Tidak semua yang punya pasangan,
siap merawat hubungan
Tidak semua yang akhirnya
dipelaminan berdua, siap hidup berumah tangga
Tidak semua yang serumah, siap
saling mengalah
Tidak semua yang kehilangan, siap
menemukan
Dan ternyata, tidak semua yang hidup,
siap benar-benar hidup.
-
Adjie Santosoputro
“Tidak semua yang hidup siap
menghadapi Corona” itulah yang ingin saya tambahkan dari tulisan mas adjie
diatas. Yah sejatinya tidak ada orang yang benar-benar siap menghadapi Corona,
perkembangan virus ini begitu cepat, yang asalnya hanya ada di kota Wuhan
tiba-tiba meluas ke seluruh dunia, tak terkecuali negara kita Indonesia. Total
korban meninggal dunia dari pandemi ini sudah mencapai ratusan ribu orang.
Hampir semua negara mengalaminya, hampir setiap hari angka kematian terus
bertambah, dan itulah yang pada akhirnya membuat kita harus membatasi diri dari
interaksi sosial, semua kembali kerumah, semua tinggal dirumah, bahkan
kewajiban mencari nafkah dan beribadah, sebisa mungkin juga dilakukan dirumah.
Dan saya pun mengalaminya, ini
adalah pekan ke 3 saya bekerja dari rumah, saya tetap tinggal dirumah, hanya
sesekali saya keluar rumah, itu pun hanya untuk membeli makanan dan keperluan
sehari-hari, selebihnya saya benar-benar dirumah saja. Bagi saya ini bukan
suatu hal yang menyedihkan, karena tanpa Corona sekalipun saya lebih banyak
menghabiskan waktu dirumah, hanya mungkin rutinitasnya saja yang berubah 180
derajat. Saya bisa bekerja dari rumah dengan cukup fleksibel, mengingat saya
tidak ada jam mengajar, jam mengajar saya dikelas 12 sudah selesai 3 minggu
yang lalu, dan saya hanya mengawasi anak-anak yang saya pegang sebagai wali
kelas.
Pandemi yang memakan banyak
korban jiwa, bukan hanya pasien yang meninggal dunia, tapi puluhan dokter,
perawat, dan tenaga medis lainnya juga ikut menjadi korban dari pandemi ini.
Tidak terbayang memang ketika tiba-tiba orang yang kita cintai harus
meninggalkan kita lebhi dahulu, tanpa sempat mengucapkan kata perpisahan atau
sekedar pamit, semuanya serba mendadak, dan semuanya serba tidak siap. Karena
pembatasan pula, sebagian orang melepas kepergiaan orang dicintai dalam suasana
sunyi dan senyap tanpa kehadiran sanak saudara dan handai taulan, tak jarang
ada yang ditolak dipemakaman oleh warga yang tidak paham tentang SOP pemakaman jenazah korban Covid 19 ini.
Seminggu berada didalam rumah
tidak berpergian kemana-kemana, mungkin amat sangat menyenangkan, karena kita
dapat sedikit beristirahat dari hiruk pikik kemacetan lalu lintas dijalan raya,
tapi apa jadinya jika ini terjadi selama berhari-hari, kita tidak bisa
menjalani kehidupan normal seperti biasanya, semua orang bosan, semua orang
lelah, semua orang sedih, apa lagi orang-orag yang kehilangan mata pencaharian
karena harus terkena PHK dan dirumahkan, sulit rasanya menjalani kehidupan,
saat sumber kehidupan itu sendiri berhenti.
Dan kita harus tetap hidup...
kita harus tetap bertahan, hingga pandemi dari virus covid 19 itu benar-benar
mati dan hilang dari muka bumi. Dalam kondisi yang penuh ketidakpastiin ini
sudah seharusnya kita menggantungkan segala harap kita hanya kepada Allah
semata, melantunkan doa-doa yang panjang agar Allah memberikan kita kesehatan
dan keselamatan untuk kita dan orang-orang yang kita cintai, meminta dengan
penuh kerendahan hati untuk dikuatkan dan diberikan kesabaran menjalani
kehidupan setiap harinya dengan penuh keikhlasan. Berdoa agar rizky kita
dicukupi dan dilebihkan untuk dapat menolong sabanyak-banyaknya hamba Allah
yang membutuhkan.
Dua pekan menuju bulan
Ramadhan..., kalaupun pandemi ini belum berakhir, semoga Allah senantiasa
memudahkan kaki dan tangan kita untuk terus beramal sholeh dan menjalankan
ibadah kita didalam Rumah. Semoga pandemi ini menjadikan kita manusia-manusia
yang pandai bersyukur. aamiin.
Bandung, 12 April 2020

Tidak ada komentar:
Posting Komentar