“Bukan seberapa banyak ilmu yang kamu miliki, tapi seberapa besar keinginan kamu untuk belajar dan mengajarkan ilmu yang kamu miliki”
Saya lulus
kuliah tahun 2009, tapi saya sudah mulai mengajar sejak tahun 2008. Iya saat
kuliah sudah habis tapi saya masih harus menyelesaikan skripsi dengan keinginan
untuk meringankan beban orang tua, melamarlah saya disebuah bimbel sebagai Guru
Ekonomi, bekal PPL di SMAN 3 Bandung, sedikit banyak membawa banyak pelajaran
berharga untuk saya, terlebih inilah awal karir saya menjadi seorang Guru,
bukan sebuah cita-cita yang saya harapkan sebenarnya, tadi menjadi sebuah
kesyukuran untuk saya saat ini.
Itu artinya
jika dihitung dari 2008 saya sudah mengajar Ekonomi selama 13 tahun, awal karir
di SMAN 3 Bandung, setelah itu beberapa bulan mengajar di bimbel Primagama dari
2008 hingga 2009, setahun setelah saya lulus, saya merasa gaji saya tidak
terllau besar dibimbel itu akhirnya saya memutuskan untuk resign, dan
diterimalah saya dibimbel milik Bapak Sony, itupun hanya satu bulan karena saya
di phk sepihak akibat kesalahan manajemen, hahahaha. Iya waktu itu kakak saya juga
ngajar dibimbel kompetitor sebut saja bImbel TriXXXX, nah karena bapak manajer
yang menerima saya merasa bersalah, akhirnya beliau memanggil saya, memutuskan
kontrak sepihak dan memberikan saya uang pesangon satu kali gaji, saat itu
sebsar Rp1.200.000 kalau tidak salah.
Setelah diphk
saya sempat melamar ke beberapa perusahaan, tapi lagi-lagi terdampar didunia
pendidikan, dan saya mengajar lagi dibimbel tahun 2009, alhamdullilah jadi
penganggurannya hanya beberapa bulan, saya akhirnya satu kantor sama kakak saya
dibimbel TriXXXX, tapi gak pernah satu unit karena saat itu kakak saya mengajar
SMP saya SMP dan SMA, kakak saya resign duluan dan mengajar disekolah,
sementara saya mengajar dibimbel itu dari 2009 sampai 2017, lumayan lama hampir
8 tahun hingga karena masalah pribadi saya memutuskan resign dipertengahan
tahun 2017.
Alhamdullilah
saya diterima di salah satu sekolah swasta dikota Bandung, sekolah Islam yang
banyak memberikan saya pelajaran dan pengalaman berharga, sejak awla masuk saya
sudah mendampingi anak-anak mengikuti Olimpiade dan berbagai Kompetisi dibidang
Ekonomi memang tidak selalu menang, tapi ditahun 2018 untuk pertama kalinya
anak-anak saya mendapatkan juara harapan 1 pada lomba Cerdas Tangkas Ekonomi
disalah satu universitas swasta dikota Bandung, yah meski juara harapan atau
juara 4, tapi anak-anak saya tetap dapat piala dan uang pembinaan dan
sertifikat, padahal saya tidak mengira sebelumnya mereka akan juara, bersyukur
sekali.
Begitulah dari
tahun ke tahun anak-anak Olim yang saya bimbing ada saja yang masuk ke PTN atas
izin Allah juga usaha keras mereka, saya tdiak lupa, tahun lalu dua anak
kesayangan saya diterima di UNPAD dan di UPI, senang sekali rasanya, tahun ini
walaupun Cuma satu yang diterima di UNPAD tapi saya tetap bersyukur karena
lagi-lagi anak Olim Ekonomi yang mendapatkan tiket masuk PTN. Dan taukah rizky
apa yang terjadi ditahun ini? Ketiga anak saya yang ikut KSN (Oilimpiade
Ekonomi) berhasil lolos ke tingkat Provinsi. Panik? Panik Ga ? Ya Panik lah...
saya gak pernah ekspek mereka bisa lolos ke tingkat provinsi, tapi mau tidak
mau, ketiga anak saya ini memang cukup pintar terutama Reza yang saat bimbingan
belajar KSN sama saya iya juga ikut bimbel persiapan KSN mandiri diluar.
Rezalah yang
kadang menjadi teman diskusi saya jika membahas teori-teori mikro dan makro, ya
mungkin karena ia sangat ingin masuk kampus favorit, belum lagi ibunya yang
dosen Tehnik Industri, jadi di sma dia sudah terbiasa membaca buku-buku mikro
dan makro atau pengantar ilmu ekonomi, teman diskusi yang asyik buat saya,
ditambah attitudenya yang baik dan sopan, maka kalau ada hal-hal yang tidak
kami sepakati, dia akan bilang pada saya “oh punten ibu mangga dicek dulu lagi
di google atau dibuku pengantar ilmu ekonomi” saya merasa sangat terbantu
dengan kehadiran anak ini, selain reza ada lintang yang cukup kritis dan Nissa
yang juga rajin dalam belajar ekonomi, saya tidak banyak berharap mereka bisa lolos
ke tingkat nasional, bagi saya itu hanyalah bonus, saya hanya berharap dan
berdoa, ketiganya tahun depan bisa masuk ke PTN yang mereka cita-citakan,
aamiin.
Dan pelajaran
berharga yang bisa saya ambil saat PPL adalah perhatian dan kasih sayang
murid-murid kepada saya, apalagi ketika mereka merasa nyaman belajar ekonomi
bersama saya, saya masih ingat bagaimana pertanyaan-pertanyaan mereka yang
cukup sulit, pertanyaan Muhammad Firdaus tentang IMF, World Bank, Economic Hit Man hahahahha, saya tau
anak-anak 3 yang sangat akademik dan berwawasan, yang kalau sudah diskusi susah
sekali dihentikan. Saya masih menyimpan catatan kecil mereka tentang kesan dan
pesan mereka untuk saya, dan masih saya simpan hingga sekarang, ingat kata-kata
Dina... “Masa Depan Ibu Secerah Lampu Ini (dia gambar lampu)”. Terima kasih
nak, walaupun saya tidak punya satu pun dokumentasi bersama mereka saat itu,
tapi mereka selalu ada dalam hati saya hingga sekarang (maaf saya ga pake hp
camera dan ga punya camera juga), menjadi kenangan manis yang gak bisa saya
lupa. Apalagi kata-kata Adrian, no absen pertama dikelas X -1 hahhahahahha.
Bandung, 28 Juni 2021

Tidak ada komentar:
Posting Komentar