Minggu, 18 Maret 2018

Undangan Ariel




إِذَا دُعِىَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْوَلِيمَةِ فَلْيَأْتِهَا
Jika salah seorang di antara kalian diundang walimah, maka hadirilah.” (HR. Bukhari no. 5173 dan Muslim no. 1429).

Beberapa hari menjelang pernikahannya, Ariel datang langsung kerumah bersama kamal dan istrinya, ia memberikan langsung undangan nikahnya, serta meminta nasehat pernikahan pada saya. Sekali lagi saya merasakan rasa bahagia dan sedih saat itu, bahagia karena adik-adik saya yang berjuang sama-sama dimesjid akhirnya akan menggenapkan setengah dinnya, sedih karena ada bagian yang hilang dalam hidup saya, kesedihan yang tidak hanya dirasakan oleh saya pribadi, tapi juga orang-orang dekat saya dan keluarga saya.

Diminta untuk memberi nasehat, pun rasa-rasanya saya merasa tidak pantas, dan saya merasa dia salah alamat kalau datang kepada saya, harusnya dia datang kepada Siska sahabat saya, yang sekarang sudah jadi ibu dari 2 anak. Tapi bagaimana pun juga kondisi batin saya, rasanya tidak mungkin kalau saya tidak menyampaikan sesuatu pada Ariel. Pemuda itu telah banyak membantu saya berdakwah dimesjid membina adik-adik yang lain. Bagi saya Ariel dan Kamal sudah seperti adik saya sendiri, kapan pun saya membutuhkan pertolongan mereka selalu ada, bukan hanya fisiknya tapi doa-doanya juga.

“Kehidupan rumah tangga itu tidak mudah, kedepan mungkin cobaannya akan lebih berat, tapi yakinlah kepada Allah niatkan semuanya karena ibadah, dan jangan pernah melepaskan istri kamu, jaga dia dengan baik, semoga Allah jaga pernikahannya, tidak hanya didunia, tapi juga sampai ke surga”

Air mata saya rasanya ingin tumpah, tapi saya melihat rona bahagia dari wajah ariel dan kamal, mudah-mudahan mereka bisa menjadi Imam yang baik buat keluarganya, dan dapat meneruskan perjuangan dijalan dakwah dimanapun kelak mereka berada. Meski usia mereka jauh dari saya, namun ada banyak pelajaran berharga yang saya terima dari mereka, mereka juga yang selalu menguatkan saya untuk tetap berada dijalan dakwah, meskipun kondisinya sangat memprihatinkan, saya yang kadang semangatnya kendor jadi malu kalau diberi nasehat oleh mereka. 

Dua hari menjelang pernikahan, anak-anak Remasis mulai sibuk koordinasi dengan saya, masalah keberangkatan sampai hadiah buat Ariel, saya tau betul bagaimana Ariel membina adik-adik dimesjid, dan anak-anak mendapatkan banyak sekali pelajaran berharga dari akangnya ini, maka dihari istimewa akangnya mereka juga ingin sekali untuk datang. Singkat cerita, ayahnya Rafly mau meminjamkan mobilnya untuk kita, meski kita gak tau yang bakal bawa mobilnya siapa. Mereka bilang kalaupun mereka tidak bisa ikut kesana, minimal ada perwakilan dari Remasis, entah Saya atau Kamal dan Istrinya. Itu plan kedua jika ada mobil mungkin saya, kamal dan istrinya yang akan ikut mobil ayahnya rara.

Sehari sebelum keberangkatan, ternyata ada kabar buruk dari Rafly, ternyata mobilnya disewakan pada orang lain, alhasil kita gak punya kendaraan buat kesana, akhirnya saya dan kamal mulai koordinasi, kita sama-sama cari mobil rental buat ke nikahan ariel, alhamdullilah ada. Saya masih bingung siapa yang mau bawa mobilnya, dan Kamal menjawab dengan santai “tenang aja teh nanti saya sama istri bisa gantian bawa mobilnya” sejujurnya saya belum pernah pergi bareng sama kamal dan istrinya, Cuma kamal pernah cerita kalau selama jadi relawan di Rumah Zakat dia biasa bawa mobil.

Alhamdullilah besoknya kita bisa berangkat bareng, Kamal dan Istrinya, saya, novan, rafly, iki, dan naufal disatu mobil, akhwat yang lain pada gak bisa termasuk rara, karena dia lagi banyak tugas disekolahnya. Dan yang bawa mobil tentu saja Kamal, hahahahha.... kadang saya berfikir, meski saya seorang perempuan saya pun harus bisa belajar nyetir mobil karena dibeberapa kondisi, pasti dibutuhin, terlebih pada saat tidak ada laki-laki. Lucunya selama perjalanan saya sama sekali tidak bisa tidur dan mengajak kamal dan istrinya mengobrol, saya khawatir kamal yang sedang menyetir ngantuk.

Sampai akhirnya Rafly bilang “teteh hebat ih dari tadi gak tidur-tidur, kenapa teh? takut ya teh yang bawa mobilnya a’kamal? wkwkwkkwkw” Iya mungkin kalo yang bawa mobilnya bapak atau mas sih saya bisa tidur nyeyak, tapi saya baru pertama kali disupirin sama kamal dan gak punya SIM juga. Alhamdullilah perjalanan pulang pergi lancar, dan satu kebahagiaan buat saya bisa menghadiri pernikahan ariel dan vina sejak akad.

Bandung, 19 Maret 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar