Di dekatnya aku lebih tenang
Bersamanya jalan lebih terang
Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikki milikmu kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu
Bila didepan nanti
Banyak cobaan untuk kisah cinta kita
Jangan cepat menyerah
Kau punya aku, ku punya kamu, selamanya kan begitu...
Lagunya Tulus memang terdengar tulus dari hati...,
gak tau kenapa banyak lagu-lagu tulus yang dekat dengan kehidupan kita sehari
hari. Dan lirik diatas adalah salah satu judul lagu milik tulus yang saya
sukai, kata-katanya simpel, sederhana, tapi mengena dihati. “Teman Hidup”
bahasa konotasi untuk pendamping hidup, seseorang yang akan membersamai kita
setiap harinya hingga malaikat maut menjemput kita. Dan untuk menemukan atau
ditemukan oleh teman hidup kita, tentu itu bukanlah perkerjaan yang mudah, kamu
mungkin akan bertemu dengan banyak orang dalam hidup kamu, tapi dari sekian
banyak orang, kamu harus menemukannya satu orang, teman hidup yang mungkin
salah satunya adalah teman masa kecil kamu, teman sekolah, teman kuliah, teman
kerja, atau jauh dari itu seorang teman didunia maya.
Dan sebuah kesyukuran bagi saya ketika
sahabat-sahabat saya akhirnya mengakhiri masa lajangnya, menggenap bersama
teman hidupnya. Berkeluarga, memiliki anak-anak yang pintar dan lucu, ah
senangnya. Bagi saya teman hidup itu adalah seseorang yang berharga dalam
hidup, seseorang yang selalu ada disamping kamu, disaat kamu bahagia ataupun
disaat kamu sedih, seseorang yang selalu bisa kamu andalkan saat kamu butuh bantuan,
seseorang yang selalu mengingatkan kamu kalau kamu salah, seseorang yang bisa
menjadi tempat kamu mencurahkan seluruh isi hati kamu, seseorang yang bukan
hanya menemani kamu tidur, menemani kamu makan, atau menemani kamu ke undangan,
jauh... jauh sekali dari itu semua, teman yang kelak akan menemani kamu juga di
Surga. Dan sebuah kesyukuran kamu bisa menghabiskan sisa usia kamu didunia
bersama teman hidup yang baik.
Suatu hari... salah seorang sahabat saya ditempat
kerja yang dulu tiba-tiba menghubungi saya, sudah setahun berlalu sejak saya
memutuskan untuk resign kami belum bertemu lagi, dia sepertinya kangen dan
rindu dengan saya, hampir 3 tahun bersama dalam satu tim bersamanya, saya pun
tentu merasakan hal yang sama, apadaya karena jarak dan waktu juga kesibukan,
kita belum bertemu lagi, hingga entah kenapa ia mengirimkan sebuah pesan
singkat lewat what’s app
“Aku lagi hancur. Sehancur2nya... lebay sih. Tp emang
iya. Aku butuh temen buat sembuhin aku. Sakit ngerasa hidup aku pengen berhenti disini aja.
Aku pengen lebih kuatin iman aku biar gak rapuh... Aku gak bisa cerita tapi aku
butuh temen kaya teteh yang sangat jauh lebih paham agama dari pada aku”
Kemudian saya hanya bisa berkaca-kaca, ingin menangis
rasanya, merasa dia salah alamat, merasa kalau dia salah mengubungi orang. Saya
yang mungkin merasa lebih hancur dari kehidupannya. Saya yang merasa kehidupannya
jauh lebih beruntung dari saya, memiliki keluarga yang utuh, pasangan hidup
yang baik, dan dikaruniai anak yang lucu dan pintar, pekerjaannya pun cukup
baik, lantas apalagi yang kurang? jauh sekali dibandingkan dengan kehidupan
saya yang menyedihkan.
Sedih mendengarnya, ketika seseorang menyeritakan
kesedihan dan masalahnya bukan dengan teman hidupnya, tapi diceritakan pada
teman dekatnya, alhamdullilah sahabat saya ini wanita yang kuat dan tegar,
meski ia tidak menceritakan masalahnya secara detail kepada saya, tapi dia
tidak membagi masalahnya dengan teman laki-lakinya, ia wanita yang sangat
mencintai suaminya, namun entah kenapa teman hidupnya tidak bisa menjadi tempat
curhat baginya, teman hidupnya tidak bisa mendukung dan menjadi solusi untuk
permasalahannya. Dan saya tidak mungkin menceritakan masalah pribadi saya yang
mungkin jauh lebih berat dari yang ia alami, dan saya hanya bisa mendoakan dan
memberikan semangat padanya agar dia bisa sabar menghadapi masalahnya.
“Yang sabar ya teh.. tiap orang pasti dikasih ujian
sama Allah, teteh harus kuat, inget orang tua, suami, sama anak teh, teteh gak
sendiri. Kalau mau cerita, cerita aja sbaik,ama aku, kalau harus ketemu, aku
usahain untuk ketemu...”
Awalnya kami membuat janji untuk bertemu, tapi
kemudian ia membatalkan pertemuan itu karena takut meninggalkan anaknya terlalu
lama dirumah, teman saya itu tahun ini resign dari kantor dulu tempat kami
bekerja, dan ia sekarang menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi swasta
dibandung. Entahlah sepertinya ia belum bisa bercerita detail tentang permasalahan
hidupnya kepada saya, saya sangat menghargai hal itu... mungkin, ia menganggap
kehidupan saya jauh lebih baik darinya. Tapi kita tidak bisa menakar ujian
Allah dengan perasaan, yang saya tau Allah Maha Adil, apa yang Allah berikan
kepada kita entah itu ujian, musibah, atau rizky semuanya yang terbaik untuk
kita.
Saya hanya bisa berharap... jika suatu saat kamu
berdoa meminta jodoh, pasangan, atau teman hidup, mintalah yang terbaik pada
Allah, saya tidak tau takdir akan membawa kita kemana, sebuah nasehat untuk
diri saya sendiri, jadilah teman hidup yang baik untuk pasanganmu kelak, jangan
tinggalkan dia sendiri, seberat apapun masalah yang dihadapi, genggamlah
tangannya, peluklah ia dengan penuh rasa cinta dan sayang, semoga Allah
turunkan berkah dan sakinah dalam pernikahan kalian, aamiin.
Bandung 29 September 2018

Tidak ada komentar:
Posting Komentar