Jumat, 27 Desember 2019

Takut

Pernikahan secara teori tampak mudah dan sederhana. Tetapi semuanya menjadi sama sekali tidak sederhana saat ia sudah dihadapkan pada seorang manusia. Seseorang yang lengkap dan memiliki banyak pertimbangan terkait masa lalu, keadaan keluarga, nilai-nilai, pandangan hidup, visi misi, juga hal-hal lain yang mungkin tidak pernah ada dalam hidupmu, apalagi pikiranmu. Sebab itulah, mendoakan jauh lebih baik daripada menilai. Memahami jauh  lebih baik daripada berburuk sangka.
-Kurniawan Gunadi



“Menikah bukan hanya sebuah hadiah dari lamanya penantian. Ia adalah pintu gerbang sebuah peradaban, sebuah komitmen untuk menyurga bersama, sebuah janji untuk saling menjaga dalam ketaatan dan mengejar RidhaNya disepanjang perjalanan” itulah yang saya baca sebelum saya dulu memutuskan mau menikah.

Lama sekali saya mengambil keputusan besar untuk menikah, apalagi ini menyangkut agama saya, menyangkut kehidupan saya setelah kematian, menyangkut surga dan neraka saya. Itulah mungkin yang menjadi pertimbangan banyak orang sebelum menikah, termasuk saya. Ibadah paling lama yang harus dilalui selama hidup, yang sangat ingin dilakukan sekali seumur hidup dengan orang yang sama.

Kamu tau, tidak mudah mengambil keputusan ini, saya bergulat dengan segala kekhawatiran dan ketakutan yang tidak bisa saya kendalikan, apalagi mengenal seseorang yang sebelumnya sama sekali tidak saya kenal, dan tentu butuh proses berkali-kali untuk meyakinkan diri, bahwa hidup saya kelak akan jauh lebih baik dengan pilihan saya sendiri. Tak ada paksaan dalam beragama, begitu pula dengan pernikahan, tak ada paksaan, semuanya didasarkan pada niat ikhlas mengharap Ridha Allah semata.

Kamu tau kekhawatiran terbesar saya adalah perihal penerimaan. Yah.. tidak semua orang bisa menerima kekurangan, tidak semua orang bisa menerima perbedaan, dan itulah yang membuat saya selalu merasa takut, insecure, dan tidak nyaman, bagaimana jika orang tuanya, adik-adiknya, bahkan keluarga besarnya tidak mampu menerima segala kekurangan dan masa lalu saya. Itulah yang selalu saya fikirkan, bagaimana jika orangtuanya, ayahnya..., apalagi ibunya memandang saya, bagaimana jika saudara-saudara perempuannya memandang saya, bagaimana keluarga besarnya memandang saya,  jujur saya selalu takut, takut jika ekspektasi mereka terhadap saya jauh melampaui kenyataan yang sebenarnya.

Bandung, 28 Desember 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar