Senin, 24 September 2018

Fairy Tale

"In life there is no fairy tales, no happily ever afters, no prince charming.
In life it's reality where you are gonna be hurt, you are gonna cry.
But the best thing about reality is that there is a tomorrow"
Wanita-wanita mulia ini hidupnya tidak mudah, banyak air mata dan kesedihan yang harus mereka jalani selama didunia, tapi mungkin itulah yang membuat kedudukan mereka menjadi lebih tinggi dibanding wanita lain didunia. Kisah hidupnya tidak seindah cerita putri-putri di Fairy Tales. Mereka adalah wanita-wanita yang taat dan patuh pada Tuhannya, hidupnya tidak mudah, namun tidak ada drama sama sekali, mereka menjalani takdirnya dengan penuh keikhlasan. Mungkin apa yang dialami oleh para wanita mulia itu bisa saja terjadi pada masa ini, meksipun kondisi dan keadaannya sudah berbeda zaman, tapi ujian-ujian seperti wanita mulia ini mungkin saja terjadi dalam kehidupan kita sekarang.

Tersebutlah Maryam, wanita suci nan sholehah ini adalah satu-satunya wanita yang diberi keistimewaan oleh Allah, wanita yang sepanjang hidupnya berusaha menjaga kehormatan dirinya, tidak pernah disentuh oleh laki-laki manapun, tapi diberikan mukjizat untuk dapat hamil dan melahirkan, mungkin hanya maryam yang dititipi ruh seorang janin manusia yang ketika besar anaknya diangkat menjadi seorang Rasul. Tapi satu hal yang perlu kita catat, Maryam tidak pernah Menikah dengan laki-laki manapun, jadi mungkin saat ini banyak para wanita yang Allah berikan cobaan seperti itu, belum menemukan jodohnya didunia. Atau memang tidak ada jodohnya didunia, sehingga tidak punya kesempatan untuk menikah selama hidunya didunia.

Aisyah. Siapa yang tidak kenal dengan wanita ini ? ia adalah satu-satunya wanita yang masih perawan yang dipersunting oleh Nabi Muhammad, cantik, cerdas, sholehah. Tapi lihat bagaimana ujian hidupnya begitu sulit, karena kehilangan kalung, ia ditemukan oleh salah seorag sahabat Rasullulah yang bernama Shafwan, kemudian ia dituduh berzina oleh orang-orang kafir Quraisy dan orang-orang munafik. Dan setelah wafatnya Rasul Aisyah yang merupakan istri Rasul tidak boleh menikah dan dinikahi oleh pria manapun, padahal mungkin saat diitnggalkan oleh Rasul usia Aisyah masih muda, ia menjadi janda, tanpa dikaruniai satupun anak oleh Allah. Apakah mudah menjalani hidup seperti Aisyah? menyandang status janda, tidak punya keturunan, dan tidak boleh menikah lagi dengan pria manapun hingga akhir hayatnya.

Asiyah, seorang istri dari Raja yang paling disegani  di Mesir, Fir’aun. Ia mungkin seorang wanita yang beruntung karena dipersunting oleh seorang Raja, tinggal di Istana dengan segala kemewahan yang melimpah, mempunyai seorang suami yang dapat memerintahkan apa saja, tapi dengan kezaliman suaminya Asiyah harus bertahan hidup dan berusaha menjalani hidup normal seperti wanita kebanyakan. Hingga saat ia berusaha mempertahankan akidahnya sebagai seorang muslim, ia akhirnya harus meregang nyawa karena kezalimannya suaminya. Padahal mungkin semasa hidupnya ia benar-benar mengabdikan baktinya sebagai seorang Istri kepada Firaun. Pada kenyataannya saat ini banyak pula wanita yang hidupnya seperti Asiyah, memiliki suami yang zalim, yang bukan hanya menyakiti secara verbal  tapi juga secara fisik, berapa banyak kekerasan rumah tangga yang dialami oleh para istri, namun karena rasa cinta yang dalam pada suami, pada anak, dan mempertahankan status sebagai istri, mereka memilih bertahan menjaga ikatan suci pernikahannya.

Sarah, seorang wanita cantik dan sholehah, istri dari seorang Rasul mulia Ibrahim. Sepasang manusia mulia ini hingga usianya yang sudah senja, belum juga dikaruniai anak, padahal berkali-kali Ibrahim dan Sarah berdoa dan meminta kepada Allah agar dikaruniai anak yang sholeh. Dengan kelapangan hati, Sarah memilihkan seorang wanita sholehah seperti Hajar untuk suaminya, berharap dengan menikahi Hajar suaminya akan memiliki keturunan. Apakah mudah menjalani hidup seperti Sarah ? Wanita mulia ini mau membagi cinta suaminya dengan wanita lain, karena rasa cinta yang besar kepada suaminya. Berharap suaminya mendapat keturunan. Tapi lihatlah kemudian, Allah berikan mukjizat, setelah Hajar mengandung, Allah pun menitipkan janin pada rahimmnya. Tidak mudah bagi seorang perempuan menerima hal ini, bagaimana ia harus membagi cinta suaminya dengan wanita lain. Tapi saat ini pun banyak wanita yang diuji dengan hal seperti ini, entah yang  halal memang ikhlas dilakukan karena Allah, atapun yang haram dengan jalan perselingkuhan, karena sejujurnya setiap wanita tidak pernah ingin menjadi istri kedua, jika kamu tanyakan pada wanita manapun, pasti mereka berharap akan menjadi yang pertama dan terakhir bagi suaminya.

Fatimah, ia adalah perempuan mulia putri dari Rasullulah, yang perangainya begitu baik seperti Ayahnya, ia yang di didik langsung oleh Rasullulah sejak kecil tumbuh menjadi seorang wanita sholehah yang taat dan patuh pada Allah dan RasulNya, seorang wanita beruntung yang dinikahi oleh pemuda sholeh seperti Ali bin Abi Thalib, ia yang menjaga kehormatan dirinya hingga diberikan jodoh terbaik yang dipilihkan Allah, jika melihat shirah perjalanan hidupnya kita mungkin akan takjub kepada sepasang manusia mulia ini, yang dalam diam menjaga cintanya, hingga Allah pertemukan dalam ikatan suci pernikahan. Tapi apakah setelah Fatimah menikah kehidupannya selalu bahagia, ia mungkin beruntung karena di karuniai suami yang Sholeh, tapi dalam keluarga kecilnya Fatimah sering kali kelaparan, ia tidak hidup dalam kemewahan, keluarganya sangat-sangat sederhana, seringkali ia menahan lapar karena rizky ia terima ia sedekahkan kepada orang-orang miskin yang hidup lebih menderita darinya. Begitulah kita berdoa dan berharap kepada Allah, sebagai wanita kita selalu berharap mendapatkan suami yang sholeh, tapi sadarkah kita jika kesholehah itu berbanding lurus dengan ujian??? Orang-orang sholeh, ujian hidupnya pun jauh lebih sulit dan lebih berat dari orang-orang biasa. Apakah kita siap mendapatkan ujian-ujian hidup bersama dengan orang yang sholeh?

Dan itulah gambaran kehidupan wanita-wanita sholehah zama Nabi. Yang mungkin sampai saat ini masih dirasakan oleh banyak wanita, saya selalu teringat pesan Ustad Salim A Fillah dalam ceramahnya, beliau selalu mengingatkan kami kaum wanita, bahwa kemuliaan seorang wanita tidak bergantung pada suaminya, Maryam tetap mulia tanpa suami, dan Asiyah pun tetap mulia meski suaminya orang yang zalim. Suatu keberkahan jika kamu ternyata dianugrahi oleh Allah suami yang sholeh, suami yang bisa membimbing kamu untuk jadi seorang wanita yang sholehah.

Namun sebagai wanita saya merasakan kegelisahan yang sama, kekhawatiran dan ketakutan yang mungkin hanya dirasakan oleh makhluk yang bernama wanita. Pertama perihal jodoh... jodoh kita kadang tidak datang diwaktu yang ideal seperti yang kita mau. Ada yang menikah diusia yang masih sangat muda umur dibawah 25 tahun, ada juga yang bertemu dengan jodohnya saat usia-usia sudah masuk usia kritis, 29 atau 30 tahun lebih.

Kedua, ketika jodoh sudah datang, kekhawatiran seorang wanita belum juga selesai, semua wanita yang sudah menikah pasti berharap akan segera hamil, tapi nyatanya Allah pun tidak memberikan anak secara langsung kepada pasangan suami istri, ada yang beberapa bulan langsung hamil, ada yang menunggu beberapa tahun, bahkan ada yang harus berikhtiar dan menunggu selama belasan dan puluhan tahun hingga akhirnya mendapatkan keturunan.

Ketiga, ketika sudah hamil, kekhawatiran selanjutnya seorang wanita adalah tentang kandungan, tentang janin yang ada dalam rahimnya, bisakah ia melahirkan secara normal atau harus melalui operasi caesar. Perjuangan yang sangat berat ketika mengandung dan melahirkan tidak akan pernah bisa dirasakan oleh seorang pria, tak sedikit ibu-ibu yang meregang nyawa saat harus melahirkan anaknya, melahirkan seorang bayi bagi seorang wanita sama seperti pertaruhan hidup dan mati nyawanya, maka ia harus berusaha kuat bertahan untuk tetap hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk orang-orang yang sangat dicintainya, suami dan buah hatinya.

Keempat, kesempurnaan seorang wanita dirasakan ketika ia sudah menjadi seorang Ibu, itulah yang saya baca dari beberapa buku selama ini, entahlah itu informasi berasal dari mana, tapi memang begitulah adanya “jika kamu belum melahirkan, kamu belum bisa menjadi Ibu dari anak yang kamu kandung kamu belum jadi wanita sempurna... “ kasihan... padahal wanita mulia sekelas Aisyah, istri dari manusia mulia, ia hingga akhir hayatnya tidak pernah menjadi seorang Ibu. Menjadi seorang Ibu itu bukan hal terakhir yang membuat gelisah seorang wanita. Ketika sudah melahirkan, bentuk tubuh seorang wanita tidak lagi ideal, berat badannya mungkin bertambah lebih berat, kecantikannya pun mungkin mulai memudar sesuai dengan pertambahan usianya, waktunya lebih banyak terkuras untuk mengurus segala kebutuhan suami dan anaknya, beruntung jika dikaruniai suami yang sholeh, suami yang mau menerima kondisi fisiknya yang sudah tidak ideal, suami yang mau membantu memperingan pekerjaannya sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya, suami yang selalu memberikan support dan kasih sayang pada kondisi apapun. Tapi bagaimana jika yang terjadi malah sebaliknya, suami yang kemudian mejadi kurang perhatian, cuek, banyak menuntut ini itu, bahkan mungkin suami yang mulai melirik wanita lain yang dianggap lebih cantik dan lebih memuaskan dari istrinya? Bahkan sampai hal terburuk jika suami berselingkuh dengan wanita lain dan menikahi wanita lain. Ketakutan itu mungkin hanya bisa dirasakan oleh wanita.

Kelima, ini bukanlah kekhawatiran terakhir bagi seorang wanita, tapi dimanapun sebagai seorang wanita, sebagai seorang istri, dan sebagai Ibu bagi anak-anaknya, seorang wanita harus mau menerima kenyataan pahit jika suatu saat suami tercintanya meninggal dunia, dipanggil terlebih dahulu dari dirinya oleh Allah. Tak sedikit wanita yang menghabiskan sisa hidupnya menyandang status Janda dan harus membesarkan anak-anaknya sendiri tanpa suami. Suatu kenyataan pahit yang harus diterima, ia harus mencari nafkah sendiri untuk dirinya juga anak-anaknya. Kenapa tidak menikah lagi ? Mungkin jika ada jodohnya wanita itu akan menikah lagi, tapi kebanyakan janda yang ditinggal meninggal oleh suami akan tetap bertahan sendiri, bukan karena dia tidak butuh laki-laki, tapi karena rasa cinta dan sayang yang besar pada suaminya, ia berharap dapat dikumpulkan lagi bersama suaminya kelak di Surga.

Dan kekhawatiran itu belumlah hilang dari fikiran saya, saya wanita normal yang sudah masuk fase-fase diatas, namun sebagai seorang muslim saya berusaha menghalau segala ketakutan itu, ketakutan akan pasangan hidup, tentang keturunan, atau apapun itu yang belum terjadi harusnya bisa disikapi dengan Iman, bahwa sejatinya masa depan hidup kita ada ditangan Allah, tugas kita hanyalah berikhiar dan berdoa, apa yang Allah takdirkan untuk kita itulah yang terbaik, kita hanya bisa menjalani biar Allah yang mengurus dan menyelesaikan urusan kita selama didunia.

20 September 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar