Selasa, 15 Januari 2019

Mengajar


“Tidak ada pekerjaan yang tidak ada resikonya, tidak ada pekerjaan yang tidak melelahkan, karena sesungguhnya pekerjaan yang paling melelahkan adalah ketika kamu tidak bekerja dan berusaha mencari pekerjaan”

Bekerja sebagai guru bukanlah pilihan, karena kalau ada pilihan yang lebih baik dari ini, mungkin sudah lama saya tinggalkan pekerjaan ini. Sebagai anak ekonomi saya terbiasa berfikir ekonomis, berfikir berdasarkan kebutuhan bukan keinginan, meski nyatanya dalam kehidupan sehari-hari keinginan saya jauh lebih banyak melampaui kebutuhan saya. Dalam kenyataannya bekerja dengan manusia nyatanya lebih sulit daripada berkerja dengan mesin atau benda mati, setiap hari bertemu tidak mungkin tidak melibatkan perasaaan, ditambah saya seorang perempuan, yang mungkin lebih sensitif dengan perasaan ketimbang laki-laki yang lebih banyak menggunakan nalar dan logika.

Sejak lulus kuliah tahun 2009 hingga tahun 2017 saya tidak pernah mengajar di sekolah, saya hanya mengajar ditempat bimbel, mengajar di madarsah, dan mengajar privat. Yah mengajar itu butuh energi luar biasa, saya sudah merasakan mengajar anak TK, anak SD, anak SMP, anak SMA, bahkan mahasiswa, tapi nyatanya tidak ada yang lebih mudah, semuanya menantang. Mengajar anak TK dan SD yang anaknya tidak mau diam, berlari kesana kemari, menangis, dan bekelahi. Sepertinya sudah menjadi hal yang biasa setiap hari, dan lama-lama juga jadi biasa.

Anak SMP dan SMA berbeda, mereka jauh lebih bisa terkondisikan dalam hal ketertiban, tidak akan lari-lari, berkelahi, dan menangis, tapi tentu masalah kelabilan, mereka labil sekali, emosi kadang tidak terkendali, hingga sikap dan perkataan tidak terkontrol, kadang mereka lebih galak ketika ditegur atau dinasehatin. Di bimbel saya merasa murid-murid SMP dan SMA itu seperti adik sendiri, kadang kala seperti teman, senang saja rasanya, bisa berbagi cerita dengan mereka, mereka adalah anak-anak milenial yang begitu up date dengan informasi apapun, dan mengajar anak dari beragam sekolah yang berbeda saya jadi kaya akan ilmu, banyak pengalaman-pengalaman seru yang bisa saya dapatkan dari cerita mereka disekolah, dan rasa-rasanya murid saya dibimbel ini cukup baik, meski ada beberapa yang agak menyebalkan sebagian besar dari mereka sangat menghormati saya sebagai tutornya, atau kakak pembimbingnya.

Dan ketika saya mulai mengajar disekolah, ternyata emosi saya mulai terganggu, bukan karena saya jadi lebih emosi, tapi lebih karena ada saja anak-anak yang sikap dan perkataannya membuat emosi saya naik. Marah? tidak. Saya tipe orang yang tidak bisa marah-marah didepan orang banyak, kalaupun saya marah ujung-ujungnya saya pasti menangis, jadi saya lebih banyak menurunkan emosi saya dengan cara menghindari anak-anak yang membuat saya ingin marah. Mungkin keahlian saya memang mengajar, entahlah saya sudah coba apply lamaran ke beberapa perusahaan, tapi hanya beberapa perusahaan yang memanggil, itupun tidak cocok. Salah satunya perusahaan trading, yang jual beli saham dan surat berharga.

Padahal menjadi guru salah satu keinginan saya beberapa tahun belakang, rasanya saya bosan hampir 8 tahun mengajar dibimbingan belajar. Jam kerja yang tidak jelas, tidak seperti kebanyakan orang, saya biasa berangkat kerja selesai zuhur jam 1 an siang, dan pulang malam jam setengah 8 atau jam 8 malam, dan dilakukan dari hari senin sampai hari sabtu. Saya hanya libur satu hari, dihari minggu saja. Rasanya saya tidak menikmati hidup, jenjang karier pun tidak terlalu berjalan, karena jenjang kariernya sangat terbatas, paling mentok hanya jadi manager unit, tidak bisa lebih, apalagi jadi direktur wkwkwkkwkw, meski saya tidak pernah punya cita-cita jadi direktur.


Sebenarnya kenakalan anak-anak disekolah tidak terlalu parah, dibanding anak sekolah lain. Paling hanya pelanggaran aturan, seperti kesiangan, bolos kelas, terlambat datang kesekolah, tidak menggunakan atribut sekolah dengan lengkap. Namun ketika nada suara mereka lebih tinggi dari kita, lebih nyolot, dan lebih galak dari kita sebagai gurunya rasanya tetap saja menyakitkan. Sepertinya beberapa dari mereka tidak paham bagaimana adab kepada orang tua/guru. Belum lagi saat kegiatan belajar, mulai dari yang ngobrol, maen game (Mobile Legend), Nonton dikelas, Tidur dikelas, dan lain sebagainya, bahkan ketika kita masuk kadang mereka cuek dan menganggap kita sebagai gurunya tidak ada, kadang saya ingin resign saja dan mencari pekerjaan yang lebih baik.

Saya tidak mau marah-marah dikelas. Itulah prinsip saya. Kalau saya sudah emosi dan benar-benar kesal dengan anak-anak, saya akan keluar dari kelas, dan lebih memilih diam dimeja kerja saya di Ruang Guru, kalau mereka sadar biasanya mereka yang akan mengejar saya hingga ke kelas dan memintaaf maaf terlebih dahulu, sayang tidak semua anak bisa seperti itu. Begitulah..., pekerjaan yang begitu sulit, tapi tidak sepadan dengan gaji, pantas saja guru disebut pahlawan tanpa tanda jasa. Betapa tidak sulit, kita dituntut untuk dapat membuat anak menjadi pintar, dan mendidik mereka menjadi orang yang baik, yang kelak barmanfaat dan tidak menyusahkan orang lain, tapi anak-anak sendiri tumbuh dengan lingkungan dan latar belakang keluarga yang berbeda-beda.

Akhirnya saya harus menarik mundur ego saya, saya harus mencari nafkah untuk menghidupi diri saya dan kedua orang tua saya, ditambah ibu sakit, rasa-rasanya saya tidak punya alasan untuk menyerah, saya tau mencari pekerjaan itu sulit, saya tau biaya berobat itu mahal, walaupun sudah ditanggung BPJS nyatanya ada obat yang tetap harus saya tebus demi kesembuhan ibu, inilah yang akhirnya bisa mengobati kesedihan dan rasa lelah saya, mudah-mudahan rezeky saya berkah, sayanya dikasih kuat dan dikasih sehat sama Allah, mudah-mudahan Allah sehatkan ibu dan bapak juga, aamiin

Bandung, 15 Januari 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar