Rabu, 18 Februari 2015

UI

 “No matter how your heart is grieving, if you keep on believing, the dreams that you wish will come true.”

Saya teringat 11 tahun lalu, saat meninggalkan bangku SMA, saat harus memutuskan dan memilih mau melanjutkan pendidikan kemana. Kondisi keluarga saya pada saat itu tidak bisa dikatakan baik-baik saja, karena saya tau biaya pendidikan itu mahal, dimana ketiga kakak saya juga sama-sama berjuang menyelesaikan pendidikannya dikampus yang berbeda, saya anak keempat sekaligus anak terakhir merasa harus tau diri untuk tidak menuntut macam-macam, dengan segala keterbatasan, saya harus tetap melanjutkan pendidikan saya kalo saya mau berusaha, karena pada saat itu ayah saya berkata "Kalau kamu keterima di PTN, bapak akan mengusahakan biaya pendidikan kamu, kalau tidak keterima, bapak tidak mampu membiayai kuliah kamu"

Dan ketika memilih jurusan, saya sempat berkata saya ingin melanjutkan kuliah ke UI, tapi saya tau kondisi ayah saya pada saat itu sudah tidak bekerja, beliau hanya seoarang pensiunan BUMN yang uang pensiunnya dihabiskan untuk biaya kuliah keempat anaknya, kakak saya yang pertama pun seingat saya belum lulus, ia hampir tujuh tahun menyelesaikan kuliahnya disalah satu PTN di kota hujan. Ayah saya hanya bilang pada saya, jangan jauh-jauh kuliahnya, mengingat jakarta seperti apa, dan saya anak perempuan, anak terakhir pula, meski saya tau keluarga besar ibu semuanya tinggal di Jakarta, ayah saya tidak mau saya merepotkan keluarga yang di Jakarta.

Alahasil, saya hanya bisa memilih PTN yang diBandung, saya melihat bagaimana kakak saya yang kuliah di Jatinangor, pergi pagi pulang malam, harus naik bis damri pulang pergi, aaaah... melihatnya saja saya sudah lelah. Akhirnya saya putuskan memilih FE UNPAD yang di jalan Dipati Ukur. Nyatanya, saya salah jurusan, terlalu tinggi, mungkin, dan akhirnya saya diterima di pilihan kedua, UPI. Hingga akhirnya lulus, meski tidak menyandang status cumloude.

Tapi entah kenapa, rasanya hingga detik ini masih ingin untuk bisa kuliah dan melanjutkan pendidikan di UI, seuumur hidup saya ke jakarta, saya belum pernah mampir ke UI, melewat saja pernah. Tapi belum pernah masuk kekampus itu, padahal saudara saya ada yang kuliah disana. Dan tau kah rasanya bagaimana membantu murid yang akhirnya bisa masuk UI, itu sangat luar biasa, saya senang bukan main, ketika salah satu murid saya di bimbingan belajar bisa masuk UI, FE pula. Fakultas yang memang ingin saya pilih dulu.
Apalagi ketika melihat berita, beberapa mahasiswa yang berdemo dan mengenakan jas almamater berwarna kuning itu.

Hanya ingin..., bukan butuh. Mungkin jika niat saya bulat bisa saja saya mencari beasiswa kesana kemari untuk bisa melanjutkan pendidikan disana. Tapi rasanya masih banyak prioritas lain yang harus saya tunaikan, masih banyak kewajiban lain yang harus saya kerjakan, kalau dibilang impian, mungkin iya, tapi mudah-mudahan jika suatu saat Allah menitipkan rizky dan kesempatan, ingin rasanya sekolah lagi disana.

Bandung, 18 Februari 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar