-Kurniawan Gunadi
“Menikah bukan hanya sebuah
hadiah dari lamanya penantian. Ia adalah pintu gerbang sebuah peradaban, sebuah
komitmen untuk menyurga bersama, sebuah janji untuk saling menjaga dalam
ketaatan dan mengejar RidhaNya disepanjang perjalanan” itulah yang saya baca sebelum saya dulu memutuskan mau menikah.
Lama sekali saya mengambil
keputusan besar untuk menikah, apalagi ini menyangkut agama saya, menyangkut
kehidupan saya setelah kematian, menyangkut surga dan neraka saya. Itulah
mungkin yang menjadi pertimbangan banyak orang sebelum menikah, termasuk saya.
Ibadah paling lama yang harus dilalui selama hidup, yang sangat ingin dilakukan
sekali seumur hidup dengan orang yang sama.
Kamu tau, tidak mudah mengambil
keputusan ini, saya bergulat dengan segala kekhawatiran dan ketakutan yang
tidak bisa saya kendalikan, apalagi mengenal seseorang yang sebelumnya sama
sekali tidak saya kenal, dan tentu butuh proses berkali-kali untuk meyakinkan
diri, bahwa hidup saya kelak akan jauh lebih baik dengan pilihan saya sendiri.
Tak ada paksaan dalam beragama, begitu pula dengan pernikahan, tak ada paksaan,
semuanya didasarkan pada niat ikhlas mengharap Ridha Allah semata.
Kamu tau kekhawatiran terbesar
saya adalah perihal penerimaan. Yah.. tidak semua orang bisa menerima
kekurangan, tidak semua orang bisa menerima perbedaan, dan itulah yang membuat
saya selalu merasa takut, insecure, dan tidak nyaman, bagaimana jika orang
tuanya, adik-adiknya, bahkan keluarga besarnya tidak mampu menerima segala
kekurangan dan masa lalu saya. Itulah yang selalu saya fikirkan, bagaimana jika
orangtuanya, ayahnya..., apalagi ibunya memandang saya, bagaimana jika
saudara-saudara perempuannya memandang saya, bagaimana keluarga besarnya
memandang saya, jujur saya selalu takut,
takut jika ekspektasi mereka terhadap saya jauh melampaui kenyataan yang
sebenarnya.
Bandung, 28 Desember 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar