Jumat, 28 September 2018

Teman Hidup


Di dekatnya aku lebih tenang
Bersamanya jalan lebih terang

Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikki milikmu kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu

Bila didepan nanti
Banyak cobaan untuk kisah cinta kita
Jangan cepat menyerah
Kau punya aku, ku punya kamu, selamanya kan begitu...


Lagunya Tulus memang terdengar tulus dari hati..., gak tau kenapa banyak lagu-lagu tulus yang dekat dengan kehidupan kita sehari hari. Dan lirik diatas adalah salah satu judul lagu milik tulus yang saya sukai, kata-katanya simpel, sederhana, tapi mengena dihati. “Teman Hidup” bahasa konotasi untuk pendamping hidup, seseorang yang akan membersamai kita setiap harinya hingga malaikat maut menjemput kita. Dan untuk menemukan atau ditemukan oleh teman hidup kita, tentu itu bukanlah perkerjaan yang mudah, kamu mungkin akan bertemu dengan banyak orang dalam hidup kamu, tapi dari sekian banyak orang, kamu harus menemukannya satu orang, teman hidup yang mungkin salah satunya adalah teman masa kecil kamu, teman sekolah, teman kuliah, teman kerja, atau jauh dari itu seorang teman didunia maya.

Dan sebuah kesyukuran bagi saya ketika sahabat-sahabat saya akhirnya mengakhiri masa lajangnya, menggenap bersama teman hidupnya. Berkeluarga, memiliki anak-anak yang pintar dan lucu, ah senangnya. Bagi saya teman hidup itu adalah seseorang yang berharga dalam hidup, seseorang yang selalu ada disamping kamu, disaat kamu bahagia ataupun disaat kamu sedih, seseorang yang selalu bisa kamu andalkan saat kamu butuh bantuan, seseorang yang selalu mengingatkan kamu kalau kamu salah, seseorang yang bisa menjadi tempat kamu mencurahkan seluruh isi hati kamu, seseorang yang bukan hanya menemani kamu tidur, menemani kamu makan, atau menemani kamu ke undangan, jauh... jauh sekali dari itu semua, teman yang kelak akan menemani kamu juga di Surga. Dan sebuah kesyukuran kamu bisa menghabiskan sisa usia kamu didunia bersama teman hidup yang baik.

Suatu hari... salah seorang sahabat saya ditempat kerja yang dulu tiba-tiba menghubungi saya, sudah setahun berlalu sejak saya memutuskan untuk resign kami belum bertemu lagi, dia sepertinya kangen dan rindu dengan saya, hampir 3 tahun bersama dalam satu tim bersamanya, saya pun tentu merasakan hal yang sama, apadaya karena jarak dan waktu juga kesibukan, kita belum bertemu lagi, hingga entah kenapa ia mengirimkan sebuah pesan singkat lewat what’s app

“Aku lagi hancur. Sehancur2nya... lebay sih. Tp emang iya. Aku butuh temen buat sembuhin aku. Sakit  ngerasa hidup aku pengen berhenti disini aja. Aku pengen lebih kuatin iman aku biar gak rapuh... Aku gak bisa cerita tapi aku butuh temen kaya teteh yang sangat jauh lebih paham agama dari pada aku”

Kemudian saya hanya bisa berkaca-kaca, ingin menangis rasanya, merasa dia salah alamat, merasa kalau dia salah mengubungi orang. Saya yang mungkin merasa lebih hancur dari kehidupannya. Saya yang merasa kehidupannya jauh lebih beruntung dari saya, memiliki keluarga yang utuh, pasangan hidup yang baik, dan dikaruniai anak yang lucu dan pintar, pekerjaannya pun cukup baik, lantas apalagi yang kurang? jauh sekali dibandingkan dengan kehidupan saya yang menyedihkan.

Sedih mendengarnya, ketika seseorang menyeritakan kesedihan dan masalahnya bukan dengan teman hidupnya, tapi diceritakan pada teman dekatnya, alhamdullilah sahabat saya ini wanita yang kuat dan tegar, meski ia tidak menceritakan masalahnya secara detail kepada saya, tapi dia tidak membagi masalahnya dengan teman laki-lakinya, ia wanita yang sangat mencintai suaminya, namun entah kenapa teman hidupnya tidak bisa menjadi tempat curhat baginya, teman hidupnya tidak bisa mendukung dan menjadi solusi untuk permasalahannya. Dan saya tidak mungkin menceritakan masalah pribadi saya yang mungkin jauh lebih berat dari yang ia alami, dan saya hanya bisa mendoakan dan memberikan semangat padanya agar dia bisa sabar menghadapi masalahnya.

“Yang sabar ya teh.. tiap orang pasti dikasih ujian sama Allah, teteh harus kuat, inget orang tua, suami, sama anak teh, teteh gak sendiri. Kalau mau cerita, cerita aja sbaik,ama aku, kalau harus ketemu, aku usahain untuk ketemu...”

Awalnya kami membuat janji untuk bertemu, tapi kemudian ia membatalkan pertemuan itu karena takut meninggalkan anaknya terlalu lama dirumah, teman saya itu tahun ini resign dari kantor dulu tempat kami bekerja, dan ia sekarang menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi swasta dibandung. Entahlah sepertinya ia belum bisa bercerita detail tentang permasalahan hidupnya kepada saya, saya sangat menghargai hal itu... mungkin, ia menganggap kehidupan saya jauh lebih baik darinya. Tapi kita tidak bisa menakar ujian Allah dengan perasaan, yang saya tau Allah Maha Adil, apa yang Allah berikan kepada kita entah itu ujian, musibah, atau rizky semuanya yang terbaik untuk kita.

Saya hanya bisa berharap... jika suatu saat kamu berdoa meminta jodoh, pasangan, atau teman hidup, mintalah yang terbaik pada Allah, saya tidak tau takdir akan membawa kita kemana, sebuah nasehat untuk diri saya sendiri, jadilah teman hidup yang baik untuk pasanganmu kelak, jangan tinggalkan dia sendiri, seberat apapun masalah yang dihadapi, genggamlah tangannya, peluklah ia dengan penuh rasa cinta dan sayang, semoga Allah turunkan berkah dan sakinah dalam pernikahan kalian, aamiin.

Bandung 29 September 2018


Tidak ada komentar:

Posting Komentar