“Kesedihan tidak untuk
dipampangkan kepada semua orang. Itu adalah sesuatu yang seharusnya dimpit-impit,
diselinapkan dibalik lapisan penutup. Karena kesedihan adalah hal yang sangat
pribadi, seperti rahasia, harus disembunyikan dari pandang orang lain” NH. Dini
Siang itu perempuan muda tengah
sibuk membuat soal, dan memeriksa tugas murid-muridnya, sudah masuk jam makan
siang tapi karena bulan itu bulan Ramadhan akhirnya waktu makan siang ia
gunakan untuk menyelesaikan tugas-tugas lainnya. Tiba-tiba seorang rekan
kerjanya yang senior menghampiri.
“Lagi sibuk yah ?”
“eh iya mas”
“Gimana puasa pertama dengan
suami hehehe?”
Perempuan itu berusaha
mengendalikan dirinya.
“Alhamdullilah mas”
“Gimana tadi sahur? siapa yang
bangun duluan? Kamu apa suami kamu ?“
Perempuan muda itu masih sibuk
dengan laptopnya, dan pertanyaan itu benar-benar menghentak hatinya, ia tidak
tau harus menjawab apa pada rekan kerjanya itu, ia sadar betul ia sedang puasa,
dan ia juga sadar betul berbohong itu salah dan dosa, akhirnya ia balikan
pertanyan rekan kerjanya.
“Mas sendiri gimana? pasti
Istrinya duluan kan yang bangun? yang nyiapin makanan buat sahur pasti istrinya
mas, yang bangunin mas sama anak-anak mas juga pasti istrinya mas kan?
“Haha... iya. Eh gimana suami
kamu? Dia Sehat? kok jarang jemput kamu ke kantor, saya belum pernah liat suami
kamu? Maaf yah waktu kamu nikah saya gak dateng, abis waktunya sempit saya ada
ngajar juga waktu itu”
“Oh, suami aku sehat kok mas,
alhamdullilah, iya dia sibuk jadi gak bisa anter jemput aku, lagian tempat
kerjanya jauh, kasihan kalau harus bolak balik jemput aku dulu”
Perempuan itu kembali fokus pada
laptopnya.
“Gimana sekarang rasanya udah
nikah? Kamu bahagia?
Perempuan itu tiba-tiba
menghentikan aktivitasnya. Tanpa sempat berfikir ia menjawab pertanyaan rekan
kerjanya itu.
“Alhamdullilah, bahagia mas”.
Sekilas percakapan itu biasa
saja, tapi kita tidak pernah tau dan tidak pernah membayangkan bagaimana
kondisi sebenarnya, perempuan muda itu nyatanya sudah tidak bersuami, ia sudah
ditalak suaminya beberapa bulan lalu, ia sudah tidak serumah dengan suaminya, dan
berusaha menyembunyikan kondisi dirinya dihadapan orang lain, ia tau jika ia
berkata jujur itu hanya akan membuat masalah menjadi panjang, ia tidak ingin
membuat sedih orang-orang disekitarnya, ia orang yang sangat menjaga dirinya,
bahkan disaat-saat sulit rumah tangganya ia tetap bersikap baik pada semua orang,
tak ada raut sedih diwajahnya, ia tetap menjalankan tugasnya dikantor dengan
baik, ia tetap berinteraksi seperti biasa dengan rekan-rekannya dikantor, tak
sedikit pun ia ceritakan masalah rumah tangganya, ia hanya berfikir bahwa ia
harus selesaikan kontrak kerjanya dengan baik, dan segera mencari pekerjaan
baru ditempat lain. Ia sembunyikan kesedihannya dihadapan manusia.
Itulah yang mungkin terjadi pada
diri kita, merasa hidup orang lain lebih baik dari kita, padahal nyatanya
mungkin saja hidupnya lebih sulit dari kita, namun mereka memilih untuk tidak
banyak mengeluh dan terus melanjutkan hidup, segetir apapun masalah hidupnya.
Masalah kita tidak harus diumumkan pada khalayak ramai, kalaupun pada akhirnya
mereka tau masalah hidup kita biarlah mereka tetap memandang positif diri kita,
kita tidak perlu melakukan konfirmasi jika memang tidak diminta, dan tidak
semua hal pula harus kita konfirmasikan pada mereka, saya percaya pada Keadilan
Allah, bahwa kebenaran hanya akan berpihak pada orang-orang baik.
Penilaian
manusia memang kadang tidak adil, tapi apakah kita harus mendengarkan dan
memasukan penilaian itu kedalam hati kita? kadang hati kita sudah cukup lelah
menahan beban hidup, tidak perlu lagi ditambah dengan omongan dan penilaian orang
yang tidak jelas. Biarlah Allah yang menuntun dan menguatkan langkah kita dalam
hidup, karena mungkin hidup kita kedepan akan penuh dengan ujian yang tak
terduga.
Bandung, 3 April 2020

Tidak ada komentar:
Posting Komentar