Jumat, 27 Februari 2015

Undangan

Jodoh kita sudah tertulis di Lauhul Mahfuzh. Mau diambil dari jalan halal ataupun haram, dapatnya yang itu juga. Yang beda rasa berkahnya. 
Ustad Salim A.Fillah

Beberapa hari yang lalu saya menerima undangan pernikahan dari salah seorang sahabat ditempat kerja, ia seorang laki-laki yang seumuran dengan saya, setelah beberapa tahun menjalin kasih dengan adik kelasnya, akhirnya ia mengakhiri masa lajangnya dibulan Maret..., bulan saya harusnya hehehehe.... Ia adalah seorang pecinta bola, pencinta setan merah, MU sejati, yang sering kali membully saya kalo Liverpool kalah -___-
Saya tidak tau ini undangan yang keberapa kali yang saya terima, tapi beliau salah satu sahabat yang cukup dekat dengan saya, jadi singkat cerita saya ingin datang keundangan nikahnya dengan baju yang paling baik.

Saya bukan seorang Hijaber, tidak begitu paham tentang fashion, tapi saya tidak buta fashion...., dari buku Yuk Berhijab, sampai bukunya Dian Pelangi tentang Fashion saya punya, hehehe... Saya akhirnya mampir disebuah butik kecil, ini tidak seperti butik-butik mewah yang menjual busana muslim dengan harga selangit, perancang-perancang terkenal hijaber, atau artis-artis yang hijaber dan Syar'i tentu harga bajunya tidak murah, rata-rata diatas Rp 500.000, mungkin gaji saya yang tidak begitu besar, atau mungkin saya yang terlalu hemat, tapi saya berfikir ulang jika ingin membeli baju diatas setengah juta, pertama merasa malu dengan kehidupan orang yang saya cintai (Nabi Muhammmad), kedua saya merasa ada banyak orang yang hidupnya jauh lebih susah, dan perlu dibantu.

Jadi singkat cerita saya datang ke sebuah toko busana muslim untuk membeli pakaian, kebetulan yang menjaganya hanya satu orang, ibu separuh baya yang nampak begitu ramah, beberapa baju ia tawarkan, entahlah saya tadinya ingin mencari gamis warna hitam, tapi saya urungkan, karena saya mau datang kenikahan, bukan untuk berkabung (ingat kebiasaan orang yahudi -__-) dan setalah beberapa kali mencoba akhirnya saya menemukan satu baju muslim yang cocok dengan saya. Ibu itu merekomendasikan beberapa gaun cantik kepada saya, mulai dari yang glamour sampai yang elegan sederhana, saya lihat harganya masih manusiawi, meski mungkin lebih mahal dari harga baju yang dipakai sehari-hari.

Dan setelah menemukan yang cocok, serta membayar baju itu, ibu itu berkata kepada saya
"Mudah-mudahan bajunya kepakai dan manfaat yang neng, bikin neng tambah cantik, mudah-mudahan segera dipertemukan dengan jodohnya"

"Aamiin...., makasih Ibu... bosen saya keundangan terus, ntar giliran saya yang ngundang orang ya bu"

Ah... ibu, seseorang yang baru saya kenal, yang bahkan namanya saja tidak saya tau, begitu tulus mendoakan kebaikan bagi hidup saya, saya sudah terlalu lama sendiri, seperti kata Kuntoaji, sudah terlalu lama pula di bully karena gak nikah-nikah oleh banyak orang (yang katanya dekat dengan saya -__-), sudah terlalu sabar juga dinnyayikan lagu Kuntoaji oleh murid-murid dikelas. Mudah-mudahan kesabaran saya menjadi ladang pahala bagi saya, dan memberikan banyak kebaikan bagi hidup saya. aamiin

Bandung, 27 februari 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar