Minggu, 08 September 2019

Rumah Pecah


“Ah... jangankan temenan, suami istri juga bisa ribut gara-gara hal remeh temeh...”

Maaf... bukan bermaksud membuka luka L

“Gapapa... kamu juga harus belajar, gada jaminan sama sekali mau taaruf seminggu or pacaran 10 tahun, kalau udah  nikah semua gak seindah drama korea”

Iya bu...aku tau kok... orang tua aku aja akhirnya cerai setelah pacaran dari SMA, LDR Bandung-Sukabumi, Bandung – Kuningan, dan Nikah 17 tahun...

Awalnya ini hanya obrolan biasa, curhat murid sama Gurunya tentang hubungan pertemanan yang tidak sehat, entah kenapa jadi masuk ke ranah “pernikahan”. Meski sebenarnya ini adalah hal yang wajar, saya kenal murid saya ini sejak dia kelas 12 SMA, dan sekarang ia sedang Kuliah lagi S2, usianya sudah masuk usia 24, wajar jika membahas tentang pernikahan, meski saya tau, dia sama sekali belum terfikir untuk naik kepelaminan dalam waktu dekat, namun obrolan yang tidak disengaja seperti itu pada akhirnya mau tidak mau membuka mata saya, dia murid yang baik, yang saya fikir berada dalam keluarga yang hangat, ternyata anak korban “Broken Home”

Ia yang saya kenal sejak 7 tahun lalu, sama seperti anak-anak remaja seusianya, tetap datang ke sekolah, dan tetap datang ke tempat bimbel untuk belajar bersama saya, dan selama 7 tahun pula meski setelah lulus SMA, dan tidak lagi bimbel kami masih suka jalan dan makan bareng, ia tidak pernah sekalipun menceritakan kondisi keluarganya, memang ia tidak banyak bercerita tentang keluarganya pada saya, dan saya merasa semuanya baik-baik saja, hingga akhirnya saya hanya bisa menguatkan hatinya sebagai seorang sahabat dan guru baginya.

“Justru yang real dan sebenarnya diri kita kan setelah menikah, kita kenal pasangan sesungguhnya baik luar ataupun dalam juga setelah nikah, jadi tiap hari harus penyesuaian, maaf ya ibu gak tau, peluk kamu dari jauh.  Kita harus tetap jadi pribadi yang baik, meski mungkin punya luka batin sana sini, dan harus menjalani hidup dengan baik dengan siapapun. Ngeliat orang lain yang “broken home” emang sedih, tapi menjalani hal itu sendiri nyatanya memang berat..., mudah-mudahan kamu kuat  dan tetap percaya kalau suatu saat akan mendapat jodoh laki-laki yang baik, yang akan menjaga kamu sampai akhir hayat, aamiin”

ia membalas pesan saya di WA yang panjang ini...

“Aamiin ibuuuuuu, lagian sebenernya udah biasa aja sih mungkin emang dari awal mindset aku “ya udah terima aja mau gimanapun itu nanti juga ada hikmahnya da rejeki sama jodoh udah diatur, mungkin kalau dipaksain hidup semuanya ga akan berubah, bahkan bisa makin parah” jadi pas emang keputusan orang tua pisah... “Oh yaudah...” gitu bu. Aku tetap les bareng ibu aku tetap jajan di KFC aku tetep ikut UN wkkwkw Maaciw ibu pencerahannya...”

Dia satu dari sekian murid saya yang hidup dalam kondisi keluarga yang “broken home”, entahlah... rasanya sedih melihat anak tumbuh berkembang tanpa orang tua yang utuh, bagaimanapun seorang anak tetap butuh perhatian dan kasih sayang dari sosok Ayah dan Ibunya, meski kita tidak tau mungkin dikemudian hari Ayah dan Ibu “baru” bisa jadi lebih baik dari ayah dan ibu kandung, tapi bagaimanapun kondisinya ayah dan ibu kandunglah yang akan mewariskan segala kebaikan dan keburukan pada gen anaknya.

note : gambar diatas gambarnya Azka, anaknya Om Dedi Corbuzier

Bandung, 9 September 2019


Tidak ada komentar:

Posting Komentar