Diriwayatkan dari Anas bin Malik
R.A, bahwasannya Rasullulah Shallallahu alaihi wasalam bersabda, “Janganlah
kalian saling membenci, saling dengki, dan saling bermusuhan. Jadilah kalian
hamba Allah yang bersaudara. Dan tidak halal bagi bagi seorang muslim memboikot
saudaranya lebih dari tiga hari” (HR Bukhari [6065] dan Muslim [2559])
Kadang dalam hidup kita secara
sadar atau tidak pasti pernah mezalimin orang lain, begitu pula sebaliknya, ada
kalanya kita di zalimin oleh orang lain, perbuatan zalim tentu selalu ada
selama manusia hidup didunia ini, karena manusia itu tempatnya salah dan lupa.
Bahkan kita tanpa sadar juga suka mezalimin diri kita sendiri, bukankah tubuh
dan jiwa ini sepenuhnya milik Allah? Kadang kita tidak berbuat adil terhadap
diri sendiri, kita sering lalai akan kewajiban kita kepada Allah, padahal Allah
tidak pernah sedikit pun berbuat zalim kepada kita, hak-hak Allah lah yang
sering kita langgar, maka Nabi Adam pun berdoa kepada Allah ketika dia
melanggar perintah Allah untuk tidak mendekati pohon buah khuldi.
“Wahai Tuhan kami, kami sudah
menganiaya diri kami sendiri, dan jika engkau tidak mengampuni kami dan memberi
rahmat kepada kami, niscaya termasuklah kami ke dalam orang-orang yang rugi”
Sebaik apapun kita, tidak ada
yang menjamin jika kita terbebas dari kezaliman orang lain. Rasullulah adalah
manusia yang paling baik akhlaknya, dan dikenal sebagai orang yang dapat
dipercaya (Al Amin), baik terhadap manusia, taat beribadah kepada Allah,
dijamin masuk surga, masih saja dizalimin oleh orang-orang kafir. Apalagi kita
yang manusia biasa, yang akhlaknya belum sempurna, ibadah seadanya, belum ada
jaminan masuk surga, apakah tidak mungkin kita juga dizalimin oleh orang lain?
Setiap perbuatan zalim manusia
kepada kita pasti pasti ada perhitungannya disisi Allah, ketika kita dizalimin
kita boleh membalas dengan hal yang sama yang mereka lakukan kepada kita, tapi
memberikan maaf dan membalas dengan kebaikan kepada orang yang zalim kepada
kita Allah pasti akan memberikan pahala yang lebih baik kepada kita.
“Dan bagi orang-orang yang
apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri. Dan balasan suatu
kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat
baik maka pahalanya atas tanggungan Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai
orang-orang yang zalim” (QS Asy Syuuraa :39-40)
Tapi kenyataannya kadang tidak
semudah itu, memaafkan kesalahan orang lain yang telah menzalimi diri kita,
rasa benci telah membutakan maa hati kita, benci yang buta, hingga kita tidak
dapat melihat sedikit pun kebaikan dari orang yang mezalimi kita, orang yang
mezalimi kita tak jarang adalah orang-orang yang dekat dengan kita, bisa pasangan
hidup kita, keluarga kita, sahabat kita, atau tetangga kita. Kadang kebencian
membakar habis seluruh kebaikan manusia, semoga Allah lindungi kita dari rasa
benci dan dendam terhadap saudara kita, semoga Allah berikan kelapangan kepada
hati kita untuk dapat memaafkan kesalahan orang lain, lihatlah bagaimana
mulianya Rasullulah ketika ia dizalimin oleh orang lain.
1. Ghazwah
Uhud
Nabi mendapatkan luka pada wajahnya dan juga patah beberapa
giginya, Berkatalah salah seorang sahabatnya,
“Cobalah doakan agar mereka celaka” Nabi menjawab “Aku sekali-kali tidak
diutus untuk melaknat seseorang tetapi aku diutus untuk mengajak kepada
kebaikan sebagai rahmat”
2. Ghazwah
Khaibar
Khaibar adalah perkampungan Yahudi, Zainab binti Al Harist,
istri salam bin miskam salah seorang pemimpin Yahudi berhasil memperoleh hadiah
karena telah membubuhkan racun pada paha kambing panggang yang disajikan kepada
Rasullulah. Ketika itu Rasullulah makan dengan Bisyir bin Bara bin Ma’rur,
Bisyir sempat menelan daging yang beracun itu, tetapi Nabi baru mengunyahnya
lalu dimuntahkan kembali sambil berkata “Daging ini memberitakan kepadaku bahwa
dia beracun” Selang beberapa hari kemudian Bisyir meninggal dunia. Kemudian
Nabi memanggil wanita yang kejam dan berkata kepadanya “Mengapa sampai hati
kamu melakukan perbuatan seperti itu”
wanita itu menawab “Tiada tersembunyi lagi hasrat kaumku untuk membunuh tuan,
sekiranya tuan seorang raja tentu akan mati karena racun itu dan kami akan
merasa senang. Tetapi jika tuan seorang nabi, tentu tuan akan diberitahu oleh
Allah bahwa daging itu beracun, dan ternyata tuan adalah seorag nabi” pada saat
itu nabi berkuasa untuk membalasnya, namun akhirnya wanita itu dimaafkan dan
dilepaskan.
3. Menghadapi
Du’tsur (Seorang arab kafir)
Du’tsur suatu ketika mendapati Rasullulah sedang duduk
dibawah pohon yang rindang dan ketiduran, lalau Du’tsur mengambil pedang beliau
serta menghunusnya sambil mengancamnya kepada beliau dengan ucapan “Siapa yang
dapat membelamu daripada aku sekarang ini?” dengan tegas nabi menjawab “Allah”
orang itupun gemetar, sehingga pedang yang ada ditangannya terjatuh dan segera
dipungut oleh Nabi yang kemudian mengancamkannya kembali kepada Du’tsur “Sekarang
siapa yang membelamu daripadaku hari ini?”, Du’tsur menjawab “tidak seorang pun”
tetapi yang dilakukan oleh Nabi malah memaafkannya, Du’tsur pulang kedesanya dan
menceritakan hal itu kepada tetangganya dan handai taulan, bahwa ia semestinya
ia sudah mati, tetapi Muhammad adalah orang yang berbudi luhur. Du’tsur pun mengajak teman-temannya
untuk masuk Islam.
Nabi
punya banyak kesempatan untuk membalas orang-orang yang telah mezalimi dirinya,
tapi nabi memilih untuk mengampuni dan memberikan maaf kepada mereka,
sesunguhnya Allah Maha Pemaaf, dan hanya kesombongan bagi manusia yang tidak
mau memberikan maaf pada saudaranya, semoga Allah golongkan kita sebagai
orang-orang yang beriman, yang berlapang dada mau memaafkan kesalahan
saudaranya. Inilah salah satu wasiat
Nabi kepada kita,
“Janganlah kalian saling dengki,saling memfitnah, saling
membenci, saling memusuhi, dan jangan pula saling menelikung transaksi orang
lain. Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara
muslimnya yang lain, ia tidak mezhaliminya, tidak mempermalukannya, tidak
mendustakanya dan tidak pula melecehkannya. “Takwa tempatnya adalah disini” seraya Nabi Shallahu alaihi wasalam menunjuk
kedadanya tiga kali. “Telah pantas seseorang disebut melakukan kejahatan,
karena ia melecehkan saudara muslimnya” (HR Abu Hurairah Ra)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar