Saat orang lain salah paham
tentang diirmu, sedangkan engkau tak mampu menjelaskannya maka satu hal yang
mungkin mampu menghiburmu “Sesungguhnya... aku tidak dihisab oleh Allah karena
prasangkaanmu, tapi aku akan diadili olehNya atas kenyataan perbuatanku”
Diatas adalah penggalan kata-kata
yang disampaikan oleh Ustad disuatu kajian, saya lupa siapa yang menyampaikan,
yang jelas kata-kata diatas selalu saya ingat sampai sekarang.
Kalian tau salah satu hal yang
paling sulit dalam hidup adalah menerima ekspektasi orang kepada kita, kita
tidak bisa memilah milih orang yang bergaul dan berinteraksi dengan kita
didunia nyata, apalagi didunia maya, yang rentan sekali dengan kebohongan dan
berita hoax, kadang foto profil saja tidak sama dengan aslinya, apalagi bicara
yang lebih berat dari itu, keimanan misalnya. Siapa yang bisa melihat dan
mengukur keimanan seseorang, bukankah sebagian besar isi narapidana yang berada
ditahanan adalah orang-orang muslim,
yang harusnya tidak melakukan perbuatan zalim pada orang lain? idealnya seorang
muslim itu beriman, yang Imannya dapat menahan tangan dan mulutnya dari perbuatan
zalim terhadap saudaranya sesama muslim.
Bagi saya sangat sulit jika kita
harus mengikuti ekpektasi orang terhadap kita,
toh kita adalah manusia yang penuh dengan dosa, yang tiap hari berusaha
meminta ampun kepada Allah, tidak ada kewajiban kita harus sesuai dengan
ekspektasi manusia, dan bagi saya pribadi, ekspektasi itulah yang mau tidak mau
menuntut saya untuk jadi pribadi yang lebih baik. Setiap hari saya berusaha
menata hati dan fikiran agar saya tetap menjadi pribadi yang baik, sesulit
apapun kondisi hidup yang saya jalani. Dan diantara ekspektasi yang jadi beban
bagi saya, adalah ekspektasi orang bahwa saya adalah seorang yang sholeh(ahli ibadah),
berilmu (pintar), dan berharta (berkecukupan).
“Don’t Judge Book from Cover”
mungkin kita sering kali mendengar kalimat ini. Yah, baik buruknya isi buku
belum tentu tergambar lewat sampul mukanya (Cover), tapi bagaimanapun juga
sebagai seseorang yang suka membaca, salah satu alasan saya membeli buku adalah
karena ketertarikan saya pada sampul depan bukunya. Dan hal ini ternyata
terjadi dalam kehidupan pribadi saya, entahlah... mungkin karena jilbab saya
menutupi dada, lebih panjang dari teman lainnya, kaos kaki yang tak pernah
lepas dari kaki (kecuali saat sedang wudhu), manset yang sering saya pakai, dan
pakaian gamis yang saya kenakan ketika tidak menggunakan seragam ke sekolah,
seolah-olah orang melihat saya bak wanita sholehah.
Alhamdullilah sebuah kesyukuran
bagi saya ketika orang berprasangka baik pada saya, padahal Allah lah yang
menutupi aib dan kekurangan saya dihadapan manusia, hanya karena sering
memegang Quran, sering shaum senin-kamis, dan sholat dhuha, ekspektasi orang
menjadi lebih-lebih kepada saya. Jujur saya tidak sesholehah itu, suatu Ironi
memang, kalau wanita sholehah adalah perhiasan dunia, tentu nasib saya tidak
akan seperti ini, itulah yang sering kali terlintas dalam fikiran saya, (semoga
Allah ampuni segala dosa saya sebagai seorang Istri). Doakan saja saya bisa
sesholehah khadijah atau Maryam, saya sendiri jatuh bangun menjaga amal-amal
sholeh saya, bahkan terkadang harus memaksakan diri, agar mau mendirikan
ibadah-ibadah sunah.
Yang kedua berllmu... ah...
siapalah saya ini, hanya wanita biasa yang fakir Ilmu, yang rajin datang ke
kajian karena haus ilmu dan Imannya yang naik turun, hafalan Quran tidak
banyak, pemahaman agama saya juga tidak begitu dalam, tapi mungkin karena
Jilbab dan Gamis yang panjang, lagi-lagi orang mengira saya ini seperti seorang
Ustadzah, saya meyadari Ilmu agama saya memang belum banyak, tapi saya mau
belajar... begitu pun dengan ilmu dunia, saya merasa saya tidak pintar-pintar
amat, IPK saja 3 koma sekian, tidak sampai cumloude, hanya mungkin karena hoby
saya membaca, saya rajin dan aktif berorganisasi, wawasan saya jadi luas dan
saya bisa nyambung jika harus ngobrol apapun dengan orang baru, doakan saja
agar ekspektasi orang yang menganggap saya orang alim dan pintar itu
benar-benar menjadi kenyataan.
Berharta(berkecukupan)... haha...
ini pula yang ada dalam ekspektasi beberapa orang tentang saya, hanya karena
saya menggunakan beberapa barang yang harganya cukup mahal, orang mengira saya
orang yang berharta (jangan bilang orang kaya), jujur barang-barang yang saya
kenakan dan harganya mahal tidak semuanya saya beli sendiri, ada juga yang
merupakan hasil pemberian atau hadiah dari keluarga atau orang-orang terdekat.
Bahkan ada yang bilang saya “akhwat sosialita”wkwkkwkw, tolonglah... saya
bahkan gak punya anggaran buat beli skin care-skin care yang biasa digunakan
oleh wanita-wanita muda saat ini, apalagi anggaran buat nyalon, sebulan sekali
pun saya belum tentu dateng ke Salon. Tapi secara jujur, saya adalah orang yang
rajin menabung, sehingga beberapa teman kalau butuh uang pasti akan menghubungi
saya, alhamdullilah saya tidak punya hutang pada orang lain, saya merasa Allah
Yang Maha Kaya, sangat sayang dan perhatian pada saya, doakan saja agar saya
bisa menjadi orang berharta yang dermawan, seperti Usman bin Affan dan
Abdurrahman bin Auf.
terakhir... saya hanya ingin
mengatakan bahwa, kita bukan Avatar yang bisa menjadi pengendali angin, air,
dan api, apalagi menjadi pengendali hati dan fikiran orang, biarlah mereka
berekspektasi apapun tentang kita, jika ekspektasi itu baik, mudah-mudahan itu
bisa jadi motivasi agar kita benar-benar sesuai dengan yang mereka bayangkan,
tapi jika ekspektasi orang terhadap kita negatif, sudah saatnya kita berubah
dan menunjukkan pada mereka, bahwa kita tidak seburuk itu, percayalah pada diri
kita, bahwa kitalah yang lebih berhak menampilkan diri kita yang sebenarnya,
diri kita yang apa adanya, bukan ada apanya. Biarkan orang-orang dan netijen
yang budiman memahami bahwa segala kebaikan yang datang dari diri kita
sejatinya karena pertolongan dan kasih sayang Allah yang masih mau menutupi
segala aib dan kekurangan kita. Be Your Self, and Love Your Self.
Bandung, 9 September 2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar