Kita bisa saja mentolerir sikap
dan perilaku diri kita sendiri, tapi jika sifat dan perilaku kita berdampak
buruk terhadap kehidupan orang lain, maka kita sudah berbuat zalim.
Sebagian kita merasa aman dan
santai dengan sifat dan perilaku kita selama ini, padahal sangat mungkin ada
sifat dan perilaku kita yang membuat orang lain menjadi tidak nyaman, atau
bahkan justru tersakiti, sifat-sifat yang
tumbuh dan berkembang mengikuti usia kita, namun sering kali luput dari
kesadaran kita sebagai manusia. Salah satunya adalah sifat apatis, sifat yang
membuat kita acuh pada perasaan orang lain, merasa nyaman dan tidak merasa
berdosa.
Dan dalam hidup sungguh
orang-orang seperti inilah yang kadang membawa masalah dalam kehidupan kita,
yang keberadaannya didunia sedikit sekali membawa manfaat, kasihan sebenarnya,
orang-orang yang apatis selalu menganggap dirinya benar, dan tidak merasa
bersalah, tidak peduli bagaimana perasaan orang lain. Ia menjalani hidupnya
sesuai dengan fikirannya sendiri, dan sedikit sekali mau menerima nasihat dan
kritik dari orang lain. Kalaupun diberi nasehat, biasanya hanya didengarkan
tanpa merasa bahwa “nasehat” itu penting dan berharga bagi perbaikan dirinya.
Istilah apatis, secara etimologi,
merupakan serapan dari kata ‘apathy’ dalam bahasan Inggris yang muncul sekitar
tahun 1595 hingga 1605. Istilah ‘apathy’ berasal dari bahasa Latin ‘apathia’
yang berarti “ketidakpekaan terhadap suatu penderitaan”, merujuk pada Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah apatis (/apa-tis/)didefinisikan sebagai
sikap tidak peduli, acuh tidak acuh atau masa bodoh.
Dalam kamus Cambridge, apatis diartikan sebagai perilaku yang menunjukkan tidak
adanya ketertarikan atau energi dan menunjukkan jika seseorang tidak memiliki
suatu kemauan untuk mengambil suatu tindakan, terutama terhadap sesuatu yang
penting. Sedangkan Oxford Dictionary
mendefinisikan apatis sebagai kurangnya ketertarikan, semangat, ataupun fokus
terhadap suatu hal. Sumber lain menyatakan jika apatis merupakan kurangnya
ketertarikan terhadap suatu hal yang dianggap oleh orang lain menyenangkan.
Dan saya beberapa kali berhadapan
dengan orang macam ini, perasaan saya tentu campur aduk, kesal iya, sedih iya, marah
iya, tapi saya tidak bisa mengekspresikan perasaan saya secara langsung pada
orangnya, ujung-ujungnya hanya bisa dipendam sendiri, atau kalau sudah tidak
tahan sama sekali saya hanya bisa menangis, menangis yang tidak menyelesaikan
masalah, dan tidak menghasilkan solusi. Dan orang itu tetap hidup seperti biasa
tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Baiknya besok-besok orang-orang
yang apatis itu perlu juga diberi nasihat, terlepas bisa menerima atau tidak
masukan dari kita, karena jika dibiarkan begitu saja ia tidak akan pernah
menyadari kesalahannya dan akan terus melakukan hal yang sama setiap harinya.
Karena buat saya pribadi, orang-orang yang apatis itu perlu dikasihani. Mungkin
dulunya ia pernah mengalami perlakuan buruk dari orang tua, keluarga, atau
orang lain, hingga pembentukan pribadinya menjadi tidak sempurna.
Bandung, 19 Februari 2018

Tidak ada komentar:
Posting Komentar