Jumat, 18 September 2015

Berkurban Lagi

"Dirikanlah Shalat dan berqurbanlah"
(QS Al-Kautsar :2)


Seminggu lagi Idul Adha, beberapa ruas jalan kini mulai didatangi para penghuni baru, hewan-hewan berkaki empat, yang entah dari mana asalnya mulai datang ke penjuru ibu kota, tidak terkecuali kota saya, Bandung. Tahun lalu saya berkurban, alhamdullilah, dari kantor pun dapat jatah untuk kurban, alhasil saya berkurban dikantor, sementara uang pribadi saya untuk kurban saya serahkan untuk bapak, biar bapak juga berkurban.

Tahun ini, kenapa rasanya saya jadi ragu-ragu, memang sudah beberapa tahun saya bekerja, namun karena banyak kewajiban ini itu, saya baru bisa berkurban tahun kemarin, menyedihkan bukan? Dan tahun ini kenapa niat saya untuk berkurban menjadi setengah-setengah. Saya hanya punya 2 tabungan pribadi, satu tabungan haji, satu lagi tabungan untuk nikah. Yang jika digabungkan rasanya bisa untuk biaya umroh satu orang, haji dan nikah…, dua-duanya saya mau. Dan ketika musim Haji seperti ini, disaat masuk 10 Hari pertama Dzulhijah rasanya perasaan saya mulai tak menentu, saya ingin menunaikan ibadah haji…, entah harus menabung berapa lama lagi, tapi saya sudah berazam untuk bisa menunaikan ibadah ini sebelum umur saya genap 30 tahun, itu artinya tahun 2017, saya berharap bisa berhaji.

Soal kurban, ibu dan bapak tidak tau sudah berapa banyak tabungan saya, mereka hanya tau bahwa saya punya tabungan haji, itu saja. Dan mereka tidak bertanya pula apakah saya akan berkurban atau tidak. Yah, saya tau kurban tidak wajib, tapi hukumnya sunah muakad, meskipun beberapa ulama ada yang sampai mewajibkan bagi siapa saja yang memiliki kelebihan harta. Sampai senin kemarin, saya datang kesebuah majelis Ilmu, yang diisi oleh Ustad Komar, temanya sederhana, kiat-kiat menghadapi masalah, menurut Ustad ada 5 kiat menghadpai masalah :
Siap dengan kemungkinan cocok atau tidak cocok, jangan berburuk sangka kepada Allah,                   karena apa yang di berikan tidak sama dengan yang diminta, tidak semua doa kita dikabulkan saat       itu juga, ada kondisi saat pengabulan doa tidak cocok, atau tidak sesuai dengan yang diminta, Kalau sudah terjadi harus Ridha, Jangan mempersulit diri, Evaluasi diri, Hasbunallah Wa’nimal Wakil (Cukuplah Allah Sebagai Penolong).

Ceramahnya sederhana, tapi sangat mengena dihati. Ustad tidak spesifik membahas Bulan Dzulhijah atau tentang Kurban, hanya diakhir tausyiah, beliau mengajak dan memberikan nasehat untuk berkurban, bagi siapa saja yang mampu. Dan saya pun tertegun cukup lama, hingga meneteskan air mata ketika Ustad menutup doanya dengan serangkaian doa, ada rindu yang menyeruak dihati, akan kerinduan pada tanah haram, rasanya doa tidak akan pernah selesai diucapkan meski Allah mengabulkan doa kita satu persatu, bukankah doa memang bentuk kepasrahan kita sebagai hamba? Bukti kelemahan diri, bahwa kita hanya seonggok daging yang hina tanpa kasih sayang dan rahmat dariNya, hari ini saya meminta jodoh dan pasangan hidup yang baik, mungkin besok setelah menikah saya akan meminta keturunan, saat sudah punya keturunan, saya pasti akan berdoa minta diberikan cucu, dan teruslah saya meminta dan meminta, berdoa dan berdoa kepada Allah.

Dan akhirnya saya menyerah dengan keegoan saya.

“Saya berkurban tahun ini”

Ibu tau tadi pagi saya izin berangkat lebih awal ke kantor karena saya ingin mengikuti sebuah “Majelis Ilmu” dan ketika sudah sampai dirumah saya utarakan niat saya kepada Ibu

“Bu, aku mau kurban…, gapapa yah?”

Sekali lagi, ibu tak pernah tau ada berapa digit angka 0 direkening saya, pun ibu tidak tau kalau saya punya punya beberapa rekening, tidak tau simpanan tabungan saya ada berapa, hanya ibu tau anaknya ini rajin sekali menabung.

“Ya gapapalah, alhamdullilah, kenapa? Dapat tausyiah apa dari Ustad tadi pagi, ko tiba-tiba bilang ingin kurban, padahal kemarin diem-diem aja.

“Gak tau bu, pengen aja. Aku punya sedikit tabungan, rencananya itu tabungan untuk persiapan aku nikah nanti, gak banyak sih, tapi aku mikir lagi, saat ini aku lagi gak proses sama siapa pun, gak lagi taaruf sama siapapun, lah aku mau nikah sama siapa? Dan biarlah, nanti Allah yang ngatur, kalo aku harus nikah, Allah pasti sudah menyiapkan segala sesuatunya, termasuk rizky aku”

Ada sesak didada yang tidak bisa aku jelaskan.

“Insya Allah, Allah Maha Baik, Maha Kaya, mudah-mudahan rizky kamu barakah, nikah nanti pasti ada jalannya, Allah akan mengirim laki-laki yang baik dan sholeh buat kamu, seseorang yang sangat sesuai dengan kriteriamu, mudah-mudahan rizky kamu diganti lebih banyak sama Allah, aamiin”

Aamiin, makasih bu…
Ibu tau persis seperti apa anaknya ini, dan satu doa yang tak pernah aku lafalkan secara langsung, ibu masih mengingatnya hingga kini, permintaan keterlaluan menurutku, tapi tidak untuk Allah, tidak ada doa yang terlalu besar untuk Yang Maha Besar, tidak ada doa yang ditolak untuk Yang Maha Pengasih, dan tidak ada doa yang salah, untuk Yang Maha Mengabulkan.

Berdoalah…, berdoalah…., mungkin besok adalah waktu pengabulan doamu.

Bandung, 18 September 2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar