Rabu, 05 April 2017

Lembut dan Kuatkan Hatimu



Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata :
“Tidaklah seorang hamba mendapatkan hukuman yang lebih berat daripada hati yang keras dan jauh dari Allah” (AL Fawa’id hal 95)

 “Sungguh celaka orang-orang yang berhati keras dari mengingat Allah, mereka itu berada dalam kesesatan yang amat nyata” (QS Az Zumar : 22)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Maksudnya, hati mereka tidak menjadi lunak dengan membaca KitabNya, tidak mau mengambil pelajaran dari ayat-ayatNya, dan tidak merasa tenang dengan berzikir kepadaNya. Akan tetapi hati mereka itu berpaling dari RabbNya dan condong kepada selainNya...” (Tafsir Al Karim Ar Rahman, hal 722)

Dalam hidup kita mungkin tanpa sadar sudah berusaha maksimal dalam beribadah, sudah berusaha maksimal berbuat baik pada orang lain, tapi tanpa kita sadari kita adalah orang yang “keras hati” merasa diri yang paling benar, tidak mau mendengar nasihat orang lain, tidak mau menerima kebenaran yang datangnya dari Allah, dan berpendirian sesuai hawa nafsu kita yang tidak disandarkan pada aturan-aturan yang sudah Allah tetapkan dalam Quran dan As Sunah.

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menerangkan, bahwa ciri orang yang berhati keras itu adalah tidak lagi merespon larangan dan peringatan, tidak mau memahami apa maksud Allah dan RasulNya karena saking kerasnya hatinya. Sehingga tatkala setan melontarkan bisikan-bisikannya dengan serta merta hal itu dijadikan oleh mereka sebagai argumen untuk mempertahankan kebatilan mereka, mereka pun menggunakannya sebagai senjata untuk berdebat dan membangkang kepada Allah dan RasulNya (lihat Tafsir Al Karim Ar Rahman, hal 542)

Orang yang berhati keras itu tidak bisa memetik pelajaran dari nasehat-nasehat yang didengarnya, tidak bisa mengambil faedah dari ayat maupun peringatan-peringatan, tidak tertarik meskipun diberi motivasi dan dorongan, tidak merasa takut meskipun ditakut-takuti. Inilah salah satu bentuk hukuman terberat yang menimpa seorang hamba, yang mengakibatkan tidak ada petunjuk dan kebaikan yang disampaikan kepadanya kecuali justru memperburuk keadannya (lihat Tafsir Al Karim, ArRahman hal 225)

Sudah semestinya seorang muslim apalagi seorang penuntut ilmu berupaya untuk memelihara keadaan hatinya agar tidak menjadi hati yang keras membatu. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa  hati seorang hamba akan menjadi sehat dan kuat apabila pemiliknya menempuh tiga tindakan :
1)      Menjaga kekuatan hati, kekuatan hati akan terjaga dengan iman dan wirid-wirid ketaatan
2)      Melindunginya dari segala gangguan/bahaya. Perkara yang membahayakan iu adalah dosa, kemaksiatan dan segala bentuk penyimpangan
3)      Mengeluarkan zat-zat perusak yang mengendap didalam dirinya. Yaitu dengan senantiasa melakukan taubat nasuha dan istighfar untuk menghapuskan dosa-dosa yang telah dilakukannya (Ighatsat al-Lahfan hal 25-26)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :
“Barangsiapa yang menginginkan kejernihan hatinya hendaknya dia lebih mengutamakan Allah daripada menuruti berbagai keinginan hawa nafsunya. Hati yang terkungkung oleh syahwat akan terhalang dari Allah sesuai dengan kadar kebergantungannya kepada syahwat. Hancurnya hati disebabkan perasaan aman dari hukuman Allah dan terbuai oleh kelalaian. Sebaliknya, hati akan menjadi baik dan kuat karena rasa takut kepada Allah dan ketekunanan berdzikir kepadaNya” (Al Fawa’id hal 95)

Kita tau Umar Bin Khattab adalah salah seorang sahabat Rasul yang cukup keras dan tegas, apalagi terhadap musuh-musuh Allah, tapi kita tidak tau bahwa dibalik keras dan tegasnya Umar, Umar adalah sosok manusia yang lembut hatinya, dibawah matanya terdapat garis hitam, hal itu disebabkan karena Umar bin Khattab sering menangis karena Allah. Mudah-mudahan Allah lembutkan hati kita, dan menguatkan hati kita agar tetap Istiqomah dijalanNya, sesulit dan sesusah apapun kehidupan yang kita alami, maka Rasullulah sering kali berdoa kepada Allah agar hatinya selalu berada dalam ketaatan.

“Ya Muqallibal Quluub Tsabbit Qalbi Ala Diinik”
Artinya : “Wahai zat yang membolak balikan hati, teguhkan hati kami diatas ketaatan kepadaMu” [HR. Tirmidzi 3522, Ahmad 4/302, Al-Hakim 1/525, lihat Shahih Suna Tirmidzi III no 2792]

“Rabbana Laa Tuzigh Quluubanaa Ba’da Idz Hadaitanaa Wahablana Mil ladunka Rahmatan Innaka Antal Wahhaaab”
Artinya : “ Ya Tuhan kami janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkau lah Maha Pemberi Petunjuk (karunia)” (QS Ali Imran ayat 7)

Bandung, 5 April 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar