Minggu, 10 November 2019

Kau tetap seorang Ibu


Kau tetap seorang Ibu, walaupun belum melahirkan seorang anak
Keu tetap seorang Ibu,  meskipun kau kehilangan buah hatimu
Kau tetaplah seorang Ibu saat menunggu bertahun-tahun perutmu ditiupkan ruh berupa anak oleh Allah
Kau tetaplah seorag Ibu, ketika kau memutuskan merawat anak yang baru saja kehilangan ibunya
Kau tetap seorang Ibu, meskipun kau bercerai dari suamimu yang zalim
Kau tetaplah seorang Ibu, meskipun kehilangan rahimmu karena suatu penyakit
Dan kau tetap seorang Ibu, meskipun Allah belum menakdirkanmu menikah sampai sekarang, lalu kau memutuskan untuk menyanyangi semua anak didunia
Naluri keibuaan selalu dimiliki oleh semua wanita didunia, tak peduli apapun kondisinya.
-          Nadhira  Arini


Malam itu teman SMA saya bertamu bersama dengan suami dan anak laki-lakinya, anak laki-laki yang cukup gendut dan menggemaskan, masuk dan mencium tangan saya, lalu dia masuk ketengah rumah dan melihat beberapa mainan berserakan, dengan polosnya anak itu bertanya

“Mana anaknya?”

hehehehe, saya kemudian berkata

“Tante belum punya anak sayang”
......

Terkadang sulit menjelaskan bagaimana kondisi perasaan saya ketika orang bertanya pada saya tentang “Anak”. Sebagian mungkin paham, tapi tak sedikit pula yang tidak paham kondisinya, lalu kemudian saya hanya bisa menjawab, belum dikasih, doakan saja.  Saya tidak perlu meratapi nasib, dan berprasangka yang tidak-tidak pada Allah, toh semua orang sudah dijamin rizkynya oleh Allah, dan jika anak itu bagian dari rizky tentunya sabagai orang muslim yang mengaku beriman, saya tidak perlu iri pada kakak, saudara, sahabat, adik kelas, atau bahkan murid saya yang mungkin sudah diberikan anak lebih dahulu daripada saya.

Bukankah setiap hari saya sudah dipanggil “Ibu” oleh murid-murid saya disekolah. Meski tidak lahir dari rahim saya, tapi saya sangat menyayangi murid-murid saya disekolah. Perhatian, kasih sayang, dan doa dari mereka rasanya sudah cukup untuk menghibur hari-hari saya setiap hari. Hati saya pun lama-lama jadi kebal dengan kesedihan, tiap kali mendengar kabar bahagia sahabat saya yang hamil dan melahirkan. Pernah di satu titik, saya malas sekali menjenguk sahabat saya yang lahiran, rasanya ada sedkit luka dihati, meski tidak berdarah, tapi kadang terasa menyesakkan.

Saya tidak tahu bagaimana caranya menjaga kewarasan dan kestabilan jiwa saya, jika tidak banyak berdoa dan mendengarkan nasihat dari para Ustadz, saya tidak sendiiri, dan bukan hanya saya sendiri yang diberi ujian dalam hidup, saya yakin Allah akan memberikan saya anak tepat pada waktunya, sebagai wanita dewasa saya pun sangat ingin bisa hamil seperti wanita-wanita lainnya, saya pun sangat ingin bisa menimbang anak bayi sebagiai mana halnya teman-teman saya yang sudah hamil dan melahirkan.

Semoga kelak waktunya tiba, Allah benar-benar menyiapkan saya untuk bisa menjadi Istri dan Ibu yang baik untuk anak-anak saya kelak, karena cinta saya tak pernah sepotong, cinta saya tak pernah setengah, setiap saya menyayangi dan menicntai, cinta saya tulus, utuh, penuh,dan tak pernah terbagi, percayalah...., dan beberapa hari kemarin, tiba- tiba saja murid saya memeluk saya, 2 anak perempuan itu memeluk saya bergantian, dan bersamaan, dan satu diantara mereka berkata kepada saya...

“Ibuuuuu... semoga ibu kelak jadi Ibu yang baik yaaaah”

sepotong doa, yang membuat hati saya bergetar...

“aamiin, makasih ya nak”

Bandung, 10 November 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar