Senin, 28 Juni 2021

Ekonomi

 


“Bukan seberapa banyak ilmu yang kamu miliki, tapi seberapa besar keinginan kamu untuk belajar dan mengajarkan ilmu yang kamu miliki”

Saya lulus kuliah tahun 2009, tapi saya sudah mulai mengajar sejak tahun 2008. Iya saat kuliah sudah habis tapi saya masih harus menyelesaikan skripsi dengan keinginan untuk meringankan beban orang tua, melamarlah saya disebuah bimbel sebagai Guru Ekonomi, bekal PPL di SMAN 3 Bandung, sedikit banyak membawa banyak pelajaran berharga untuk saya, terlebih inilah awal karir saya menjadi seorang Guru, bukan sebuah cita-cita yang saya harapkan sebenarnya, tadi menjadi sebuah kesyukuran untuk saya saat ini.

Itu artinya jika dihitung dari 2008 saya sudah mengajar Ekonomi selama 13 tahun, awal karir di SMAN 3 Bandung, setelah itu beberapa bulan mengajar di bimbel Primagama dari 2008 hingga 2009, setahun setelah saya lulus, saya merasa gaji saya tidak terllau besar dibimbel itu akhirnya saya memutuskan untuk resign, dan diterimalah saya dibimbel milik Bapak Sony, itupun hanya satu bulan karena saya di phk sepihak akibat kesalahan manajemen, hahahaha. Iya waktu itu kakak saya juga ngajar dibimbel kompetitor sebut saja bImbel TriXXXX, nah karena bapak manajer yang menerima saya merasa bersalah, akhirnya beliau memanggil saya, memutuskan kontrak sepihak dan memberikan saya uang pesangon satu kali gaji, saat itu sebsar Rp1.200.000 kalau tidak salah.

Setelah diphk saya sempat melamar ke beberapa perusahaan, tapi lagi-lagi terdampar didunia pendidikan, dan saya mengajar lagi dibimbel tahun 2009, alhamdullilah jadi penganggurannya hanya beberapa bulan, saya akhirnya satu kantor sama kakak saya dibimbel TriXXXX, tapi gak pernah satu unit karena saat itu kakak saya mengajar SMP saya SMP dan SMA, kakak saya resign duluan dan mengajar disekolah, sementara saya mengajar dibimbel itu dari 2009 sampai 2017, lumayan lama hampir 8 tahun hingga karena masalah pribadi saya memutuskan resign dipertengahan tahun 2017.

Alhamdullilah saya diterima di salah satu sekolah swasta dikota Bandung, sekolah Islam yang banyak memberikan saya pelajaran dan pengalaman berharga, sejak awla masuk saya sudah mendampingi anak-anak mengikuti Olimpiade dan berbagai Kompetisi dibidang Ekonomi memang tidak selalu menang, tapi ditahun 2018 untuk pertama kalinya anak-anak saya mendapatkan juara harapan 1 pada lomba Cerdas Tangkas Ekonomi disalah satu universitas swasta dikota Bandung, yah meski juara harapan atau juara 4, tapi anak-anak saya tetap dapat piala dan uang pembinaan dan sertifikat, padahal saya tidak mengira sebelumnya mereka akan juara, bersyukur sekali.

Begitulah dari tahun ke tahun anak-anak Olim yang saya bimbing ada saja yang masuk ke PTN atas izin Allah juga usaha keras mereka, saya tdiak lupa, tahun lalu dua anak kesayangan saya diterima di UNPAD dan di UPI, senang sekali rasanya, tahun ini walaupun Cuma satu yang diterima di UNPAD tapi saya tetap bersyukur karena lagi-lagi anak Olim Ekonomi yang mendapatkan tiket masuk PTN. Dan taukah rizky apa yang terjadi ditahun ini? Ketiga anak saya yang ikut KSN (Oilimpiade Ekonomi) berhasil lolos ke tingkat Provinsi. Panik? Panik Ga ? Ya Panik lah... saya gak pernah ekspek mereka bisa lolos ke tingkat provinsi, tapi mau tidak mau, ketiga anak saya ini memang cukup pintar terutama Reza yang saat bimbingan belajar KSN sama saya iya juga ikut bimbel persiapan KSN mandiri diluar.

Rezalah yang kadang menjadi teman diskusi saya jika membahas teori-teori mikro dan makro, ya mungkin karena ia sangat ingin masuk kampus favorit, belum lagi ibunya yang dosen Tehnik Industri, jadi di sma dia sudah terbiasa membaca buku-buku mikro dan makro atau pengantar ilmu ekonomi, teman diskusi yang asyik buat saya, ditambah attitudenya yang baik dan sopan, maka kalau ada hal-hal yang tidak kami sepakati, dia akan bilang pada saya “oh punten ibu mangga dicek dulu lagi di google atau dibuku pengantar ilmu ekonomi” saya merasa sangat terbantu dengan kehadiran anak ini, selain reza ada lintang yang cukup kritis dan Nissa yang juga rajin dalam belajar ekonomi, saya tidak banyak berharap mereka bisa lolos ke tingkat nasional, bagi saya itu hanyalah bonus, saya hanya berharap dan berdoa, ketiganya tahun depan bisa masuk ke PTN yang mereka cita-citakan, aamiin.

Dan pelajaran berharga yang bisa saya ambil saat PPL adalah perhatian dan kasih sayang murid-murid kepada saya, apalagi ketika mereka merasa nyaman belajar ekonomi bersama saya, saya masih ingat bagaimana pertanyaan-pertanyaan mereka yang cukup sulit, pertanyaan Muhammad Firdaus tentang IMF, World Bank,  Economic Hit Man hahahahha, saya tau anak-anak 3 yang sangat akademik dan berwawasan, yang kalau sudah diskusi susah sekali dihentikan. Saya masih menyimpan catatan kecil mereka tentang kesan dan pesan mereka untuk saya, dan masih saya simpan hingga sekarang, ingat kata-kata Dina... “Masa Depan Ibu Secerah Lampu Ini (dia gambar lampu)”. Terima kasih nak, walaupun saya tidak punya satu pun dokumentasi bersama mereka saat itu, tapi mereka selalu ada dalam hati saya hingga sekarang (maaf saya ga pake hp camera dan ga punya camera juga), menjadi kenangan manis yang gak bisa saya lupa. Apalagi kata-kata Adrian, no absen pertama dikelas X -1 hahhahahahha.

Bandung, 28 Juni 2021

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar