Selasa, 14 April 2020

Corona



Tidak semua yang punya pasangan, siap merawat hubungan
Tidak semua yang akhirnya dipelaminan berdua, siap hidup berumah tangga
Tidak semua yang serumah, siap saling mengalah
Tidak semua yang kehilangan, siap menemukan
Dan ternyata, tidak semua yang hidup, siap benar-benar hidup.
-          Adjie Santosoputro

“Tidak semua yang hidup siap menghadapi Corona” itulah yang ingin saya tambahkan dari tulisan mas adjie diatas. Yah sejatinya tidak ada orang yang benar-benar siap menghadapi Corona, perkembangan virus ini begitu cepat, yang asalnya hanya ada di kota Wuhan tiba-tiba meluas ke seluruh dunia, tak terkecuali negara kita Indonesia. Total korban meninggal dunia dari pandemi ini sudah mencapai ratusan ribu orang. Hampir semua negara mengalaminya, hampir setiap hari angka kematian terus bertambah, dan itulah yang pada akhirnya membuat kita harus membatasi diri dari interaksi sosial, semua kembali kerumah, semua tinggal dirumah, bahkan kewajiban mencari nafkah dan beribadah, sebisa mungkin juga dilakukan dirumah.

Dan saya pun mengalaminya, ini adalah pekan ke 3 saya bekerja dari rumah, saya tetap tinggal dirumah, hanya sesekali saya keluar rumah, itu pun hanya untuk membeli makanan dan keperluan sehari-hari, selebihnya saya benar-benar dirumah saja. Bagi saya ini bukan suatu hal yang menyedihkan, karena tanpa Corona sekalipun saya lebih banyak menghabiskan waktu dirumah, hanya mungkin rutinitasnya saja yang berubah 180 derajat. Saya bisa bekerja dari rumah dengan cukup fleksibel, mengingat saya tidak ada jam mengajar, jam mengajar saya dikelas 12 sudah selesai 3 minggu yang lalu, dan saya hanya mengawasi anak-anak yang saya pegang sebagai wali kelas.

Pandemi yang memakan banyak korban jiwa, bukan hanya pasien yang meninggal dunia, tapi puluhan dokter, perawat, dan tenaga medis lainnya juga ikut menjadi korban dari pandemi ini. Tidak terbayang memang ketika tiba-tiba orang yang kita cintai harus meninggalkan kita lebhi dahulu, tanpa sempat mengucapkan kata perpisahan atau sekedar pamit, semuanya serba mendadak, dan semuanya serba tidak siap. Karena pembatasan pula, sebagian orang melepas kepergiaan orang dicintai dalam suasana sunyi dan senyap tanpa kehadiran sanak saudara dan handai taulan, tak jarang ada yang ditolak dipemakaman oleh warga yang tidak paham tentang  SOP pemakaman jenazah korban Covid 19 ini.

Seminggu berada didalam rumah tidak berpergian kemana-kemana, mungkin amat sangat menyenangkan, karena kita dapat sedikit beristirahat dari hiruk pikik kemacetan lalu lintas dijalan raya, tapi apa jadinya jika ini terjadi selama berhari-hari, kita tidak bisa menjalani kehidupan normal seperti biasanya, semua orang bosan, semua orang lelah, semua orang sedih, apa lagi orang-orag yang kehilangan mata pencaharian karena harus terkena PHK dan dirumahkan, sulit rasanya menjalani kehidupan, saat sumber kehidupan itu sendiri berhenti.

Dan kita harus tetap hidup... kita harus tetap bertahan, hingga pandemi dari virus covid 19 itu benar-benar mati dan hilang dari muka bumi. Dalam kondisi yang penuh ketidakpastiin ini sudah seharusnya kita menggantungkan segala harap kita hanya kepada Allah semata, melantunkan doa-doa yang panjang agar Allah memberikan kita kesehatan dan keselamatan untuk kita dan orang-orang yang kita cintai, meminta dengan penuh kerendahan hati untuk dikuatkan dan diberikan kesabaran menjalani kehidupan setiap harinya dengan penuh keikhlasan. Berdoa agar rizky kita dicukupi dan dilebihkan untuk dapat menolong sabanyak-banyaknya hamba Allah yang membutuhkan.

Dua pekan menuju bulan Ramadhan..., kalaupun pandemi ini belum berakhir, semoga Allah senantiasa memudahkan kaki dan tangan kita untuk terus beramal sholeh dan menjalankan ibadah kita didalam Rumah. Semoga pandemi ini menjadikan kita manusia-manusia yang  pandai bersyukur. aamiin.

Bandung, 12 April 2020


Tidak ada komentar:

Posting Komentar