekasih
Allah, karena pada kenyataannya, hinaan dan caci maki yang datang dari manusia
ternyata mendatangkan kemuliaan bagi pemiliknya.
Bacalah hadist
dibawah ini :
“Hendaklah
engkau tetap bertakwa kepada Allah. Jika ada orang yang mencelamu dengan
sesuatu perkara yang dia ketahui ada didalam dirimu, maka janganlah engkau
membalas celaannya dengan sesuatu perkara yang engkau ketahui ada padanya.
Dengan demikian, maka dosa adalah diatas orang itu, dan pahalanya adalah
untukmu. Jangan pula sekali-kali engkau
mamaki-maki seseorang” HR Ahmad dan Thabrani
Itulah yang
berkali-kali saya tanamkan dalam benak fikiran saya, saya melakukan apa yang
memang harus saya lakukan, saya menjalankan apa yang Allah perintahkan kepada
saya, semampu saya, dan saya tidak perduli bagaimana respon orang lain terhadap
saya, sungguh saya tidak butuh pujian dan penghargaan dari siapapun, dan bukan
kehendak saya ketika ada orang-orang yang secara tidak sengaja memuji saya.
Mungkin Allah sayang kepada saya, karena Allah menggerakkan saya untuk
melakukan kebaikan ini dan itu, Allah sayang sehingga Allah menghindarkan saya
untuk melakukan hal-hal yang buruk. Allah masih menutupi aib saya dihadapan
manusia.
Dan ketika
ujian itu datang....
Semua hal baik
yang saya lakukan dianggap salah, ketika ketidaksengajaan yang saya lakukan
dianggap sebagai kelalaian dan kebodohan, dibilang ini itu yang tidak sesuai
dengan apa yang saya lakukan, bahkan ketika kebaikan saya disalah artikan
dianggapnya saya ingin menarik pujian orang lain, sungguh itu benar-benar
menyesakkan dada saya. Saya tidak punya hati serendah itu, ketika orang
memberikan pujian kepada saya, sungguh itu bukan keinginan saya. Ketika
seseorang menghina saya ini itu, sungguh sebagai manusia, sebagai perempuan,
hati saya terasa sakit, tapi apalah yang bisa saya lakukan, untuk sekedar
membela diri pun saya tidak punya kemampuan apa-apa, semua itu hanya dapat saya
terima dengan lapang dada.
Akhirnya saya
mengalami hal-hal terberat dalam hidup saya. Yang membuat hari-hari saya
menjadi berat, apalagi setelah ujian datang, saya sudah tidak peduli lagi
hinaan dan ucapan negatif orang-orang kepada saya, anggap saja itu jadi
tabungan pahala saya diakhirat. Jika manusia mulia seperti Nabi Muhammad saja
dihina dan diperlakukan buruk oleh orang-orang kafir masih bisa bersabar,
apalah saya yang hanya manusia biasa, dan banyak dosa seperti ini. Mungkin iman
saya tidak sekuat orang-orang shalih seperti Nabi Muhammad, Maryam, dan Aisyah yang ketika diumpat dan dicaci
maki oleh orang-orang tetap bisa sabar dan berserah diri pada Allah, mereka
tetap mulia meski direndahkan oleh manusia. Namun saya belajar, dari keteguhan
orang-orang shalih tersebut, bahwa segala bentuk perlakuan buruk manusia tidak
boleh membuat keyakinan dan ketundukkan kita kepada Allah menjadi berkurang.
Saya percaya
bahwa segala bentuk kesulitan dna kepahitan hidup yang Allah berikan kepada
saya, adalah bentuk kasih sayang Allah kepada saya, entah sebagai kafarat
penggugur dosa, atau sebagai peningkatan kualitas keImanan saya, semoga Allah
memberikan pahala yang tanpa batas atas segala kesabaran saya menerima segala
takdir dan ketetapannya.
Bandung, 26 Mei 2018

Tidak ada komentar:
Posting Komentar