"Karena setiap kebaikan yang kau berikan kepada orang lain secara tulus, Allah akan membalasnya dengan kebaikan yang serupa, atau jauh lebih baik dari itu”
Beberapa tahun
lalu, tepatnya sekitar tahun 2013, delapan tahun yang lalu, seorang anak sma
yang memakai jaket kulit berwarna hitam, masuk kedalam kelas saya dengan
keadaan basah kuyup, anak itu membawa satu plastik berisi 2 box makanan.
“Kamu.... kenapa
kesini, ini hujannya gede banget loh, saya sempat memegang jaketnya yang cukup
basah terkena air hujan”
“Ga papa teh...
saya takut teteh kelaparan, kan tadi teteh nitip makan siang sama saya”
“Iya tapi ini
kan hujannya gede banget, kenapa ga tunggu hujanny reda aja”
“Udah gapapa ya
udah, teteh makan yah...”
Saya
menyerahkan uang beberapa lembar sepuluh ribuan kepada anak itu
“Jadi berapa
semuanya, ini sekalian sama nasi punya kamu yah?”
“ih enggak,
yang teteh Cuma Rp 15.000, dia kembalikan sisa uangnya pada saya”
setelah itu
kami sama-sama makan dikelas, ditengah hujan yang cukup deras diluar, dan
ternyata kebaikan anak itu tidak berhenti disitu, satu waktu saat belajar sudah
selesai, dia melihat saya terlihat kelelahan, saat murid-murid lain sudah
pulang, hanya dia yang tersisa dikelas, dan tak lama dia berkata pada saya
“teteh masih
lama kan disini? mau Isya dulu kan? (biasanya pembelajaran berakhir jam 7 malam
dan jam 7.15 itu sudah masuk sholat isya, jadi saya biasa sholat isya dulu baru
pulang)
“iya masih
disini, mau sholat isya dulu”
“okay... aku
keluar dulu ya bentar, mau cari makan, teteh pulangnya tunggu aku?
“iya...”
tak berapa lama
setelah saya selesai sholat, saya kembali lagi dikelas, saya melihat papan
tulis saya sudha bersih, tak ada satu pun sisa tulisan saya dipapan tulis, meja
kerja saya pun bersih, tumpukan kertas dan buku-buku sudah rapih, dan anak itu
sudah ada dikelas dengan 2 box makanan.
“Ini... kamu
yang bersihin ???”
“iya udah engga
apa-apa, teteh pasti cape, teteh makan dulu yah....
Kejadian itu
sudah berlalu bertahun-tahun..., saya pun sudah tidak ada kontak dengan anak
itu, sejak dia pindah ke Bekasi, dan kuliah di Jakarta, dia jarang sekali menghubungi
saya, saya lost contac dengan anak itu, tapi entah kenapa kebaikan anak itu
tidak pernah hilang dari ingatan saya, bahkan saya sempat berfikir hebat sekali
orang tua anak ini, bisa mendidik anak laki-laki dengan sangat baik, anak ini
begitu sopan pada saya, dan baik hati. Hingga saya sempat berfikir, senang
sekali kalau suatu saat saya punya suami seperti anak ini, ah... fikiran saya
jadi agak konslet saat itu, usia saya waktu itu sekitar 25 tahun, usia yang
sudah cukup matang untuk menikah, tapi begitulah saya menikah malah diusia yang
tidak ideal, 29 tahun baru menikah, tapi saya tidak menyesal, saya bersyukur Allah
pertemukan saya dengan orang-orang yang sayang dan baik pada saya. Saya masih
ingat kue yang ia berikan waktu saya ulang tahun, bahkan ia telfon saya
menanyakan kue apa yang saya suka dan ingin saya makan saat itu.
Tahun pun
berlalu, setiap tahunnya saya mendapatkan lagi murid-murid baru yang baik dan
perhatian pada saya, saya mendapatkan cinta dan kasih sayang yang melimpah dari
murid-murid saya, dan itulah yang saya rasakan saat ini, saya yang mungkin
belum dikarunia anak, tapi naluri ibu saya begitu saja keluar, saya menyayangi
murid-murid saya sudah selayaknya seperti ibu, tapi kadang tidak terlihat
seperti itu sih, kadang malah terlihat seperti seorang kakak yang sayang pada adiknya.
Terima kasih Ya
Allah, saya mungkin bukan Guru yang sempurna, belum bisa jadi teladan yang baik
untuk murid-murid saya, tapi semoga Engkau selalu meyanyangiku setiap saat,
tolong kirim murid-murid baik, pintar dan sholeh sholehah untuk saya besok-besok,
aamiin...
Bandung, 24
Oktober 2021

Tidak ada komentar:
Posting Komentar