"Social Media has created jealous behaviour over illusions. Sadly some are envious of things, relationships and lifestyles that don't even exists" anonim
Sepuluh tahun
terakhir ini dunia sudah sangat berubah, apalagi teknologi, semuanya mengalami
perubahan yang cukup cepat dan masif. Begitu pula kebutuhan akan sosial media,
meski secara usia saya termasuk generasi milenial akhir saya merasakan betul
bagaimana perubahan dalam diri saya, juga orang-orang yang tumbuh dan
berkembang bersama saya lewat sosial media. Saya masih ingat tahun 2004an
ketika awal masuk kuliah saya membuat akun jejaring sosial bernama Friendster,
setelah redup, munculah Facebook dan saya pun ikut membuat akun di Facebook,
selanjutnya Twitter hingga saya lulus sekitar tahun 2009, beberapa watu
berselang tahun 2014 saya mulai membuka akun Instagram hingga 2019, meski tidak
begitu eksis selama rentang waktu 5 tahun saya sudah memposting sekitar 150an
foto, memfollow 800an akun Instagram, dan tentu di follow sekitar 600an orang,
jumlah yang cukup banyak, sebagian besar adalah sahabat, adik kelas, dan
murid-murid.
Kata beberapa
orang dan para ahli, kecanduan media sosial yang tidak bagus untuk kesehatan
jiwa. Bagaimana tidak, dengan sebuah akun sosmed kita bisa tahu aktivitas kesaharian
seseorang, apa yang kita pakai, apa yang kita lakukan, apa yang kita fikirkan,
mudah saja diakses oleh banyak. Dan tentu segala bentuk asumsi menjadi milik
ruang publik, dari hal yang bersifat umum, bahkan sampai yang bersifat pribadi
dan prevecy. Itulah mungkin yang menjadi alasan beberapa public figure dunia
tidak memiliki akun sosial media seperti Instagram. Karena sekali kita posting,
akan ada banyak komentar dari publik yang merasa ingin tau atau sok tau tentang
kehidupan kita.
Dari segi
agama, ada penyakit yang timbul dari fenomena “Sosial Media” ini. Penyakit Ain,
yang mungkin banyak dan tidak disadari oleh pengguna akun Instagram saat ini.
Menurut Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari ; “Ain adalah pandangan suka disetai
hasad yang berasal dari tabiat yang jelek, yang dapat menyebabkan orang yang
dipandang itu tertimpa suatu bahaya. Ia menambahkan, bahwa Ain dapat terjadi
bersama rasa takjub walau tanpa adanya sifat iri, walau dari orang yang mencintai dan dari orang yang
shalih (tanpa disengaja).
Saya tidak mau
terkena penyakit Ain, tapi jujur sejak tahun 2017 saya merasa mampu
mengendalikan otak dan fikiran saya untuk tidak memposting apapun tentang
kehidupan pribadi saya di sosial media, hingga kini sebagian orang yang
mengenal saya menganggap hidup saya baik-baik saja, tenang, dan bahagia. Meskipun
Beranda Intagram saya dipenuhi dengan foto-foto lamaran, pernikahan, lahiran,
foto keluarga dan sebagainya, dan itu hampir setiap hari saya lihat di
Instagram milik saya. Namun di satu titik tiba-tiba saja saya merasakan
perasaan saya ambyar setelah melihat satu postingan milik sahabat saya dikantor
yang dulu.
Teman saya
yang baru saja menikah beberapa bulan lalu memposting beberapa foto, foto
pertama tes peck dengan dua garis biru, foto kedua foto USG, foto berikutnya
adalah foto kebahagiaan ia bersama suaminya menyambut kehadiran buah hati. Saya
tidak bisa menggambarkan perasaan saya saat itu, tapi entah kenapa air mata
saya tiba-tiba saja menetes, dan tanpa berfikir panjang, saya langsung
menguninstall akun Instagram dari hp saya, entah saya sedang PMS atau terlalu
baper dan sentimentil tapi saya merasakan “ini gak adil buat saya”. Hingga
detik ini sudah hampir 3 minggu saya tidak menggunakan IG lagi, saya merasa
hidup saya jauh lebih baik, lebih tenang, sedikit. Entahlah, mungkin jika
suasana hati saya sudah membaik, mungkin saya akan download lagi IG saya.
Bandung, 27 Desember 2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar