Rabu, 14 Februari 2018

Ad-Din



Ad-Din berasal dari bahasa Arab “Daana – Yadiinu – Diinan” (دان – يدين – دينا) memiliki arti yang banyak yaitu agama, jalan hidup, tatanan, hukum dan lain lain. Secara umum din/agama adalah segala sesuatu yang melekat dalam diri manusia dan menjadi pedoman hidup sehari-hari. Seseorang yang beragama tentu terikat dengan segala aturan hidup yang ada dalam agamanya, sehingga mau tidak mau ia harus hidup sesuai dengan tuntutan yang ada dalam agamanya.

Pertanyaannya adalah bagaimana mengetahui baik tidaknya “agama” seseorang ?

Dalam Islam ibadah dan segala bentuk pengabadian manusia kepada Allah tidak hanya bersifat vertikal, (habluminallah). Namun Islam adalah agama yang juga sangat memperhatikan hubungan manusia dengan manusia lainnya (habluminannas). Dan keduanya sama-sama penting, kebaikan kita dalam beragama salah satunya tercermin dari bagaimana hubungan kita dengan manusia, karena selama hidup kita pasti berhubungan langsung dengan manusia.

Mengukur seberapa beragama, atau sebaik apa agama seseorang juga bukanlah perkara yang mudah, dalam salah satu hadist tentang kriteria memilih pasangan hidup, Rasullulah mencontohkan kepada kita untuk memilih pasangan hidup berdasarkan “agamanya”, dari empat kriteria seperti fisik (kecantikan/ketampanan), Harta, Keturunan, Agamanya, Rasullulah lebih menitikberratkan pada yang paling baik agamanya.

Dan jika membaca secara lengkap dari hadist tersebut, Rasullulah tidak menjelaskan secara lebih rinci dan lebih spesifik seperti apa orang yang baik “agamanya”, namun ketika kita melihat dari hubungan habluminallah dan habluminnanas diatas, maka secara sederhana baiknya “agama” seseorang dapat kita lihat dari 2 hal, pertama ibadahnya kepada Allah, kedua adalah akhlaknya terhadap sesama manusia, entah dengan keluarganya ataupun dengan orang lain.

Pertama adalah ibadah, kita tidak pernah bisa tau kualitas dan kuantitas ibadah seseorang sebelum berinteraksi dengannya, namun hal paling sederhana yang bisa kita tau dari kualitas ibadah seseorang adalah dengan melihat ketepatan waktu saat menjalankan sholat fardhu, inilah yang paling utama, karena menurut Rasullulah jika baik sholatnya, maka baiklah amalan lainnya, sayangnya tidak semua orang menjalankan sholat dengan baik, karena tidak sedikit orang yang mengerjakan sholat lima waktu namun tidak berimplikasi baik dengan akhlaknya. Selain sholat hal yang bisa kita lihat adalaha bagaimana ia menjalankan syariat agamanya, khususnya bagi perempuan, jika ia seorang muslimah yang baik, ia pasti akan menutup auratnya, karena inilah hal yang paling mendasar yang membedakan seorang perempuan muslim dengan bukan muslim.

Kedua, akhlak, bicara tentang akhlak, salah satu yang paling mudah kita perhatikan adalah bagaimana lisan seseorang ketika berinteraksi dengan orang lain, dan jika mau melihat bagaimana baik atau buruknya akhlak seseorang salah satunya adalah dengan memperhatikan bagaimana sikap dan kepatuhan seseorang kepada kedua orang tuanya, dan keluarganya. Karena jika seseorang memiliki akhlak yang baik kepada orang tua, ia akan mampu berinteraksi dengan baik dengan orang lain, bisa menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi orang yeng lebih muda.

Secara pemahaman mungkin seperti itu, namun dalam kehidupan nyata kita sering kali melihat sebaliknya, orang yang habluminallahnya baik, tapi habluminannasnya tidak, atau habluminanasnya baik tapi habluminallahnya tidak. Ada orang yang khusyu ketika sholat, rajin mengerjakan yang wajib dan juga yang sunah, tapi lisannya sering kali menyakiti orang lain, atau orang yang begitu baik terhadap sesama, terutama fakir miskin, rajin sekali bersedekah dan menolong orang lain, namun tidak sekalipun mau menunaikan sholat yang harusnya menjadi kewajibannya sebagai muslim.

Itulah ironi yang ada didepan mata saya sekarang, tentu yang menjadi panutan saya juga kita semua adalah Rasullulah, yang habluminallah dan habluminanasnya baik. Rasullulah yang pagi dan siang begitu baik melayani keluarga dan umatnya, namun malamnya dihabiskan berkhalwat bersama Allah. Maka kewajiban kita adalah besabar, ketika mendapat perlakukan buruk dari orang lain, dan juga memberikan nasehat kepada orang yang enggan menjalankan kewajibannya kepada Allah, semoga kelak Allah yang menjaga diri kita, agar selalu dekat dengan Allah dan diberi kemudahan untuk berbuat baik kepada hamba-hambaNya. 

Baik buruknya “agama” kita sepenuhnya adalah tanggung jawab kita pribadi, biarkan orang menilai dengan kacamatanya sendiri, karena yang lebih tau diri kita adalah kita sendiri. Jangan pedulikan perkataan buruk orang lain tentang kita, tidak semua orang harus suka dengan kita, dan kalaupun agama kita masih belum baik, upaya kita sendiri yang bisa memperbaikinya, karena agama bukan hanya sekedar identitas yang tercantum dalam KTP, lebih jauh dari itu, “agama” adalah cerminan diri pemiliknya.

Bandung, 15 Februari 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar