Kamis, 11 Desember 2014

Filosofi Masak

"Ibu yang hebat adalah ibu yang pandai memasak"


Itu quotes saya, quotes yang nantinya bakal jadi motivasi buat saya, untuk terus belajar memasak dari Ibu... dan Ibu Mertua nanti (aamiin). Mmmmh, memasak? itu adalah salah satu hal yang harus dikuasai oleh manusia, selama manusia hidup, tentu memasak menjadi bagian terpenting dalam kelangsungan hidup kita dimuka bumi ini, memasak bukan hanya kemampuan yang didasarkan pada gender, nyatanya sekarang banyak chef-chef yang ganteng dan keren-keren yang jago masak, tiba-tiba ingat chef Arnold dan chef Juna :p

Orang yang pandai menulis adalah orang yang pandai membaca, begitu juga dengan memasak, idealnya kalau seseorang suka makan, harusnya ia juga pandai dalam memasak, sayangnya hal itu tidak berlaku pasti, karena dalam kenyataan, perempuan yang secara kodrat harusnya pandai memasak, tak sedikit yang tidak bisa memasak, dan malas belajar masak, membedakaan ketumbar dengan merica butiran saja sulit, apalagi membedakan jahe dengan lengkuas hahahahaha...

Saya? bisa masak? yah... masak bisa, namun belum sepandai Ibu, masakan saya belum seenak dan sehebat masakan ibu, tapi saya orangnya mau belajar ko, Insya Allah pasti bisa. Sayangnya tidak banyak orang yang paham akan memasak, memasak itu tidak sesederhana yang terlihat, akhirnya saya bisa memahami, mengapa kalau makan di Restoran, harga masakan menjadi lebih mahal, harganya bisa jadi dua bahkan tiga kali lipat dari harga yang seharusnya jika kita buat sendiri.

Maka..., sekali-kali bantulah Ibumu dirumah, rasakan bagaimana mengurus rumah tangga, bangun sebelum azan shubuh dan tidur setelah memastikan suami dan anak-anak sudah makan malam dengan tenang. Saya sudah biasa membantu Ibu dirumah, jadi saya tau betapa lelahnya menjadi seorang Ibu rumah tangga. Terutama tentang masak. Jika ingin memasak saya sarankan kamu untuk belanja kepasar Tradisional, disana daging, sayuran, dan buah-buahan masih sangat segar, harganya murah, dan bisa ditawar.

Setelah menentukan menu hari ini, saya kepasar belanja bersama ibu, pulang dari pasar saya dan Ibu langsung mengolah makanan yang mau dimasak, menu tiap hari seringnya berbeda, dan penentuan menu biasanya mengikuti saya, soalnya saya yang paling susah makan dirumah (maap). Gabungan antara protein hewani dan nabati, harus ada. Jika masak daging atau Ikan, tentu harus memasak sayurnya, contoh kalo mau goreng ayam temannya sayur sop, atau kalo mau goreng ikan, temannya sayur asem, atau tumis kangkung, untuk pencuci mulut, kalau gak beli buah, biasanya buat ager-ager atau puding.

Mencuci Ikan atau ayam? Ini masih bagian Ibu, saya kalau didapur lebih tepat sebagai asisten, jadi saya akan mengiris ngiris bumbu, dan memetik sayuran-sayuran, setelah itu baru diadonin dengan bumbu-bumbu, ditumis, digoreng, atau direbus, jika masak berdua dengen menu sederhana seperti diatas, biasanya 1 jam sudah selesai, tapi kalo menunya lebih banyak, plus menggunakan santan, bisa lebih dari 2 jam, apalagi kalo membuat menu tambahan seperti perkedel atau tempe dengan adonan tepung, itu bisa lebih lama.

Selesai memasak, tentu perabotan, macam mangkok, piring, panci, katel semuanya kotor, biasanya saya langsung mencuci semuanya, tapi kalau sudah capek, ya saya makan dulu, beres makan, semua perabotan itu dicuci, subhanallah... Kalo dimulai dari jam 6 pagi, biasanya jam 8 atau jam 9 baru beres.

Tapi rasa lelah itu biasanya hilang, ketika bapak atau kakak saya memuji masakan Ibu, mereka makan dengan lahap dan tambah lagi makannya rasanya rasa lelah itu terbayar habis. Dan saya yang tidak terlalu suka makan diluar, merasa lebih senang bisa memasak banyak menu makanan dirumah sendiri. Nyatanya banyak makanan-makanan restoran yang menunya amat sangat sederhana, dan bisa dibuat sendiri dirumah.

Saya fikir dengan kemajuan teknologi sekarang ini memasak harusnya menjadi lebih mudah, resep makanan apapun banyak dicari diInternet, jika mau liat praktisnya bisa liat di you tube, jadi rasanya tidak alasan untuk malas ke dapur. Dibuku Perempuan Bidadari, karangan Chio katanya salah satu perempuan yang baik dijadikan Istri itu adalah perempuan yang bisa memasak, meskipun saya tau, memasak tidak sesederhana keliatannya, tapi saya sangat ingin membuat suami serta anak-anak saya kelak merasa bahagia, dengan masakan yang saya buat.

Filosofi memasak..., dengan memasak kamu akan membuat orang bahagia, ketika seseorang bahagia karena masakanmu, tentu ia akan menyanyangimu dan ia akan merasa kehilangan keberadaan kamu saat ia sudah kecanduan masakan buatanmu.

Jadi... mari luangkan waktu untuk belajar memasak, jadikan masak menjadi sebuah kebutuhan, banyak-banyaklah membantu Ibu didapur, saya merasakan sendiri berkahnya, jika kamu rajin membantu Ibu, tanpa diminta Ibu akan menurunkan kemampuan memasaknya sama kamu, percayalah. :D

Bandung, 11 Desember 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar