“Ah... jangankan temenan, suami
istri juga bisa ribut gara-gara hal remeh temeh...”
Maaf... bukan bermaksud membuka
luka L
“Gapapa... kamu juga harus
belajar, gada jaminan sama sekali mau taaruf seminggu or pacaran 10 tahun,
kalau udah nikah semua gak seindah drama
korea”
Iya bu...aku tau kok... orang tua
aku aja akhirnya cerai setelah pacaran dari SMA, LDR Bandung-Sukabumi, Bandung
– Kuningan, dan Nikah 17 tahun...
Awalnya ini hanya obrolan biasa,
curhat murid sama Gurunya tentang hubungan pertemanan yang tidak sehat, entah
kenapa jadi masuk ke ranah “pernikahan”. Meski sebenarnya ini adalah hal yang
wajar, saya kenal murid saya ini sejak dia kelas 12 SMA, dan sekarang ia sedang
Kuliah lagi S2, usianya sudah masuk usia 24, wajar jika membahas tentang pernikahan,
meski saya tau, dia sama sekali belum terfikir untuk naik kepelaminan dalam
waktu dekat, namun obrolan yang tidak disengaja seperti itu pada akhirnya mau
tidak mau membuka mata saya, dia murid yang baik, yang saya fikir berada dalam
keluarga yang hangat, ternyata anak korban “Broken Home”
Ia yang saya kenal sejak 7 tahun
lalu, sama seperti anak-anak remaja seusianya, tetap datang ke sekolah, dan
tetap datang ke tempat bimbel untuk belajar bersama saya, dan selama 7 tahun
pula meski setelah lulus SMA, dan tidak lagi bimbel kami masih suka jalan dan
makan bareng, ia tidak pernah sekalipun menceritakan kondisi keluarganya, memang
ia tidak banyak bercerita tentang keluarganya pada saya, dan saya merasa
semuanya baik-baik saja, hingga akhirnya saya hanya bisa menguatkan hatinya
sebagai seorang sahabat dan guru baginya.
“Justru yang real dan sebenarnya
diri kita kan setelah menikah, kita kenal pasangan sesungguhnya baik luar
ataupun dalam juga setelah nikah, jadi tiap hari harus penyesuaian, maaf ya ibu
gak tau, peluk kamu dari jauh. Kita
harus tetap jadi pribadi yang baik, meski mungkin punya luka batin sana sini,
dan harus menjalani hidup dengan baik dengan siapapun. Ngeliat orang lain yang
“broken home” emang sedih, tapi menjalani hal itu sendiri nyatanya memang
berat..., mudah-mudahan kamu kuat dan
tetap percaya kalau suatu saat akan mendapat jodoh laki-laki yang baik, yang
akan menjaga kamu sampai akhir hayat, aamiin”
ia membalas pesan saya di WA yang
panjang ini...
“Aamiin ibuuuuuu, lagian sebenernya
udah biasa aja sih mungkin emang dari awal mindset aku “ya udah terima aja mau
gimanapun itu nanti juga ada hikmahnya da rejeki sama jodoh udah diatur,
mungkin kalau dipaksain hidup semuanya ga akan berubah, bahkan bisa makin
parah” jadi pas emang keputusan orang tua pisah... “Oh yaudah...” gitu bu. Aku
tetap les bareng ibu aku tetap jajan di KFC aku tetep ikut UN wkkwkw Maaciw ibu
pencerahannya...”
Dia satu dari sekian murid saya
yang hidup dalam kondisi keluarga yang “broken home”, entahlah... rasanya sedih
melihat anak tumbuh berkembang tanpa orang tua yang utuh, bagaimanapun seorang
anak tetap butuh perhatian dan kasih sayang dari sosok Ayah dan Ibunya, meski
kita tidak tau mungkin dikemudian hari Ayah dan Ibu “baru” bisa jadi lebih baik
dari ayah dan ibu kandung, tapi bagaimanapun kondisinya ayah dan ibu kandunglah
yang akan mewariskan segala kebaikan dan keburukan pada gen anaknya.
note : gambar diatas gambarnya
Azka, anaknya Om Dedi Corbuzier
Bandung, 9 September 2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar