“Hana, segala yang Allah jadikan berharga di dunia ini
semuanya disembunyikan dan sulit untuk dijangkau. Di mana engkau menemukan
permata? Jauh di dalam tanah, tersembunyi dan terlindungi. Di mana engkau menemukan
mutiara? Jauh di dasar samudera, tertutup dan terlindungi oleh cangkang yang
indah. Di mana engkau menemukan emas? Jauh di dalam tambang, tertutup oleh
berlapis-lapis batuan. Engkau harus berusaha keras untuk bisa mendapatkan
mereka.” Ia memandangku dengan tatapan serius. “Tubuhmu suci. Engkau lebih
berharga dibandingkan dengan permata dan mutiara, dan dirimu [tubuhmu harus
ditutupi juga.“]”
|
—
|
Muhammad Ali…
diceritakan Hana, putrinya dalam
buku “More than a Hero” (Lebih dari sekedar Pahlawan).
|
Kedua orang
tuaku muslim, beliau mengajarkan kami banyak hal tentang Islam, namun satu dari
banyak kewajiban seorang muslim yang mereka tak pernah tau adalah kewajiban
untuk mengenakan hijab, menutup aurat, maklumlah keluarga saya adalah keluarga
yang besar dengan adat Jawa, dikeluarga besar kami tak ada satupun anak
perempuan yang mengenakan hijab.
Hingga akhirnya
aku begitu sering main, mengaji, dan belajar banyak hal tentang Islam di
mesjid. Usiaku saat itu masih 14 tahun, dan meski aku sudah haid (sudah baligh)
aku tak pernah tau jika seorang wanita muslimah harus menutup auratnya. Aku berfikir, aku berjilbab kalo kemesjid
saja, pulang dari mesjid dibuka lagi, selalu seperti itu...Hingga akhirnya
datanglah hidayah dari Allah, entah mengapa diakhir sekolah menengah pertama,
aku ingin sekali mengenakan jilbab SMA..., aku belajar benar-benar bagaimana
berhijab yang benar, hanya terlihat muka dan telapak tangan, harus menutupi
dada, tidak boleh ketat dan transparan, dan tidak boleh menyerupai pakaian laki-laki.
Dan.. aku masih
ingat bagaimana respon Ibuku ketika aku anak bungsunya meminta izin untuk
mengenakan jilbab, kakakku pada saat itu hanya satu yang berjilbab, itupun
ketika lulus dari SMA.
“Bu... aku mau
pake jilbab yah SMA, beli seragam putih abunya yang panjang aja...”
Ibuku sempat
kaget, “Yang bener kamu mau pake jilbab??? Serius??? Tapi entar jangan
dibuka-buka lagi jilbabnya??? (Ibuku belum mengenanakan jilbab hingga saat ini)
“Iya bu, Insya
Allah dipake terus, gakan dibuka2 lagi”
Itulah percakapanku
dengan ibuku dahulu tahun 2001 ketika aku mau masuk ke SMA,... namun aku tak
tau ternyata memakai jilbab itu aku harus siap dengan banyak hal, perbaikan
akhlak, dan juga interaksi dengan lawan jenis,
Berhijab bukan hanya menutup aurat, tapi juga menjaga interakasi dengan
lawan jenis, inilah yang aku rasakan waktu aku kelas 3 SMA.
Sekitar 8 tahun
yang lalu... saat aku masih menggunakan seragam putih abu. Hingga sekarang, aku
masih ingat, apa yang menyebabkan aku menangis sesenggukan dikelas, dan tidak
masuk sekolah 2 hari setelah kejadian tersebut. Jujur, rasanya tidak enak, dan
aku sangat malas harus melihat lagi teman-teman perempuanku yang marah-marah
gak jelas gara-gara aku gak mau Foto box untuk buku kenangan.
Tahun terakhir
di SMA adalah tahun-tahun yang berat mungkin untukku, entahlah sepertinya aku
ditakdirkan tidak masuk kelas IPA. Ya, faktanya aku harus masuk ke kelas IPS 1,
kelas yang paling dekat dengan Ruang BK, dan Kelas yang anak-anaknya paling
sering ribut dan bermasalah hingga harus berkali kali dipanggil ke Ruang BK.
Seperti biasa,
ditahun terakhir setiap kelas harus membuat Album Kenangan, setiap kelas
biasanya memiliki konsep berbeda-beda, aku satu-satunya anak DKM yang berada di
Kelas IPS 1, sisanya ada dikelas IPS 2, dan paling banyak secara mayoritas
semuan anak DKM masuk ke kelas IPA.
Singkat cerita,
diputuskan album kenangan menggunakan konsep Foto Box, dan semua diatur oleh
nona sekretaris yang cantik dan modis, maklum dikelasku anak yang memakai
jilbab ada 4, yang satu atlet karate yang banyak dispensasi, yang satu nona
rieweuh yang teriakannya selalu terdengar hingga penjuru sarang semut
dikelasku, satu lagi, sang Ratu Judi wkwkkwkwkw, hanya julukan tapi ia
satu-satunya perempuan yang memakai jilbab dan selalu menang ketika main kartu
dikelas bersama anak-anak lelaki.
Dan aku??? Aku
satu-satunya perempuan yang menolak "ide itu" aku sampaikan aku hanya
ingin foto box dengan perempuan saja, aku meminta maaf pada teman laki-laki
yang kebagian berfoto denganku, dan setelah aku jelaskan alasannya, dia mau
menerima. Namun.... dikelasku mayoritas perempuannya adalah, perempuan2 modis,
cerewet, yang banyak maunya, dan muncullah perkataan-perkataan yang aneh2
tentangku.... dan salah satu yang tedengar ditelingaku.
"Masa foto
sama cowo aja gak mau??? Klo gak mau deket-deket sama cowo, yaudah sekolah aja
sekalian di Pesantren!!!" Kata-kata itu keluar seperti desiran peluru dari
mulut seorang perempuan cantik yang roknya berada diatas lutut.
Dan serentetan
kata-kata itu nyatanya tak mampu membendung air mataku...
Dan akhirnya
hari itu aku menangis sejadi-jadinya dikelas, sedikit yang peduli, karena aku
merasa benar-benar sendiri....
Hingga akhirnya
aku tak masuk sekolah 2 hari, mungkin teman-temanku merasa perkataannya sudah
berlebihan, dan salah satu dari mereka akhirnya meneleponku dan meminta maaf.
Aku tidak tau
apa yang membuat hatiku sekeras batu, untuk satu prinsip yang aku yakini itu
benar...
Dan aku sadar,
hal ini bukan tak mungkin terjadi....
dan akhirnya
setelah 8 tahun berlalu, aku kembali lagi menangis untuk sesuatu yang aku
yakini....
Dan doa yang
hingga ini selalu aku panjatkan, semoga Allah memberikan kekuatan padaku untuk
tetap Istiqomah mengenakan hijab hingga akhir hayatku di dunia, dan aku berdoa
semoga Ibu... bisa berhijab dengan sempurna, tak hanya jika pergi ke undangan
saja, aamiin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar