“Aku gak pandai cemburu. Malahan, kalau kamu ninggalin aku, aku gak
bisa apa-apa. Bisaku Cuma mencintaimu” – Dilan.
Saya baca novel dilan beberapa
tahun lalu, mungkin sekitar tahun 2015 atau 2016, waktu belum dibuat film kaya
sekarang, dan membaca novel ini sebagai perempuan saya gak mungkin kalau gak baper,
karena kebanyakan perempuan-perempuan pun pasti baper kalo ada laki-laki
seperti sosok Dilan ini. Masih ingat puisi Rangga untuk Cinta difilm Ada Apa Dengan
Cinta diujung filmnya ?
Ada apa dengannya
Meninggalkan hati untuk dicaci
Baru sekali ini aku melihat karya
surga
Dalam mata seorang Hawa
Ada apa dengan cinta
Tapi aku pasti akan kembali
Dalam satu purnama
Untuk mempertanyakan kembali
cintanya
Bukan untuknya
Tapi Untukku
Karena aku ingin kamu
itu saja.
Dan mungkin kamu juga bakal baper kalo baca
petikan tulisan Ustad yang satu ini :
“Maka inilah aku, yang terbata mengeja kesetiaan, bukan tak pernah
tergoda, tapi aku berjuang untuk selalu insyaf
ke mana harus menuju ketika liuk nafsu bekecamuk. Padamu yang dihalalkan
untukku.
Ah iya. Jarak dan waktu sering menyembunyikan kecantikanmu. Untunglah ia, telah terlukis
didalam hatiku. Yah, meski sesekali digerhanakan rindu.
Istriku, dihadapanku sering duduk manis ratusan bidadari, gemerlapan
mereka bagaikan bintang gemintang.. Namun andai kau hadir disini Cintaku
Sayang, mereka semua akan terbenam hilang.. Seperti bintang-bintang tak tampak
lagi, ketika mentari terbit meninggi.
Engkau, hangat, dan Cahaya, adalah matahari hati ini..
Akhirnya hanya deras hujan dan deras Quranmu, tiap rinai dan senarainya
mengilaukan bayang wajahmu, jatuh berdebur kedalam hatiku. Allhumma shayibban
naafi’...”
Yang baca tulisan diatas pasti
bakal senyum-senyum sendiri, sayangnya tidak semua laki-laki bisa seromantis
Dilan, Rangga, atau Ustad diatas, karena tidak semua laki-laki bisa punya
kemampuan menulis yang sama, kadang keromantisan seseorang tidak ditunjukkan
oleh perkataan dan tulisan saja, kalau pernah baca sirah nabawiyyah, kita pasti
bakal paham dan mengerti bagaimana romantisnya Rasullulah kepada
istri-istrinya. Salah satunya pada saat beliau memanggil Aisyah dengan panggilan Ya Khumaira.... (yang pipinya merah).
Melihat baik dan romantisnya Rasullulah kepada istrinya, tentu sebagai perempuan berharap dapat diperlakukan seperti itu oleh pasangannya, perempuan manapun pasti akan
merasa senang dan tersanjung jika bisa diperlakukan dengan baik oleh
pasangannya, dan tidak harus seromantis adegan-adegan yang ada di drama korea,
hahahaha..... meski sebagian perempuan pasti akan lebih senang diperlakukan
seperti yang ada di drama korea tersebut, buktinya 90% yang suka nonton drama
korea adalah perempuan, bukan laki-laki. Mungkin ini yang harus dipahami oleh
saya yang seorang perempuan, adegan-adegan romantis yang ada didrama-drama
korea itu hanya ada dalam skenario, nyatanya hanya sedikit sekali laki-laki
yang bisa seperti itu.
Itu pula yang kadang menjadi
perbincangan ibu-ibu muda dikantor tempat saya bekerja, kebanyakan dari mereka mengamini hal yang sama, bahwa
suami-suami mereka tidak pernah melakukan hal-hal yang romantis seperti halnya
ada di drama korea, dan memang mungkin seperti itu kenyataannya, karena
laki-laki adalah makhluk yang rasional, dan jarang menggunakan perasaan,
rasanya mungkin risih kalau harus bilang “ I love you” atau “ aku sayang kamu”,
apalagi sudah menikah, sudah sah secara agama dan negara, dan ketika seorang
laki-laki menikahi seorang perempuan, itu sudah menjadi bukti bahwa laki-laki
itu mencintai peremuannya, simple.
Dan mungkin juga sebagian
laki-laki merasa gengsi dan merasa tidak nyaman kalau harus menjadi laki-laki
seperti yang ada didrama-draam korea itu, mereka bukan Dilan, bukan Rangga,
apalagi Ustad, cintanya pada istrinya mungkin jauh lebih besar, karena dalam
doanya yang panjang itu ia selalu mendoakan kebaikan yang banyak untuk istrinya
itu, maka bersyukurlah dengan apa yang kamu miliki sekarang, karena mungkin
diluar sana banyak perempuan-perempuan yang berdoa setiap hari kepada Allah
minta diberikan pasangan hidup yang bisa mencintainya dengan tulus.
Bandung, 18 Januari 2018

Tidak ada komentar:
Posting Komentar