Jumat, 10 Maret 2017

Amarah



“Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang” (QS Yusuf :53)

Dalam hidup kita sering kali menghadapi masalah, yang tidak jarang membuat amarah kita menjadi naik, nafsu kita membuat kita tidak lagi berfikir rasional, hingga perkataan dan perbuatan kita sering kali menjadi tidak terkendali. Ya, Setan memang senang sekali menggoda manusia, ia senang melihat manusia bertengkar, berselisih, dan bercerai. 

Kadang ketika kita marah, kita malah berlaku tidak adil kepada manusia, iya manusia pasti pernah salah, semua manusia itu pasti pernah salah termasuk kita sendiri, tapi kadang kita sulit untuk memaafkan kesalahan orang lain

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa” (QS Al-Maidah : 8)

Memang tidak mudah memaafkan kesalahan orang lain, hati kita sakit, tapi sampai kapan kita mau menyimpan duri dalam hati kita, menyimpan kebencian dan rasa dendam pada orang yang telah manyakiti kita tidak akan membuat kita menjadi tenang dan nyaman, maafkanlah.... biar Allah yang memberikan balasan bagi orang yang telah menyakiti hati kita, kita tidak dihisab karena kesalahan orang lain kepada kita, tapi kita akan dihisab atas perbuatan dan kesalahan kita kepada orang lain.

Rasullulah adalah manusia yang paling mulia, selalu memaafkan kesalahan orang lain, ia tidak akan marah jika ada manusia yang menyakitinya, Rasul akan marah jika batasan syariat Allah dilanggar
Ummul mukminun Aisyah Radhiyallahu’anha berkata “Rasullulah Shallaallahu alaihi wasallam tidak pernah marah karena  (urusan) diri pribadi beliau, kecuali jika dilanggar batasan syariat Allah, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam akan marah dengan pelanggaran tersebut karena Allah” (HR Bukhari no 3367)

Sifat marah merupakan bara api yang dikobarkan oleh setan dalam hati manusia untuk merusak agama dan diri mereka , karena denga kemarahan seseoran bisa menjadi gelap mata sehingga dia bisa melakukan tindakan atau mengucapkan perkataan yang berakibat buruk bagi diri dan agamanya. Oleh karena itu, hamba-hamba Allah yang bertakwa, meskipun mereka tidak luput dari rasa marah , akan tetapi mereka berusaha melawan keinginan hawa nafsu, maka mereka pun  selalu mampu meredam kemarahan mereka karena Allah Ta’ala.

Allah memuji mereka :
“Orang-orang yang bertakwa adalah orang yang menafkahkan (harta mereka) baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan kesalahan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS  Ali Imran : 134)

Semoga Allah ampuni segala dosa dan kesalahan kita, dan memberikan kita kelapangan hati untuk mau memaafkan kesalahan orang lain, dalam sebuah hadist Rasullulah bersabda kepada Uqbah :
“Ya Uqbah maukah engkau kuberitahukan tentang akhlak penghuni dunia akhirat yang paling utama” “Apa itu ya Rasullulah?”  “Yaitu menghubungi orang yang memutuskan hubungan denganmu, memberi orang yang menahan pemberiannya kepadamu, memaafkan orang-orang yang pernah menganiayamu” (HR. Al-Hakim dari Uqbah bin Amir Al-Jauhani)

Janganlah kita bersikukuh untuk enggan memaafkan orang lain, karena akan menyebabkan dosa kita tidak pernah diampuniNya, Bukankah ini merupakan kerugian besar yang menimpa seseorang?

“Dan Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS An Nuur :22)

“Barang siapa yang tidak mau memberi ampun kepada orang, maka ia tidak akan diberi ampun” (HR Ahmad dari Jabir bin Abdullah Ra)
Semoga Allah melapangkan hati kita memaafkan kesalahan orang lain... aamiin.

Bandung, 10 Maret 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar