Minggu, 24 Oktober 2021

Anak Baik

 

                                                     Picture : The Harvest, Bali

"Karena setiap kebaikan yang kau berikan kepada orang lain secara tulus, Allah akan membalasnya dengan kebaikan yang serupa, atau jauh lebih baik dari itu”

Beberapa tahun lalu, tepatnya sekitar tahun 2013, delapan tahun yang lalu, seorang anak sma yang memakai jaket kulit berwarna hitam, masuk kedalam kelas saya dengan keadaan basah kuyup, anak itu membawa satu plastik berisi 2 box makanan.

“Kamu.... kenapa kesini, ini hujannya gede banget loh, saya sempat memegang jaketnya yang cukup basah terkena air hujan”

“Ga papa teh... saya takut teteh kelaparan, kan tadi teteh nitip makan siang sama saya”

“Iya tapi ini kan hujannya gede banget, kenapa ga tunggu hujanny reda aja”

“Udah gapapa ya udah, teteh makan yah...”

Saya menyerahkan uang beberapa lembar sepuluh ribuan kepada anak itu

“Jadi berapa semuanya, ini sekalian sama nasi punya kamu yah?”

“ih enggak, yang teteh Cuma Rp 15.000, dia kembalikan sisa uangnya pada saya”

setelah itu kami sama-sama makan dikelas, ditengah hujan yang cukup deras diluar, dan ternyata kebaikan anak itu tidak berhenti disitu, satu waktu saat belajar sudah selesai, dia melihat saya terlihat kelelahan, saat murid-murid lain sudah pulang, hanya dia yang tersisa dikelas, dan tak lama dia berkata pada saya

“teteh masih lama kan disini? mau Isya dulu kan? (biasanya pembelajaran berakhir jam 7 malam dan jam 7.15 itu sudah masuk sholat isya, jadi saya biasa sholat isya dulu baru pulang)

“iya masih disini, mau sholat isya dulu”

“okay... aku keluar dulu ya bentar, mau cari makan, teteh pulangnya tunggu aku?

“iya...”

tak berapa lama setelah saya selesai sholat, saya kembali lagi dikelas, saya melihat papan tulis saya sudha bersih, tak ada satu pun sisa tulisan saya dipapan tulis, meja kerja saya pun bersih, tumpukan kertas dan buku-buku sudah rapih, dan anak itu sudah ada dikelas dengan 2 box makanan.

“Ini... kamu yang bersihin ???”

“iya udah engga apa-apa, teteh pasti cape, teteh makan dulu yah....

Kejadian itu sudah berlalu bertahun-tahun..., saya pun sudah tidak ada kontak dengan anak itu, sejak dia pindah ke Bekasi, dan kuliah di Jakarta, dia jarang sekali menghubungi saya, saya lost contac dengan anak itu, tapi entah kenapa kebaikan anak itu tidak pernah hilang dari ingatan saya, bahkan saya sempat berfikir hebat sekali orang tua anak ini, bisa mendidik anak laki-laki dengan sangat baik, anak ini begitu sopan pada saya, dan baik hati. Hingga saya sempat berfikir, senang sekali kalau suatu saat saya punya suami seperti anak ini, ah... fikiran saya jadi agak konslet saat itu, usia saya waktu itu sekitar 25 tahun, usia yang sudah cukup matang untuk menikah, tapi begitulah saya menikah malah diusia yang tidak ideal, 29 tahun baru menikah, tapi saya tidak menyesal, saya bersyukur Allah pertemukan saya dengan orang-orang yang sayang dan baik pada saya. Saya masih ingat kue yang ia berikan waktu saya ulang tahun, bahkan ia telfon saya menanyakan kue apa yang saya suka dan ingin saya makan saat itu.

Tahun pun berlalu, setiap tahunnya saya mendapatkan lagi murid-murid baru yang baik dan perhatian pada saya, saya mendapatkan cinta dan kasih sayang yang melimpah dari murid-murid saya, dan itulah yang saya rasakan saat ini, saya yang mungkin belum dikarunia anak, tapi naluri ibu saya begitu saja keluar, saya menyayangi murid-murid saya sudah selayaknya seperti ibu, tapi kadang tidak terlihat seperti itu sih, kadang malah terlihat seperti seorang kakak yang sayang pada  adiknya.

Terima kasih Ya Allah, saya mungkin bukan Guru yang sempurna, belum bisa jadi teladan yang baik untuk murid-murid saya, tapi semoga Engkau selalu meyanyangiku setiap saat, tolong kirim murid-murid baik, pintar dan sholeh sholehah untuk saya besok-besok, aamiin...

Bandung, 24 Oktober 2021


Tidak ada komentar:

Posting Komentar