Ad-Din berasal dari bahasa Arab
“Daana – Yadiinu – Diinan” (دان – يدين – دينا)
memiliki arti yang banyak yaitu agama, jalan hidup, tatanan, hukum dan lain
lain. Secara umum din/agama adalah segala sesuatu yang melekat dalam diri
manusia dan menjadi pedoman hidup sehari-hari. Seseorang yang beragama tentu
terikat dengan segala aturan hidup yang ada dalam agamanya, sehingga mau tidak
mau ia harus hidup sesuai dengan tuntutan yang ada dalam agamanya.
Pertanyaannya adalah bagaimana
mengetahui baik tidaknya “agama” seseorang ?
Dalam Islam ibadah dan segala
bentuk pengabadian manusia kepada Allah tidak hanya bersifat vertikal,
(habluminallah). Namun Islam adalah agama yang juga sangat memperhatikan
hubungan manusia dengan manusia lainnya (habluminannas). Dan keduanya sama-sama
penting, kebaikan kita dalam beragama salah satunya tercermin dari bagaimana
hubungan kita dengan manusia, karena selama hidup kita pasti berhubungan
langsung dengan manusia.
Mengukur seberapa beragama, atau
sebaik apa agama seseorang juga bukanlah perkara yang mudah, dalam salah satu
hadist tentang kriteria memilih pasangan hidup, Rasullulah mencontohkan kepada
kita untuk memilih pasangan hidup berdasarkan “agamanya”, dari empat kriteria
seperti fisik (kecantikan/ketampanan), Harta, Keturunan, Agamanya, Rasullulah
lebih menitikberratkan pada yang paling baik agamanya.
Dan jika membaca secara lengkap
dari hadist tersebut, Rasullulah tidak menjelaskan secara lebih rinci dan lebih
spesifik seperti apa orang yang baik “agamanya”, namun ketika kita melihat dari
hubungan habluminallah dan habluminnanas diatas, maka secara sederhana baiknya “agama”
seseorang dapat kita lihat dari 2 hal, pertama ibadahnya kepada Allah, kedua
adalah akhlaknya terhadap sesama manusia, entah dengan keluarganya ataupun
dengan orang lain.
Pertama adalah ibadah, kita tidak
pernah bisa tau kualitas dan kuantitas ibadah seseorang sebelum berinteraksi
dengannya, namun hal paling sederhana yang bisa kita tau dari kualitas ibadah
seseorang adalah dengan melihat ketepatan waktu saat menjalankan sholat fardhu,
inilah yang paling utama, karena menurut Rasullulah jika baik sholatnya, maka
baiklah amalan lainnya, sayangnya tidak semua orang menjalankan sholat dengan
baik, karena tidak sedikit orang yang mengerjakan sholat lima waktu namun tidak
berimplikasi baik dengan akhlaknya. Selain sholat hal yang bisa kita lihat
adalaha bagaimana ia menjalankan syariat agamanya, khususnya bagi perempuan,
jika ia seorang muslimah yang baik, ia pasti akan menutup auratnya, karena
inilah hal yang paling mendasar yang membedakan seorang perempuan muslim dengan
bukan muslim.
Kedua, akhlak, bicara tentang
akhlak, salah satu yang paling mudah kita perhatikan adalah bagaimana lisan
seseorang ketika berinteraksi dengan orang lain, dan jika mau melihat bagaimana
baik atau buruknya akhlak seseorang salah satunya adalah dengan memperhatikan
bagaimana sikap dan kepatuhan seseorang kepada kedua orang tuanya, dan
keluarganya. Karena jika seseorang memiliki akhlak yang baik kepada orang tua,
ia akan mampu berinteraksi dengan baik dengan orang lain, bisa menghormati
orang yang lebih tua dan menyayangi orang yeng lebih muda.
Secara pemahaman mungkin seperti
itu, namun dalam kehidupan nyata kita sering kali melihat sebaliknya, orang
yang habluminallahnya baik, tapi habluminannasnya tidak, atau habluminanasnya
baik tapi habluminallahnya tidak. Ada orang yang khusyu ketika sholat, rajin
mengerjakan yang wajib dan juga yang sunah, tapi lisannya sering kali menyakiti
orang lain, atau orang yang begitu baik terhadap sesama, terutama fakir miskin,
rajin sekali bersedekah dan menolong orang lain, namun tidak sekalipun mau
menunaikan sholat yang harusnya menjadi kewajibannya sebagai muslim.
Itulah ironi yang ada didepan
mata saya sekarang, tentu yang menjadi panutan saya juga kita semua adalah
Rasullulah, yang habluminallah dan habluminanasnya baik. Rasullulah yang pagi
dan siang begitu baik melayani keluarga dan umatnya, namun malamnya dihabiskan
berkhalwat bersama Allah. Maka kewajiban kita adalah besabar, ketika mendapat
perlakukan buruk dari orang lain, dan juga memberikan nasehat kepada orang yang
enggan menjalankan kewajibannya kepada Allah, semoga kelak Allah yang menjaga
diri kita, agar selalu dekat dengan Allah dan diberi kemudahan untuk berbuat
baik kepada hamba-hambaNya.
Baik buruknya “agama” kita
sepenuhnya adalah tanggung jawab kita pribadi, biarkan orang menilai dengan
kacamatanya sendiri, karena yang lebih tau diri kita adalah kita sendiri.
Jangan pedulikan perkataan buruk orang lain tentang kita, tidak semua orang
harus suka dengan kita, dan kalaupun agama kita masih belum baik, upaya kita
sendiri yang bisa memperbaikinya, karena agama bukan hanya sekedar identitas
yang tercantum dalam KTP, lebih jauh dari itu, “agama” adalah cerminan diri
pemiliknya.
Bandung, 15 Februari 2018

Tidak ada komentar:
Posting Komentar