Jumat, 03 April 2020

Sembunyi



“Kesedihan tidak untuk dipampangkan kepada semua orang. Itu adalah sesuatu yang seharusnya dimpit-impit, diselinapkan dibalik lapisan penutup. Karena kesedihan adalah hal yang sangat pribadi, seperti rahasia, harus disembunyikan dari pandang orang lain” NH. Dini

Siang itu perempuan muda tengah sibuk membuat soal, dan memeriksa tugas murid-muridnya, sudah masuk jam makan siang tapi karena bulan itu bulan Ramadhan akhirnya waktu makan siang ia gunakan untuk menyelesaikan tugas-tugas lainnya. Tiba-tiba seorang rekan kerjanya yang senior menghampiri.

“Lagi sibuk yah ?”

“eh iya mas”

“Gimana puasa pertama dengan suami hehehe?”

Perempuan itu berusaha mengendalikan dirinya.
“Alhamdullilah mas”

“Gimana tadi sahur? siapa yang bangun duluan?  Kamu apa suami kamu  ?“

Perempuan muda itu masih sibuk dengan laptopnya, dan pertanyaan itu benar-benar menghentak hatinya, ia tidak tau harus menjawab apa pada rekan kerjanya itu, ia sadar betul ia sedang puasa, dan ia juga sadar betul berbohong itu salah dan dosa, akhirnya ia balikan pertanyan rekan kerjanya.

“Mas sendiri gimana? pasti Istrinya duluan kan yang bangun? yang nyiapin makanan buat sahur pasti istrinya mas, yang bangunin mas sama anak-anak mas juga pasti istrinya mas kan?

“Haha... iya. Eh gimana suami kamu? Dia Sehat? kok jarang jemput kamu ke kantor, saya belum pernah liat suami kamu? Maaf yah waktu kamu nikah saya gak dateng, abis waktunya sempit saya ada ngajar juga waktu itu”

“Oh, suami aku sehat kok mas, alhamdullilah, iya dia sibuk jadi gak bisa anter jemput aku, lagian tempat kerjanya jauh, kasihan kalau harus bolak balik jemput aku dulu”

Perempuan itu kembali fokus pada laptopnya.

“Gimana sekarang rasanya udah nikah? Kamu bahagia?

Perempuan itu tiba-tiba menghentikan aktivitasnya. Tanpa sempat berfikir ia menjawab pertanyaan rekan kerjanya itu.

“Alhamdullilah, bahagia mas”.

Sekilas percakapan itu biasa saja, tapi kita tidak pernah tau dan tidak pernah membayangkan bagaimana kondisi sebenarnya, perempuan muda itu nyatanya sudah tidak bersuami, ia sudah ditalak suaminya beberapa bulan lalu, ia sudah tidak serumah dengan suaminya, dan berusaha menyembunyikan kondisi dirinya dihadapan orang lain, ia tau jika ia berkata jujur itu hanya akan membuat masalah menjadi panjang, ia tidak ingin membuat sedih orang-orang disekitarnya, ia orang yang sangat menjaga dirinya, bahkan disaat-saat sulit rumah tangganya ia tetap bersikap baik pada semua orang, tak ada raut sedih diwajahnya, ia tetap menjalankan tugasnya dikantor dengan baik, ia tetap berinteraksi seperti biasa dengan rekan-rekannya dikantor, tak sedikit pun ia ceritakan masalah rumah tangganya, ia hanya berfikir bahwa ia harus selesaikan kontrak kerjanya dengan baik, dan segera mencari pekerjaan baru ditempat lain. Ia sembunyikan kesedihannya dihadapan manusia.

Itulah yang mungkin terjadi pada diri kita, merasa hidup orang lain lebih baik dari kita, padahal nyatanya mungkin saja hidupnya lebih sulit dari kita, namun mereka memilih untuk tidak banyak mengeluh dan terus melanjutkan hidup, segetir apapun masalah hidupnya. Masalah kita tidak harus diumumkan pada khalayak ramai, kalaupun pada akhirnya mereka tau masalah hidup kita biarlah mereka tetap memandang positif diri kita, kita tidak perlu melakukan konfirmasi jika memang tidak diminta, dan tidak semua hal pula harus kita konfirmasikan pada mereka, saya percaya pada Keadilan Allah, bahwa kebenaran hanya akan berpihak pada orang-orang baik. 

Penilaian manusia memang kadang tidak adil, tapi apakah kita harus mendengarkan dan memasukan penilaian itu kedalam hati kita? kadang hati kita sudah cukup lelah menahan beban hidup, tidak perlu lagi ditambah dengan omongan dan penilaian orang yang tidak jelas. Biarlah Allah yang menuntun dan menguatkan langkah kita dalam hidup, karena mungkin hidup kita kedepan akan penuh dengan ujian yang tak terduga.
Bandung, 3 April 2020


Tidak ada komentar:

Posting Komentar