“Didalam Surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik (akhlaknya) lagi cantik-cantik parasnya” Ar Rahman : 70
Beberapa tahun silam, saya sempet
datang ke pameran buku di jakarta, event tahunan itu bernama Islamic Book Fair,
dna tentu saja yang memborong banyak buku disana, acaranya di gelora bung karno
dan tentu ada ratusan stand disana, hingga saya tidak sengaja mendatangi sebuah
stand buku Indie, disana bertemu dengan mas-mas yang menjual berbagai buku
Islam yang dipublish sendiri, dan saya tertarik pada satu buku yang judulnya “Perempuan
Bidadari”, bukunya kecil banget seperti buku saku, tapi ketika dibaca lumayan
kesal juga sih, jadi intinya itu adalah gambaran ideal yang diinginkan seorang
laki-laki, dimana diakhir setiap sub judul, si ikhwan yang menulis ini akan
menggambarkan bagaimana kelak dia akan bersikap pada istrinya, contoh
sederhana... dia ingin menikahi seorang perempuan yang pintar memasak dan
mengurus rumah tangga, dia pun akan belajar memasak dan mengurus rumah tangga,
karena jika istrinya nanti sakit atau melahirkan, ia yang akan mengerjakan semuanya
sendiri. Didalamnya ada 108 point menjadi kriteria pendamping seorang lelaki
Idealis.
Sebenarnya sah-sah saja sih mau
menyebutkan satu persatu kriteria ideal seperti apa, dari yang pandai memasak,
pandai merawat diri, pandai mengaji, pandai mengatur keuangan, pandai berhias,
pandai menahan emosi, dan pandai-pandai lainnya. Tapi satu yang disayangkan,
perempuan yang pandai semuanya itu sangat mustahil. Kamu bisa saja punya istri
yang cantik dan pandai merawat diri, tapi kamu harus terima kalau dia tidak
pandai memasak. Atau bisa jadi istri kamu pandai bersyukur, bersifat qonaah,
dan pandai mengatur keuangan, tapi sayang dia tidak pandai mengatur emosi, dan
merupakan perempuan yang sangat manja dan rewel.
Mau yang sempurna? menikah saja
dengan bidadari, dan bidadari tidak tinggal di bumi, dia hanya ada diSurga
bukan dibumi, jadi sepertinya anda harus meninggal dulu dan memastikan bahwa
amalan-amalan sholeh anda dibumi bisa mengantarkan anda ke surga. Dalam
hadist-hadist yang pernah saya baca dan pernah saya dengar dikajian-kajian
menyebutkan bahwa kedudukan wanita sholehah lebih utama dari bidadari di Surga,
mengingat perjuangan dan kesabaran ia selama didunia, sementara bidadari sudah
dicipatkan dengan kesempurnaan tanpa harus mengalami segala ujian hidup didunia.
Saya tidak mau jadi perempuan
bidadari, toh saya juga tidak tau bidadari itu seperti apa rupa bentuk dan
wajahnya, bagi saya cukuplah belajar mmemperbaiki diri menjadi sebaik-baik
wanita seperti Maryam yang berkhidmat pada RabbNya dengan penuh ketaatan.
Mudah? tentu saja tidak, apalah saya dibandingkan Maryam wanita suci dan mulia
itu. Minimal saya bisa jadi anak sholehah yang tidak menyusahkan orang tua,
menimal saya bisa jadi istri sholehah yang tidak menyusahkan suami, minimal
saya bisa menjadi ibu yang baik dan menjadi teladan bagi anak-anak saya.
Bandung, 23 Juni 2021

Tidak ada komentar:
Posting Komentar