Jumat, 10 April 2020

Ruang Tunggu


“Saya berfikir selanjutnya kalau pun apa-apa yang saya inginkan gak saya dapet didunia, yauda toh suatu saat saya juga bakal ninggalin dunia yang fana ini. Semuanya Cuma titipan, kalaupun gak sempat dititipkan apa-apa, seenggaknya apa yang saya tinggalkan didunia semuanya bisa jadi amal sholeh, apapun itu...”

Saya akhiri percakapan saya dengan sahabat saya di whats app seperti itu, saya berusaha membesarkan hatinya, juga hati saya sendiri, karena kita sama-sama berjuang untuk kehidupan kita kedepan, sahabat saya yang usianya sudah lebih 30 tahun dan belum juga menikah karena belum bertemu dengan jodohnya, juga saya... yang menunggu keajaiban, ingin sekali memiliki anak. Ia bukan satu-satunya sahabat saya yang belum menikah, ditempat lain ada beberapa sahabat saya yang juga belum menikah meski usianya sudah diatas 35 tahun, dan ketika bertemu kami hanya sama-sama bercerita, membesarkan hati masing-masing, menata hati untuk tetap berbaik sangka pada Allah.

Mungkin ujian ini terasa berat bagi saya, apalagi ketika saya berada diantara ibu-ibu muda yang sedang sibuk membahas kehamilan, masalah anak, asi, susu, makanan bayi, dan apapun itu yang belum saya alami, saya hanya bisa menyimak atau sering kali saya menghindar diam-diam mencari pekerjaan lain, dan mencari tempat lain dimana saya bisa menenangkan diri. Jika saya berada dalam kondisi-kondisi yang kurang membuat hati saya nyaman, rasa-rasanya saya ingin hilang saja dari bumi, gak mau ketemu orang-orang, gak mau ditanya apa-apa.

Saya ingat betul beberapa tahun lalu, seorang adik kelas saya tengah ngidam dikehamilan anak ketiganya, ia datang kerumah bersama suaminya karena ingin makan jambu yang ada dihalaman rumah saya, ia datang bersama ke2 anak laki-lakinya yang lucu, entah kenapa hati kecil saya berkata (dia sudah hamil anak ke 3, sementara saya...”) ah sudahlah... setelah berbincang sebentar dan membawa jambunya adik kelas saya bersama suaminya itu pamit, ia mengucapkan terima kasih, dan mendoakan saya, “mudah-mudahan teteh juga cepet nyusul yah” aamiin (hati saya kecut)

Beberapa kali saya ke toko perlengkapan bayi, melihat suami istri yang sibuk mencari perlengkapan bayi untuk anaknya, sementara saya datang sendiri dan mencari kado untuk sahabat-sahabat saya yang baru saja melahirkan. Entah keberapa kalinya datang ke toko bayi, membeli barang untuk orang lain dan bukan untuk diri sendiri, tapi yasudahlah memang belum waktunya. Saya berusaha mensyukuri apa yang sudah Allah berikan pada saat ini, saat ketiga kakak saya sibuk dengan keluarganya masing-masing, saya masih diberi kesempatan oleh Allah untuk mengurus orang tua saya dirumah, khususnya Ibu.

Saya sempat berfikir apa mungkin saya bisa seperti Maryam... , tiba-tiba ditiupkan ruh manusia kedalam rahimnya, dan bisa hamil. tapi lagi-lagi saya sadar, perempuan suci semulia beliau hanya ada satu, dan beliaulah satu-satunya perempuan suci yang dimuliakan Allah dengan mukjizat seperti itu. Lalu kemudian saya terfikir Aisyah... iya aisyah, seorang wanita mulia istri Rasullulah yang hingga akhir hayatnya tidak boleh dinikahi oleh laki-laki lain sepeninggal Rasullulah, nyatanya hingga wafat juga tidak dititipi anak oleh Allah. Saya tidak sesholehah Maryam atau Aisyah, tapi saya berharap Allah akan memberikan saya keturunan pada waktunya.

Ya Allah... mudah-mudahan saya masih diberi kesempatan untuk menjadi Ibu, itulah doa yang tak henti saya doakan sekarang setiap habis sholat, mudah-mudahan kelak Allah memberikan kepada saya keturunan yang sholeh dan sholehah, saya juga berdoa mudah-mudahan sahabat-sahabat saya yang belum menikah segera diberikan jodoh, diberikan pendamping yang bisa jadi Imam baginya, yang menolongnya dalam KeImanan dan Ketakwaan, saya berharap diruang tunggu ini Iman saya tidak berkurang, saya berharap diruang tunggu ini saya bisa menjadi pribadi yang baik dan khusnudzon, saya berharap Allah teguhkan Iman saya dan kuatkan kaki saya untuk terus berikhtiar, hingga saatnya tiba, semoga kesempatan-kesempatan baik kembali menyapa saya dengan penuh kebahagiaan dan kesyukuran, aamiin.

Bandung, 10 April 2020



Tidak ada komentar:

Posting Komentar