Sabtu, 18 Maret 2017

Benci itu Buta



Diriwayatkan dari Anas bin Malik R.A, bahwasannya Rasullulah Shallallahu alaihi wasalam bersabda, “Janganlah kalian saling membenci, saling dengki, dan saling bermusuhan. Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara. Dan tidak halal bagi bagi seorang muslim memboikot saudaranya lebih dari tiga hari” (HR Bukhari [6065] dan Muslim [2559])

Kadang dalam hidup kita secara sadar atau tidak pasti pernah mezalimin orang lain, begitu pula sebaliknya, ada kalanya kita di zalimin oleh orang lain, perbuatan zalim tentu selalu ada selama manusia hidup didunia ini, karena manusia itu tempatnya salah dan lupa. Bahkan kita tanpa sadar juga suka mezalimin diri kita sendiri, bukankah tubuh dan jiwa ini sepenuhnya milik Allah? Kadang kita tidak berbuat adil terhadap diri sendiri, kita sering lalai akan kewajiban kita kepada Allah, padahal Allah tidak pernah sedikit pun berbuat zalim kepada kita, hak-hak Allah lah yang sering kita langgar, maka Nabi Adam pun berdoa kepada Allah ketika dia melanggar perintah Allah untuk tidak mendekati pohon buah khuldi.
 
“Wahai Tuhan kami, kami sudah menganiaya diri kami sendiri, dan jika engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya termasuklah kami ke dalam orang-orang yang rugi”
Sebaik apapun kita, tidak ada yang menjamin jika kita terbebas dari kezaliman orang lain. Rasullulah adalah manusia yang paling baik akhlaknya, dan dikenal sebagai orang yang dapat dipercaya (Al Amin), baik terhadap manusia, taat beribadah kepada Allah, dijamin masuk surga, masih saja dizalimin oleh orang-orang kafir. Apalagi kita yang manusia biasa, yang akhlaknya belum sempurna, ibadah seadanya, belum ada jaminan masuk surga, apakah tidak mungkin kita juga dizalimin oleh orang lain?

Setiap perbuatan zalim manusia kepada kita pasti pasti ada perhitungannya disisi Allah, ketika kita dizalimin kita boleh membalas dengan hal yang sama yang mereka lakukan kepada kita, tapi memberikan maaf dan membalas dengan kebaikan kepada orang yang zalim kepada kita Allah pasti akan memberikan pahala yang lebih baik kepada kita.

“Dan bagi orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas tanggungan Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim” (QS Asy Syuuraa :39-40)

Tapi kenyataannya kadang tidak semudah itu, memaafkan kesalahan orang lain yang telah menzalimi diri kita, rasa benci telah membutakan maa hati kita, benci yang buta, hingga kita tidak dapat melihat sedikit pun kebaikan dari orang yang mezalimi kita, orang yang mezalimi kita tak jarang adalah orang-orang yang dekat dengan kita, bisa pasangan hidup kita, keluarga kita, sahabat kita, atau tetangga kita. Kadang kebencian membakar habis seluruh kebaikan manusia, semoga Allah lindungi kita dari rasa benci dan dendam terhadap saudara kita, semoga Allah berikan kelapangan kepada hati kita untuk dapat memaafkan kesalahan orang lain, lihatlah bagaimana mulianya Rasullulah ketika ia dizalimin oleh orang lain.

1.       Ghazwah Uhud
Nabi mendapatkan luka pada wajahnya dan juga patah beberapa giginya, Berkatalah salah seorang sahabatnya,  “Cobalah doakan agar mereka celaka” Nabi menjawab “Aku sekali-kali tidak diutus untuk melaknat seseorang tetapi aku diutus untuk mengajak kepada kebaikan sebagai rahmat”

2.       Ghazwah Khaibar
Khaibar adalah perkampungan Yahudi, Zainab binti Al Harist, istri salam bin miskam salah seorang pemimpin Yahudi berhasil memperoleh hadiah karena telah membubuhkan racun pada paha kambing panggang yang disajikan kepada Rasullulah. Ketika itu Rasullulah makan dengan Bisyir bin Bara bin Ma’rur, Bisyir sempat menelan daging yang beracun itu, tetapi Nabi baru mengunyahnya lalu dimuntahkan kembali sambil berkata “Daging ini memberitakan kepadaku bahwa dia beracun” Selang beberapa hari kemudian Bisyir meninggal dunia. Kemudian Nabi memanggil wanita yang kejam dan berkata kepadanya “Mengapa sampai hati kamu melakukan  perbuatan seperti itu” wanita itu menawab “Tiada tersembunyi lagi hasrat kaumku untuk membunuh tuan, sekiranya tuan seorang raja tentu akan mati karena racun itu dan kami akan merasa senang. Tetapi jika tuan seorang nabi, tentu tuan akan diberitahu oleh Allah bahwa daging itu beracun, dan ternyata tuan adalah seorag nabi” pada saat itu nabi berkuasa untuk membalasnya, namun akhirnya wanita itu dimaafkan dan dilepaskan.

3.       Menghadapi Du’tsur (Seorang arab kafir)
Du’tsur suatu ketika mendapati Rasullulah sedang duduk dibawah pohon yang rindang dan ketiduran, lalau Du’tsur mengambil pedang beliau serta menghunusnya sambil mengancamnya kepada beliau dengan ucapan “Siapa yang dapat membelamu daripada aku sekarang ini?” dengan tegas nabi menjawab “Allah” orang itupun gemetar, sehingga pedang yang ada ditangannya terjatuh dan segera dipungut oleh Nabi yang kemudian mengancamkannya kembali kepada Du’tsur “Sekarang siapa yang membelamu daripadaku hari ini?”, Du’tsur menjawab “tidak seorang pun” tetapi yang dilakukan oleh Nabi malah memaafkannya, Du’tsur pulang kedesanya dan menceritakan hal itu kepada tetangganya dan handai taulan, bahwa ia semestinya ia sudah mati, tetapi Muhammad adalah orang yang berbudi  luhur. Du’tsur pun mengajak teman-temannya untuk masuk Islam.

                Nabi punya banyak kesempatan untuk membalas orang-orang yang telah mezalimi dirinya, tapi nabi memilih untuk mengampuni dan memberikan maaf kepada mereka, sesunguhnya Allah Maha Pemaaf, dan hanya kesombongan bagi manusia yang tidak mau memberikan maaf pada saudaranya, semoga Allah golongkan kita sebagai orang-orang yang beriman, yang berlapang dada mau memaafkan kesalahan saudaranya. Inilah salah satu wasiat  Nabi kepada kita,

“Janganlah kalian saling dengki,saling memfitnah, saling membenci, saling memusuhi, dan jangan pula saling menelikung transaksi orang lain. Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslimnya yang lain, ia tidak mezhaliminya, tidak mempermalukannya, tidak mendustakanya dan tidak pula melecehkannya. “Takwa tempatnya adalah disini”  seraya Nabi Shallahu alaihi wasalam menunjuk kedadanya tiga kali. “Telah pantas seseorang disebut melakukan kejahatan, karena ia melecehkan saudara muslimnya” (HR Abu Hurairah Ra)
               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar