Minggu, 24 November 2019

Pilu


“Tahukah kau, kita bisa menukar banyak hal yang menyakitkan yang dilakukan orang lain dengan sesuatu yang lebih hakiki, lebih abadi... Rasa sakit yang timbul karena perbuatan aniaya dan menyakitkan dari orang lain itu sementara. Pemahaman dan penerimaan tulus dari kejadian yang menyakitkan itulah yang abadi”  -Tere Liye

Pagi ini tiba-tiba saja hati saya kembali berkecamuk, saya tiba-tiba terfikir hal-hal buruk yang sudah saya lewati kemarin. Hari ini hari Guru, harusnya saya bahagia sebagai seorang guru, meskipun saya tau saya belum bisa jadi seorang guru yang baik, baiklah abaikan saja tentang hari ini. Entah kenapa hati saya kembali meradang, ada sesak yang terasa didalam dada, saya hanya mengingat betapa saya sudah melewatkan peristiwa-peristiwa berat yang mengguncang Iman saya.

Dan pertanyaan-pertanyaan yang selalu terlontar dalam hati “Ya Allah... kenapa Kau berikan ujian ini kepada saya?” hingga pertanyaan retoris kepada Allah “Ya Allah, saya salah apa?, kenapa harus saya yang menerima ujian ini?”. Saya yang merasa sudah berdamai dengan diri sendiri, nyatanya belum benar-benar ikhlas, lihatlah air mata saya jatuh tak terbendung sepanjang perjalanan kesekolah..., saya berfikir mengapa ada orang yang begitu tega terhadap saya, padahal selama ini saya selalu tulus menyayangi dan mencintainya sepenuh hati.

Hingga saya sampai dengan selamat ke sekolah, air mata saya menguap dan kering terkena angin sepanjang jalan, saya akan tetap jadi orang baik, tak peduli seberapa besar hal buruk menyakiti diri saya, perjalanan hidup saya masih panjang, saya percaya Allah tidak pernah tidur, Allah tau seberapa keras saya sudah berusaha selama ini, seberapa keras saya berjuang, meski hasilnya sia-sia, dan berakhir dengan tragis, saya berharap kaki saya cukup kuat untuk menopang tubuh saya, terus menjalani hidup kedepan, penerimaan tulus akan hal buruk dalam hidup semoga menjadi catatan amal baik disisi Allah, aamiin.

Bandung, 25 November 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar