Minggu, 18 Februari 2018

Apathy



Kita bisa saja mentolerir sikap dan perilaku diri kita sendiri, tapi jika sifat dan perilaku kita berdampak buruk terhadap kehidupan orang lain, maka kita sudah berbuat zalim.

Sebagian kita merasa aman dan santai dengan sifat dan perilaku kita selama ini, padahal sangat mungkin ada sifat dan perilaku kita yang membuat orang lain menjadi tidak nyaman, atau bahkan justru tersakiti, sifat-sifat yang  tumbuh dan berkembang mengikuti usia kita, namun sering kali luput dari kesadaran kita sebagai manusia. Salah satunya adalah sifat apatis, sifat yang membuat kita acuh pada perasaan orang lain, merasa nyaman dan tidak merasa berdosa.

Dan dalam hidup sungguh orang-orang seperti inilah yang kadang membawa masalah dalam kehidupan kita, yang keberadaannya didunia sedikit sekali membawa manfaat, kasihan sebenarnya, orang-orang yang apatis selalu menganggap dirinya benar, dan tidak merasa bersalah, tidak peduli bagaimana perasaan orang lain. Ia menjalani hidupnya sesuai dengan fikirannya sendiri, dan sedikit sekali mau menerima nasihat dan kritik dari orang lain. Kalaupun diberi nasehat, biasanya hanya didengarkan tanpa merasa bahwa “nasehat” itu penting dan berharga bagi perbaikan dirinya.

Istilah apatis, secara etimologi, merupakan serapan dari kata ‘apathy’ dalam bahasan Inggris yang muncul sekitar tahun 1595 hingga 1605. Istilah ‘apathy’ berasal dari bahasa Latin ‘apathia’ yang berarti “ketidakpekaan terhadap suatu penderitaan”, merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah apatis (/apa-tis/)didefinisikan sebagai sikap tidak peduli, acuh tidak acuh atau masa bodoh. 

Dalam kamus Cambridge, apatis diartikan sebagai perilaku yang menunjukkan tidak adanya ketertarikan atau energi dan menunjukkan jika seseorang tidak memiliki suatu kemauan untuk mengambil suatu tindakan, terutama terhadap sesuatu yang penting. Sedangkan Oxford Dictionary mendefinisikan apatis sebagai kurangnya ketertarikan, semangat, ataupun fokus terhadap suatu hal. Sumber lain menyatakan jika apatis merupakan kurangnya ketertarikan terhadap suatu hal yang dianggap oleh orang lain menyenangkan.

Dan saya beberapa kali berhadapan dengan orang macam ini, perasaan saya tentu campur aduk, kesal iya, sedih iya, marah iya, tapi saya tidak bisa mengekspresikan perasaan saya secara langsung pada orangnya, ujung-ujungnya hanya bisa dipendam sendiri, atau kalau sudah tidak tahan sama sekali saya hanya bisa menangis, menangis yang tidak menyelesaikan masalah, dan tidak menghasilkan solusi. Dan orang itu tetap hidup seperti biasa tanpa rasa bersalah sedikit pun. 

Baiknya besok-besok orang-orang yang apatis itu perlu juga diberi nasihat, terlepas bisa menerima atau tidak masukan dari kita, karena jika dibiarkan begitu saja ia tidak akan pernah menyadari kesalahannya dan akan terus melakukan hal yang sama setiap harinya. Karena buat saya pribadi, orang-orang yang apatis itu perlu dikasihani. Mungkin dulunya ia pernah mengalami perlakuan buruk dari orang tua, keluarga, atau orang lain, hingga pembentukan pribadinya menjadi tidak sempurna.

Bandung, 19 Februari 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar