Jumat, 26 April 2013

Tulang Punggung


Entah kenapa dalam hidup saya melihat bagaimana seseorang hidup bukan untuk diri sendiri, tapi saya melihat bagaimana seseorang hidup sebagai tulang punggung, yah... seseorang yang menghidupi banyak nyawa... seseorang yang menyambung nyawa manusia, hingga ia bisa hidup layak hingga saat ini.



Belakangan... media-media sosial ramai-ramai menceritakan Tasripin, seorang bocah ingusan yang berada didesa pelosok yang harus menjadi tulang punggung keluarganya, anak yatim yang tinggal pergi ayahnya ini, harus bertahan hidup untuk ketiga adiknya yang juga masih bocah. Bisakah terbayangkan, seseorang diusia yang masih sekecil itu harus menanggung beban hidup yang begitu berat? Bocah yang mungkin masih buta huruf ini dengan ikhlas mengurus diri dan ketiga adik-adiknya, seorang anak yang harusnya hidup bahagia dengan masa anak-anaknya, bisa bermain dan belajar, harus menjadi orang tua, merangkap pekerjaan sebagai Ayah sekaligus Ibu untuk adik-adiknya....

Sebenarnya masih banyak anak-anak seperti tasripin dinegeri ini, dan nyatanya... saya tidak akan membahas lebih jauh tentang ini, saya hanya kagum kepada mereka yang menjadi tulang punggung keluarga, seseorang yang hidupnya menjadi tumpuan hidup orang lain.

Beberapa hari yang lalu, seorang bertamu kerumah saya. Ia adalah tetangga yang mengenal saya sejak saya kecil datang kerumah, ia sengaja datang kerumah saya untuk memberikan hadiah kepada saya. Saya biasa memanggilnya Aa, karena usianya jauh diatas saya. Ia sudah akrab dengan seluruh anggota dirumah saya, dan ia sudah menganggap saya seperti adiknya sendiri.

Ia adalah anak pertama dari 4 bersaudara, dan ia pula yang menanggung biaya seluruh keluarganya, termasuk ibu bapaknya. Saya tau betapa kerasnya ia bekerja, hingga satu waktu karena lelahnya ia sampai harus masuk UGD sebuah rumah sakit swasta di bandung, ia yang tak sempat mengenyam bangku kuliah, harus rela bekerja demi membiayai sekolah adik-adiknya, dan saya merasakan itu bukanlah hal yang mudah. Dan saya tau, ia menunda keinginannya untuk menikah, karena ia masih harus membiayai adik-adiknya itu yang masih sekolah.

Begitupun sahabat saya dikantor, untuk seorang perempuan yang usianya sudah matang, ia pun lagi-lagi menunda keinginannya untuk menikah, karena ia harus membiayai adiknya yang masih sekolah. Aku tau itu tidak akan mudah, tapi ia adalah perempuan yang hebat, jam kerjanya diatas jam kerja orang-orang biasa, aku tau ia hanya sedikit tidur setiap harinya.

Begitupun kakak saya...., aku tau diantara yang lain, dialah yang paling banyak menanggung biaya hidup, dan pendidikan saya selama ini, terutama setelah ayah pensiun dan tidak lagi memiliki penghasilan tetap,  hingga akhirnya saya bisa lulus kuliah, dan mampu mencari penghasilan sendiri

Ayah yang hebat... seluruh hormat saya pada kalian para ayah yang menjadi tulang punggung keluarganya, juga Ibu-ibu yang entah karena suatu alasan apa harus menjadi tulang punggung keluarga menggantikan posisi ayah.

Menjadi tulang punggung..., itu tentu bukan pekerjaan yang mudah, tapi saya hanya mendoakan, semoga Allah berikan kepada kalian kekuatan, melimpahkan keberkahan untuk seluruh rizky yang kalian berikan kepada orang-orang tercinta kalian, dan biarlah setiap lelah serta tetesan air mata kalian menjadi penghapus segala kesalahan dan dosa kalian dihadapan Allah SWT. aamiin

Bandung 26 April 2013


Tidak ada komentar:

Posting Komentar