Selasa, 02 April 2013

My Hijab... My Life....


“Hana, segala yang Allah jadikan berharga di dunia ini semuanya disembunyikan dan sulit untuk dijangkau. Di mana engkau menemukan permata? Jauh di dalam tanah, tersembunyi dan terlindungi. Di mana engkau menemukan mutiara? Jauh di dasar samudera, tertutup dan terlindungi oleh cangkang yang indah. Di mana engkau menemukan emas? Jauh di dalam tambang, tertutup oleh berlapis-lapis batuan. Engkau harus berusaha keras untuk bisa mendapatkan mereka.” Ia memandangku dengan tatapan serius. “Tubuhmu suci. Engkau lebih berharga dibandingkan dengan permata dan mutiara, dan dirimu [tubuhmu harus ditutupi juga.“]”
Muhammad Ali…
diceritakan Hana,  putrinya dalam buku “More than a Hero” (Lebih dari sekedar Pahlawan).


Kedua orang tuaku muslim, beliau mengajarkan kami banyak hal tentang Islam, namun satu dari banyak kewajiban seorang muslim yang mereka tak pernah tau adalah kewajiban untuk mengenakan hijab, menutup aurat, maklumlah keluarga saya adalah keluarga yang besar dengan adat Jawa, dikeluarga besar kami tak ada satupun anak perempuan yang mengenakan hijab.

Hingga akhirnya aku begitu sering main, mengaji, dan belajar banyak hal tentang Islam di mesjid. Usiaku saat itu masih 14 tahun, dan meski aku sudah haid (sudah baligh) aku tak pernah tau jika seorang wanita muslimah harus menutup auratnya.  Aku berfikir, aku berjilbab kalo kemesjid saja, pulang dari mesjid dibuka lagi, selalu seperti itu...Hingga akhirnya datanglah hidayah dari Allah, entah mengapa diakhir sekolah menengah pertama, aku ingin sekali mengenakan jilbab SMA..., aku belajar benar-benar bagaimana berhijab yang benar, hanya terlihat muka dan telapak tangan, harus menutupi dada, tidak boleh ketat dan transparan, dan tidak boleh menyerupai pakaian laki-laki.

Dan.. aku masih ingat bagaimana respon Ibuku ketika aku anak bungsunya meminta izin untuk mengenakan jilbab, kakakku pada saat itu hanya satu yang berjilbab, itupun ketika lulus dari SMA.

“Bu... aku mau pake jilbab yah SMA, beli seragam putih abunya yang panjang aja...”

Ibuku sempat kaget, “Yang bener kamu mau pake jilbab??? Serius??? Tapi entar jangan dibuka-buka lagi jilbabnya??? (Ibuku belum mengenanakan jilbab hingga saat ini)

“Iya bu, Insya Allah dipake terus, gakan dibuka2 lagi”

Itulah percakapanku dengan ibuku dahulu tahun 2001 ketika aku mau masuk ke SMA,... namun aku tak tau ternyata memakai jilbab itu aku harus siap dengan banyak hal, perbaikan akhlak, dan juga interaksi dengan lawan jenis,  Berhijab bukan hanya menutup aurat, tapi juga menjaga interakasi dengan lawan jenis, inilah yang aku rasakan waktu aku kelas 3 SMA.

Sekitar 8 tahun yang lalu... saat aku masih menggunakan seragam putih abu. Hingga sekarang, aku masih ingat, apa yang menyebabkan aku menangis sesenggukan dikelas, dan tidak masuk sekolah 2 hari setelah kejadian tersebut. Jujur, rasanya tidak enak, dan aku sangat malas harus melihat lagi teman-teman perempuanku yang marah-marah gak jelas gara-gara aku gak mau Foto box untuk buku kenangan. 

Tahun terakhir di SMA adalah tahun-tahun yang berat mungkin untukku, entahlah sepertinya aku ditakdirkan tidak masuk kelas IPA. Ya, faktanya aku harus masuk ke kelas IPS 1, kelas yang paling dekat dengan Ruang BK, dan Kelas yang anak-anaknya paling sering ribut dan bermasalah hingga harus berkali kali dipanggil ke Ruang BK.

Seperti biasa, ditahun terakhir setiap kelas harus membuat Album Kenangan, setiap kelas biasanya memiliki konsep berbeda-beda, aku satu-satunya anak DKM yang berada di Kelas IPS 1, sisanya ada dikelas IPS 2, dan paling banyak secara mayoritas semuan anak DKM masuk ke kelas IPA.

Singkat cerita, diputuskan album kenangan menggunakan konsep Foto Box, dan semua diatur oleh nona sekretaris yang cantik dan modis, maklum dikelasku anak yang memakai jilbab ada 4, yang satu atlet karate yang banyak dispensasi, yang satu nona rieweuh yang teriakannya selalu terdengar hingga penjuru sarang semut dikelasku, satu lagi, sang Ratu Judi wkwkkwkwkw, hanya julukan tapi ia satu-satunya perempuan yang memakai jilbab dan selalu menang ketika main kartu dikelas bersama anak-anak lelaki.

Dan aku??? Aku satu-satunya perempuan yang menolak "ide itu" aku sampaikan aku hanya ingin foto box dengan perempuan saja, aku meminta maaf pada teman laki-laki yang kebagian berfoto denganku, dan setelah aku jelaskan alasannya, dia mau menerima. Namun.... dikelasku mayoritas perempuannya adalah, perempuan2 modis, cerewet, yang banyak maunya, dan muncullah perkataan-perkataan yang aneh2 tentangku.... dan salah satu yang tedengar ditelingaku.

"Masa foto sama cowo aja gak mau??? Klo gak mau deket-deket sama cowo, yaudah sekolah aja sekalian di Pesantren!!!" Kata-kata itu keluar seperti desiran peluru dari mulut seorang perempuan cantik yang roknya berada diatas lutut.

Dan serentetan kata-kata itu nyatanya tak mampu membendung air mataku...
Dan akhirnya hari itu aku menangis sejadi-jadinya dikelas, sedikit yang peduli, karena aku merasa benar-benar sendiri....

Hingga akhirnya aku tak masuk sekolah 2 hari, mungkin teman-temanku merasa perkataannya sudah berlebihan, dan salah satu dari mereka akhirnya meneleponku dan meminta maaf.

Aku tidak tau apa yang membuat hatiku sekeras batu, untuk satu prinsip yang aku yakini itu benar...
Dan aku sadar, hal ini bukan tak mungkin terjadi....
dan akhirnya setelah 8 tahun berlalu, aku kembali lagi menangis untuk sesuatu yang aku yakini....

Dan doa yang hingga ini selalu aku panjatkan, semoga Allah memberikan kekuatan padaku untuk tetap Istiqomah mengenakan hijab hingga akhir hayatku di dunia, dan aku berdoa semoga Ibu... bisa berhijab dengan sempurna, tak hanya jika pergi ke undangan saja, aamiin


Tidak ada komentar:

Posting Komentar