"Dirikanlah Shalat dan berqurbanlah"
(QS Al-Kautsar :2)
Seminggu lagi Idul Adha, beberapa
ruas jalan kini mulai didatangi para penghuni baru, hewan-hewan berkaki empat,
yang entah dari mana asalnya mulai datang ke penjuru ibu kota, tidak terkecuali
kota saya, Bandung. Tahun lalu saya berkurban, alhamdullilah, dari kantor pun
dapat jatah untuk kurban, alhasil saya berkurban dikantor, sementara uang
pribadi saya untuk kurban saya serahkan untuk bapak, biar bapak juga berkurban.
Tahun ini, kenapa rasanya saya
jadi ragu-ragu, memang sudah beberapa tahun saya bekerja, namun karena banyak
kewajiban ini itu, saya baru bisa berkurban tahun kemarin, menyedihkan bukan?
Dan tahun ini kenapa niat saya untuk berkurban menjadi setengah-setengah. Saya
hanya punya 2 tabungan pribadi, satu tabungan haji, satu lagi tabungan untuk
nikah. Yang jika digabungkan rasanya bisa untuk biaya umroh satu orang, haji
dan nikah…, dua-duanya saya mau. Dan ketika musim Haji seperti ini, disaat
masuk 10 Hari pertama Dzulhijah rasanya perasaan saya mulai tak menentu, saya
ingin menunaikan ibadah haji…, entah harus menabung berapa lama lagi, tapi saya
sudah berazam untuk bisa menunaikan ibadah ini sebelum umur saya genap 30
tahun, itu artinya tahun 2017, saya berharap bisa berhaji.
Soal kurban, ibu dan bapak tidak
tau sudah berapa banyak tabungan saya, mereka hanya tau bahwa saya punya
tabungan haji, itu saja. Dan mereka tidak bertanya pula apakah saya akan
berkurban atau tidak. Yah, saya tau kurban tidak wajib, tapi hukumnya sunah
muakad, meskipun beberapa ulama ada yang sampai mewajibkan bagi siapa saja yang
memiliki kelebihan harta. Sampai senin kemarin, saya datang kesebuah majelis
Ilmu, yang diisi oleh Ustad Komar, temanya sederhana, kiat-kiat menghadapi
masalah, menurut Ustad ada 5 kiat menghadpai masalah :
Siap dengan kemungkinan cocok atau tidak cocok, jangan berburuk sangka kepada Allah, karena apa yang di berikan tidak sama dengan yang diminta, tidak semua doa kita dikabulkan saat itu juga, ada kondisi saat pengabulan doa tidak cocok, atau tidak sesuai dengan yang diminta, Kalau sudah terjadi harus Ridha, Jangan mempersulit diri, Evaluasi diri, Hasbunallah Wa’nimal Wakil (Cukuplah Allah Sebagai Penolong).
Siap dengan kemungkinan cocok atau tidak cocok, jangan berburuk sangka kepada Allah, karena apa yang di berikan tidak sama dengan yang diminta, tidak semua doa kita dikabulkan saat itu juga, ada kondisi saat pengabulan doa tidak cocok, atau tidak sesuai dengan yang diminta, Kalau sudah terjadi harus Ridha, Jangan mempersulit diri, Evaluasi diri, Hasbunallah Wa’nimal Wakil (Cukuplah Allah Sebagai Penolong).
Ceramahnya sederhana, tapi sangat mengena
dihati. Ustad tidak spesifik membahas Bulan Dzulhijah atau tentang Kurban,
hanya diakhir tausyiah, beliau mengajak dan memberikan nasehat untuk berkurban,
bagi siapa saja yang mampu. Dan saya pun tertegun cukup lama, hingga meneteskan
air mata ketika Ustad menutup doanya dengan serangkaian doa, ada rindu yang
menyeruak dihati, akan kerinduan pada tanah haram, rasanya doa tidak akan
pernah selesai diucapkan meski Allah mengabulkan doa kita satu persatu,
bukankah doa memang bentuk kepasrahan kita sebagai hamba? Bukti kelemahan diri,
bahwa kita hanya seonggok daging yang hina tanpa kasih sayang dan rahmat
dariNya, hari ini saya meminta jodoh dan pasangan hidup yang baik, mungkin
besok setelah menikah saya akan meminta keturunan, saat sudah punya keturunan,
saya pasti akan berdoa minta diberikan cucu, dan teruslah saya meminta dan
meminta, berdoa dan berdoa kepada Allah.
Dan akhirnya saya menyerah dengan keegoan
saya.
“Saya berkurban tahun ini”
Ibu tau tadi pagi saya izin berangkat lebih
awal ke kantor karena saya ingin mengikuti sebuah “Majelis Ilmu” dan ketika
sudah sampai dirumah saya utarakan niat saya kepada Ibu
“Bu, aku mau kurban…, gapapa yah?”
Sekali lagi, ibu tak pernah tau ada berapa
digit angka 0 direkening saya, pun ibu tidak tau kalau saya punya punya
beberapa rekening, tidak tau simpanan tabungan saya ada berapa, hanya ibu tau
anaknya ini rajin sekali menabung.
“Ya gapapalah, alhamdullilah, kenapa? Dapat
tausyiah apa dari Ustad tadi pagi, ko tiba-tiba bilang ingin kurban, padahal
kemarin diem-diem aja.
“Gak tau bu, pengen aja. Aku punya sedikit
tabungan, rencananya itu tabungan untuk persiapan aku nikah nanti, gak banyak
sih, tapi aku mikir lagi, saat ini aku lagi gak proses sama siapa pun, gak lagi
taaruf sama siapapun, lah aku mau nikah sama siapa? Dan biarlah, nanti Allah
yang ngatur, kalo aku harus nikah, Allah pasti sudah menyiapkan segala
sesuatunya, termasuk rizky aku”
Ada sesak didada yang tidak bisa aku
jelaskan.
“Insya Allah, Allah Maha Baik, Maha Kaya,
mudah-mudahan rizky kamu barakah, nikah nanti pasti ada jalannya, Allah akan
mengirim laki-laki yang baik dan sholeh buat kamu, seseorang yang sangat sesuai
dengan kriteriamu, mudah-mudahan rizky kamu diganti lebih banyak sama Allah,
aamiin”
Aamiin, makasih bu…
Ibu tau persis seperti apa anaknya ini, dan
satu doa yang tak pernah aku lafalkan secara langsung, ibu masih mengingatnya
hingga kini, permintaan keterlaluan menurutku, tapi tidak untuk Allah, tidak
ada doa yang terlalu besar untuk Yang Maha Besar, tidak ada doa yang ditolak
untuk Yang Maha Pengasih, dan tidak ada doa yang salah, untuk Yang Maha
Mengabulkan.
Berdoalah…, berdoalah…., mungkin besok adalah waktu pengabulan doamu.
Bandung, 18 September 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar