Minggu, 08 September 2019

Ekspektasi


Saat orang lain salah paham tentang diirmu, sedangkan engkau tak mampu menjelaskannya maka satu hal yang mungkin mampu menghiburmu “Sesungguhnya... aku tidak dihisab oleh Allah karena prasangkaanmu, tapi aku akan diadili olehNya atas kenyataan perbuatanku”

Diatas adalah penggalan kata-kata yang disampaikan oleh Ustad disuatu kajian, saya lupa siapa yang menyampaikan, yang jelas kata-kata diatas selalu saya ingat sampai sekarang.

Kalian tau salah satu hal yang paling sulit dalam hidup adalah menerima ekspektasi orang kepada kita, kita tidak bisa memilah milih orang yang bergaul dan berinteraksi dengan kita didunia nyata, apalagi didunia maya, yang rentan sekali dengan kebohongan dan berita hoax, kadang foto profil saja tidak sama dengan aslinya, apalagi bicara yang lebih berat dari itu, keimanan misalnya. Siapa yang bisa melihat dan mengukur keimanan seseorang, bukankah sebagian besar isi narapidana yang berada ditahanan  adalah orang-orang muslim, yang harusnya tidak melakukan perbuatan zalim pada orang lain? idealnya seorang muslim itu beriman, yang Imannya dapat menahan tangan dan mulutnya dari perbuatan zalim terhadap saudaranya sesama muslim.

Bagi saya sangat sulit jika kita harus mengikuti ekpektasi orang terhadap kita,  toh kita adalah manusia yang penuh dengan dosa, yang tiap hari berusaha meminta ampun kepada Allah, tidak ada kewajiban kita harus sesuai dengan ekspektasi manusia, dan bagi saya pribadi, ekspektasi itulah yang mau tidak mau menuntut saya untuk jadi pribadi yang lebih baik. Setiap hari saya berusaha menata hati dan fikiran agar saya tetap menjadi pribadi yang baik, sesulit apapun kondisi hidup yang saya jalani. Dan diantara ekspektasi yang jadi beban bagi saya, adalah ekspektasi orang bahwa saya adalah seorang yang sholeh(ahli ibadah), berilmu (pintar), dan berharta (berkecukupan).

“Don’t Judge Book from Cover” mungkin kita sering kali mendengar kalimat ini. Yah, baik buruknya isi buku belum tentu tergambar lewat sampul mukanya (Cover), tapi bagaimanapun juga sebagai seseorang yang suka membaca, salah satu alasan saya membeli buku adalah karena ketertarikan saya pada sampul depan bukunya. Dan hal ini ternyata terjadi dalam kehidupan pribadi saya, entahlah... mungkin karena jilbab saya menutupi dada, lebih panjang dari teman lainnya, kaos kaki yang tak pernah lepas dari kaki (kecuali saat sedang wudhu), manset yang sering saya pakai, dan pakaian gamis yang saya kenakan ketika tidak menggunakan seragam ke sekolah, seolah-olah orang melihat saya bak wanita sholehah.

Alhamdullilah sebuah kesyukuran bagi saya ketika orang berprasangka baik pada saya, padahal Allah lah yang menutupi aib dan kekurangan saya dihadapan manusia, hanya karena sering memegang Quran, sering shaum senin-kamis, dan sholat dhuha, ekspektasi orang menjadi lebih-lebih kepada saya. Jujur saya tidak sesholehah itu, suatu Ironi memang, kalau wanita sholehah adalah perhiasan dunia, tentu nasib saya tidak akan seperti ini, itulah yang sering kali terlintas dalam fikiran saya, (semoga Allah ampuni segala dosa saya sebagai seorang Istri). Doakan saja saya bisa sesholehah khadijah atau Maryam, saya sendiri jatuh bangun menjaga amal-amal sholeh saya, bahkan terkadang harus memaksakan diri, agar mau mendirikan ibadah-ibadah sunah.

Yang kedua berllmu... ah... siapalah saya ini, hanya wanita biasa yang fakir Ilmu, yang rajin datang ke kajian karena haus ilmu dan Imannya yang naik turun, hafalan Quran tidak banyak, pemahaman agama saya juga tidak begitu dalam, tapi mungkin karena Jilbab dan Gamis yang panjang, lagi-lagi orang mengira saya ini seperti seorang Ustadzah, saya meyadari Ilmu agama saya memang belum banyak, tapi saya mau belajar... begitu pun dengan ilmu dunia, saya merasa saya tidak pintar-pintar amat, IPK saja 3 koma sekian, tidak sampai cumloude, hanya mungkin karena hoby saya membaca, saya rajin dan aktif berorganisasi, wawasan saya jadi luas dan saya bisa nyambung jika harus ngobrol apapun dengan orang baru, doakan saja agar ekspektasi orang yang menganggap saya orang alim dan pintar itu benar-benar menjadi kenyataan.

Berharta(berkecukupan)... haha... ini pula yang ada dalam ekspektasi beberapa orang tentang saya, hanya karena saya menggunakan beberapa barang yang harganya cukup mahal, orang mengira saya orang yang berharta (jangan bilang orang kaya), jujur barang-barang yang saya kenakan dan harganya mahal tidak semuanya saya beli sendiri, ada juga yang merupakan hasil pemberian atau hadiah dari keluarga atau orang-orang terdekat. Bahkan ada yang bilang saya “akhwat sosialita”wkwkkwkw, tolonglah... saya bahkan gak punya anggaran buat beli skin care-skin care yang biasa digunakan oleh wanita-wanita muda saat ini, apalagi anggaran buat nyalon, sebulan sekali pun saya belum tentu dateng ke Salon. Tapi secara jujur, saya adalah orang yang rajin menabung, sehingga beberapa teman kalau butuh uang pasti akan menghubungi saya, alhamdullilah saya tidak punya hutang pada orang lain, saya merasa Allah Yang Maha Kaya, sangat sayang dan perhatian pada saya, doakan saja agar saya bisa menjadi orang berharta yang dermawan, seperti Usman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf.

terakhir... saya hanya ingin mengatakan bahwa, kita bukan Avatar yang bisa menjadi pengendali angin, air, dan api, apalagi menjadi pengendali hati dan fikiran orang, biarlah mereka berekspektasi apapun tentang kita, jika ekspektasi itu baik, mudah-mudahan itu bisa jadi motivasi agar kita benar-benar sesuai dengan yang mereka bayangkan, tapi jika ekspektasi orang terhadap kita negatif, sudah saatnya kita berubah dan menunjukkan pada mereka, bahwa kita tidak seburuk itu, percayalah pada diri kita, bahwa kitalah yang lebih berhak menampilkan diri kita yang sebenarnya, diri kita yang apa adanya, bukan ada apanya. Biarkan orang-orang dan netijen yang budiman memahami bahwa segala kebaikan yang datang dari diri kita sejatinya karena pertolongan dan kasih sayang Allah yang masih mau menutupi segala aib dan kekurangan kita. Be Your Self, and Love Your Self.

Bandung, 9 September 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar