“Tidak ada pekerjaan yang tidak
ada resikonya, tidak ada pekerjaan yang tidak melelahkan, karena sesungguhnya
pekerjaan yang paling melelahkan adalah ketika kamu tidak bekerja dan berusaha
mencari pekerjaan”
Bekerja sebagai guru bukanlah
pilihan, karena kalau ada pilihan yang lebih baik dari ini, mungkin sudah lama
saya tinggalkan pekerjaan ini. Sebagai anak ekonomi saya terbiasa berfikir
ekonomis, berfikir berdasarkan kebutuhan bukan keinginan, meski nyatanya dalam
kehidupan sehari-hari keinginan saya jauh lebih banyak melampaui kebutuhan
saya. Dalam kenyataannya bekerja dengan manusia nyatanya lebih sulit daripada
berkerja dengan mesin atau benda mati, setiap hari bertemu tidak mungkin tidak
melibatkan perasaaan, ditambah saya seorang perempuan, yang mungkin lebih
sensitif dengan perasaan ketimbang laki-laki yang lebih banyak menggunakan
nalar dan logika.
Sejak lulus kuliah tahun 2009
hingga tahun 2017 saya tidak pernah mengajar di sekolah, saya hanya mengajar
ditempat bimbel, mengajar di madarsah, dan mengajar privat. Yah mengajar itu
butuh energi luar biasa, saya sudah merasakan mengajar anak TK, anak SD, anak
SMP, anak SMA, bahkan mahasiswa, tapi nyatanya tidak ada yang lebih mudah,
semuanya menantang. Mengajar anak TK dan SD yang anaknya tidak mau diam,
berlari kesana kemari, menangis, dan bekelahi. Sepertinya sudah menjadi hal
yang biasa setiap hari, dan lama-lama juga jadi biasa.
Anak SMP dan SMA berbeda, mereka
jauh lebih bisa terkondisikan dalam hal ketertiban, tidak akan lari-lari,
berkelahi, dan menangis, tapi tentu masalah kelabilan, mereka labil sekali,
emosi kadang tidak terkendali, hingga sikap dan perkataan tidak terkontrol,
kadang mereka lebih galak ketika ditegur atau dinasehatin. Di bimbel saya
merasa murid-murid SMP dan SMA itu seperti adik sendiri, kadang kala seperti
teman, senang saja rasanya, bisa berbagi cerita dengan mereka, mereka adalah
anak-anak milenial yang begitu up date dengan informasi apapun, dan mengajar
anak dari beragam sekolah yang berbeda saya jadi kaya akan ilmu, banyak
pengalaman-pengalaman seru yang bisa saya dapatkan dari cerita mereka
disekolah, dan rasa-rasanya murid saya dibimbel ini cukup baik, meski ada
beberapa yang agak menyebalkan sebagian besar dari mereka sangat menghormati
saya sebagai tutornya, atau kakak pembimbingnya.
Dan ketika saya mulai mengajar
disekolah, ternyata emosi saya mulai terganggu, bukan karena saya jadi lebih
emosi, tapi lebih karena ada saja anak-anak yang sikap dan perkataannya membuat
emosi saya naik. Marah? tidak. Saya tipe orang yang tidak bisa marah-marah
didepan orang banyak, kalaupun saya marah ujung-ujungnya saya pasti menangis,
jadi saya lebih banyak menurunkan emosi saya dengan cara menghindari anak-anak
yang membuat saya ingin marah. Mungkin keahlian saya memang mengajar, entahlah
saya sudah coba apply lamaran ke beberapa perusahaan, tapi hanya beberapa
perusahaan yang memanggil, itupun tidak cocok. Salah satunya perusahaan
trading, yang jual beli saham dan surat berharga.
Padahal menjadi guru salah satu
keinginan saya beberapa tahun belakang, rasanya saya bosan hampir 8 tahun
mengajar dibimbingan belajar. Jam kerja yang tidak jelas, tidak seperti
kebanyakan orang, saya biasa berangkat kerja selesai zuhur jam 1 an siang, dan
pulang malam jam setengah 8 atau jam 8 malam, dan dilakukan dari hari senin
sampai hari sabtu. Saya hanya libur satu hari, dihari minggu saja. Rasanya saya
tidak menikmati hidup, jenjang karier pun tidak terlalu berjalan, karena
jenjang kariernya sangat terbatas, paling mentok hanya jadi manager unit, tidak
bisa lebih, apalagi jadi direktur wkwkwkkwkw, meski saya tidak pernah punya
cita-cita jadi direktur.
Sebenarnya kenakalan anak-anak disekolah
tidak terlalu parah, dibanding anak sekolah lain. Paling hanya pelanggaran
aturan, seperti kesiangan, bolos kelas, terlambat datang kesekolah, tidak
menggunakan atribut sekolah dengan lengkap. Namun ketika nada suara mereka
lebih tinggi dari kita, lebih nyolot, dan lebih galak dari kita sebagai gurunya
rasanya tetap saja menyakitkan. Sepertinya beberapa dari mereka tidak paham
bagaimana adab kepada orang tua/guru. Belum lagi saat kegiatan belajar, mulai
dari yang ngobrol, maen game (Mobile Legend), Nonton dikelas, Tidur dikelas,
dan lain sebagainya, bahkan ketika kita masuk kadang mereka cuek dan menganggap
kita sebagai gurunya tidak ada, kadang saya ingin resign saja dan mencari
pekerjaan yang lebih baik.
Saya tidak mau marah-marah
dikelas. Itulah prinsip saya. Kalau saya sudah emosi dan benar-benar kesal
dengan anak-anak, saya akan keluar dari kelas, dan lebih memilih diam dimeja
kerja saya di Ruang Guru, kalau mereka sadar biasanya mereka yang akan mengejar
saya hingga ke kelas dan memintaaf maaf terlebih dahulu, sayang tidak semua
anak bisa seperti itu. Begitulah..., pekerjaan yang begitu sulit, tapi tidak
sepadan dengan gaji, pantas saja guru disebut pahlawan tanpa tanda jasa. Betapa
tidak sulit, kita dituntut untuk dapat membuat anak menjadi pintar, dan
mendidik mereka menjadi orang yang baik, yang kelak barmanfaat dan tidak
menyusahkan orang lain, tapi anak-anak sendiri tumbuh dengan lingkungan dan
latar belakang keluarga yang berbeda-beda.
Akhirnya saya harus menarik
mundur ego saya, saya harus mencari nafkah untuk menghidupi diri saya dan kedua
orang tua saya, ditambah ibu sakit, rasa-rasanya saya tidak punya alasan untuk
menyerah, saya tau mencari pekerjaan itu sulit, saya tau biaya berobat itu
mahal, walaupun sudah ditanggung BPJS nyatanya ada obat yang tetap harus saya
tebus demi kesembuhan ibu, inilah yang akhirnya bisa mengobati kesedihan dan
rasa lelah saya, mudah-mudahan rezeky saya berkah, sayanya dikasih kuat dan
dikasih sehat sama Allah, mudah-mudahan Allah sehatkan ibu dan bapak juga,
aamiin
Bandung, 15 Januari 2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar