“Dan aku tidak (menyatakan)
diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong
kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya
Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang” (QS Yusuf :53)
Dalam hidup kita sering kali
menghadapi masalah, yang tidak jarang membuat amarah kita menjadi naik, nafsu
kita membuat kita tidak lagi berfikir rasional, hingga perkataan dan perbuatan
kita sering kali menjadi tidak terkendali. Ya, Setan memang senang sekali
menggoda manusia, ia senang melihat manusia bertengkar, berselisih, dan
bercerai.
Kadang ketika kita marah, kita
malah berlaku tidak adil kepada manusia, iya manusia pasti pernah salah, semua
manusia itu pasti pernah salah termasuk kita sendiri, tapi kadang kita sulit
untuk memaafkan kesalahan orang lain
“Dan janganlah sekali-kali
kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku
adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa” (QS Al-Maidah : 8)
Memang tidak mudah memaafkan
kesalahan orang lain, hati kita sakit, tapi sampai kapan kita mau menyimpan
duri dalam hati kita, menyimpan kebencian dan rasa dendam pada orang yang telah
manyakiti kita tidak akan membuat kita menjadi tenang dan nyaman,
maafkanlah.... biar Allah yang memberikan balasan bagi orang yang telah
menyakiti hati kita, kita tidak dihisab karena kesalahan orang lain kepada
kita, tapi kita akan dihisab atas perbuatan dan kesalahan kita kepada orang
lain.
Rasullulah adalah manusia yang
paling mulia, selalu memaafkan kesalahan orang lain, ia tidak akan marah jika
ada manusia yang menyakitinya, Rasul akan marah jika batasan syariat Allah
dilanggar
Ummul mukminun Aisyah
Radhiyallahu’anha berkata “Rasullulah Shallaallahu alaihi wasallam tidak pernah
marah karena (urusan) diri pribadi
beliau, kecuali jika dilanggar batasan syariat Allah, maka beliau Shallallahu ‘alaihi
wasallam akan marah dengan pelanggaran tersebut karena Allah” (HR Bukhari no
3367)
Sifat marah merupakan bara api
yang dikobarkan oleh setan dalam hati manusia untuk merusak agama dan diri
mereka , karena denga kemarahan seseoran bisa menjadi gelap mata sehingga dia
bisa melakukan tindakan atau mengucapkan perkataan yang berakibat buruk bagi
diri dan agamanya. Oleh karena itu, hamba-hamba Allah yang bertakwa, meskipun
mereka tidak luput dari rasa marah , akan tetapi mereka berusaha melawan
keinginan hawa nafsu, maka mereka pun
selalu mampu meredam kemarahan mereka karena Allah Ta’ala.
Allah memuji mereka :
“Orang-orang yang bertakwa adalah
orang yang menafkahkan (harta mereka) baik diwaktu lapang maupun sempit, dan
orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan kesalahan orang lain. Allah
menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS Ali Imran : 134)
Semoga Allah ampuni segala dosa
dan kesalahan kita, dan memberikan kita kelapangan hati untuk mau memaafkan
kesalahan orang lain, dalam sebuah hadist Rasullulah bersabda kepada Uqbah :
“Ya Uqbah maukah engkau
kuberitahukan tentang akhlak penghuni dunia akhirat yang paling utama” “Apa itu
ya Rasullulah?” “Yaitu menghubungi orang
yang memutuskan hubungan denganmu, memberi orang yang menahan pemberiannya
kepadamu, memaafkan orang-orang yang pernah menganiayamu” (HR. Al-Hakim dari
Uqbah bin Amir Al-Jauhani)
Janganlah kita bersikukuh untuk
enggan memaafkan orang lain, karena akan menyebabkan dosa kita tidak pernah
diampuniNya, Bukankah ini merupakan kerugian besar yang menimpa seseorang?
“Dan Hendaklah mereka memaafkan
dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah
adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS An Nuur :22)
“Barang siapa yang tidak mau
memberi ampun kepada orang, maka ia tidak akan diberi ampun” (HR Ahmad dari
Jabir bin Abdullah Ra)
Semoga Allah melapangkan hati
kita memaafkan kesalahan orang lain... aamiin.
Bandung, 10 Maret 2017

Tidak ada komentar:
Posting Komentar