In life it's reality where you are gonna be hurt, you are gonna cry.
But the best thing about reality is that there is a tomorrow"
Wanita-wanita mulia ini hidupnya
tidak mudah, banyak air mata dan kesedihan yang harus mereka jalani selama
didunia, tapi mungkin itulah yang membuat kedudukan mereka menjadi lebih tinggi
dibanding wanita lain didunia. Kisah hidupnya tidak seindah cerita putri-putri
di Fairy Tales. Mereka adalah wanita-wanita yang taat dan patuh pada Tuhannya,
hidupnya tidak mudah, namun tidak ada drama sama sekali, mereka menjalani
takdirnya dengan penuh keikhlasan. Mungkin apa yang dialami oleh para wanita
mulia itu bisa saja terjadi pada masa ini, meksipun kondisi dan keadaannya
sudah berbeda zaman, tapi ujian-ujian seperti wanita mulia ini mungkin saja
terjadi dalam kehidupan kita sekarang.
Tersebutlah Maryam, wanita suci
nan sholehah ini adalah satu-satunya wanita yang diberi keistimewaan oleh
Allah, wanita yang sepanjang hidupnya berusaha menjaga kehormatan dirinya,
tidak pernah disentuh oleh laki-laki manapun, tapi diberikan mukjizat untuk
dapat hamil dan melahirkan, mungkin hanya maryam yang dititipi ruh seorang janin
manusia yang ketika besar anaknya diangkat menjadi seorang Rasul. Tapi satu hal
yang perlu kita catat, Maryam tidak pernah Menikah dengan laki-laki manapun,
jadi mungkin saat ini banyak para wanita yang Allah berikan cobaan seperti itu,
belum menemukan jodohnya didunia. Atau memang tidak ada jodohnya didunia,
sehingga tidak punya kesempatan untuk menikah selama hidunya didunia.
Aisyah. Siapa yang tidak kenal
dengan wanita ini ? ia adalah satu-satunya wanita yang masih perawan yang
dipersunting oleh Nabi Muhammad, cantik, cerdas, sholehah. Tapi lihat bagaimana
ujian hidupnya begitu sulit, karena kehilangan kalung, ia ditemukan oleh salah
seorag sahabat Rasullulah yang bernama Shafwan, kemudian ia dituduh berzina
oleh orang-orang kafir Quraisy dan orang-orang munafik. Dan setelah wafatnya
Rasul Aisyah yang merupakan istri Rasul tidak boleh menikah dan dinikahi oleh
pria manapun, padahal mungkin saat diitnggalkan oleh Rasul usia Aisyah masih
muda, ia menjadi janda, tanpa dikaruniai satupun anak oleh Allah. Apakah mudah
menjalani hidup seperti Aisyah? menyandang status janda, tidak punya keturunan,
dan tidak boleh menikah lagi dengan pria manapun hingga akhir hayatnya.
Asiyah, seorang istri dari Raja
yang paling disegani di Mesir, Fir’aun.
Ia mungkin seorang wanita yang beruntung karena dipersunting oleh seorang Raja,
tinggal di Istana dengan segala kemewahan yang melimpah, mempunyai seorang
suami yang dapat memerintahkan apa saja, tapi dengan kezaliman suaminya Asiyah
harus bertahan hidup dan berusaha menjalani hidup normal seperti wanita
kebanyakan. Hingga saat ia berusaha mempertahankan akidahnya sebagai seorang
muslim, ia akhirnya harus meregang nyawa karena kezalimannya suaminya. Padahal
mungkin semasa hidupnya ia benar-benar mengabdikan baktinya sebagai seorang
Istri kepada Firaun. Pada kenyataannya saat ini banyak pula wanita yang
hidupnya seperti Asiyah, memiliki suami yang zalim, yang bukan hanya menyakiti
secara verbal tapi juga secara fisik,
berapa banyak kekerasan rumah tangga yang dialami oleh para istri, namun karena
rasa cinta yang dalam pada suami, pada anak, dan mempertahankan status sebagai
istri, mereka memilih bertahan menjaga ikatan suci pernikahannya.
Sarah, seorang wanita cantik dan
sholehah, istri dari seorang Rasul mulia Ibrahim. Sepasang manusia mulia ini
hingga usianya yang sudah senja, belum juga dikaruniai anak, padahal
berkali-kali Ibrahim dan Sarah berdoa dan meminta kepada Allah agar dikaruniai
anak yang sholeh. Dengan kelapangan hati, Sarah memilihkan seorang wanita
sholehah seperti Hajar untuk suaminya, berharap dengan menikahi Hajar suaminya
akan memiliki keturunan. Apakah mudah menjalani hidup seperti Sarah ? Wanita
mulia ini mau membagi cinta suaminya dengan wanita lain, karena rasa cinta yang
besar kepada suaminya. Berharap suaminya mendapat keturunan. Tapi lihatlah
kemudian, Allah berikan mukjizat, setelah Hajar mengandung, Allah pun
menitipkan janin pada rahimmnya. Tidak mudah bagi seorang perempuan menerima
hal ini, bagaimana ia harus membagi cinta suaminya dengan wanita lain. Tapi
saat ini pun banyak wanita yang diuji dengan hal seperti ini, entah yang halal memang ikhlas dilakukan karena Allah,
atapun yang haram dengan jalan perselingkuhan, karena sejujurnya setiap wanita
tidak pernah ingin menjadi istri kedua, jika kamu tanyakan pada wanita manapun,
pasti mereka berharap akan menjadi yang pertama dan terakhir bagi suaminya.
Fatimah, ia adalah perempuan
mulia putri dari Rasullulah, yang perangainya begitu baik seperti Ayahnya, ia
yang di didik langsung oleh Rasullulah sejak kecil tumbuh menjadi seorang
wanita sholehah yang taat dan patuh pada Allah dan RasulNya, seorang wanita
beruntung yang dinikahi oleh pemuda sholeh seperti Ali bin Abi Thalib, ia yang
menjaga kehormatan dirinya hingga diberikan jodoh terbaik yang dipilihkan
Allah, jika melihat shirah perjalanan hidupnya kita mungkin akan takjub kepada
sepasang manusia mulia ini, yang dalam diam menjaga cintanya, hingga Allah
pertemukan dalam ikatan suci pernikahan. Tapi apakah setelah Fatimah menikah
kehidupannya selalu bahagia, ia mungkin beruntung karena di karuniai suami yang
Sholeh, tapi dalam keluarga kecilnya Fatimah sering kali kelaparan, ia tidak
hidup dalam kemewahan, keluarganya sangat-sangat sederhana, seringkali ia
menahan lapar karena rizky ia terima ia sedekahkan kepada orang-orang miskin
yang hidup lebih menderita darinya. Begitulah kita berdoa dan berharap kepada
Allah, sebagai wanita kita selalu berharap mendapatkan suami yang sholeh, tapi
sadarkah kita jika kesholehah itu berbanding lurus dengan ujian??? Orang-orang
sholeh, ujian hidupnya pun jauh lebih sulit dan lebih berat dari orang-orang
biasa. Apakah kita siap mendapatkan ujian-ujian hidup bersama dengan orang yang
sholeh?
Dan itulah gambaran kehidupan
wanita-wanita sholehah zama Nabi. Yang mungkin sampai saat ini masih dirasakan
oleh banyak wanita, saya selalu teringat pesan Ustad Salim A Fillah dalam
ceramahnya, beliau selalu mengingatkan kami kaum wanita, bahwa kemuliaan
seorang wanita tidak bergantung pada suaminya, Maryam tetap mulia tanpa suami,
dan Asiyah pun tetap mulia meski suaminya orang yang zalim. Suatu keberkahan
jika kamu ternyata dianugrahi oleh Allah suami yang sholeh, suami yang bisa
membimbing kamu untuk jadi seorang wanita yang sholehah.
Namun sebagai wanita saya
merasakan kegelisahan yang sama, kekhawatiran dan ketakutan yang mungkin hanya
dirasakan oleh makhluk yang bernama wanita. Pertama perihal jodoh... jodoh kita
kadang tidak datang diwaktu yang ideal seperti yang kita mau. Ada yang menikah
diusia yang masih sangat muda umur dibawah 25 tahun, ada juga yang bertemu
dengan jodohnya saat usia-usia sudah masuk usia kritis, 29 atau 30 tahun lebih.
Kedua, ketika jodoh sudah datang,
kekhawatiran seorang wanita belum juga selesai, semua wanita yang sudah menikah
pasti berharap akan segera hamil, tapi nyatanya Allah pun tidak memberikan anak
secara langsung kepada pasangan suami istri, ada yang beberapa bulan langsung
hamil, ada yang menunggu beberapa tahun, bahkan ada yang harus berikhtiar dan
menunggu selama belasan dan puluhan tahun hingga akhirnya mendapatkan
keturunan.
Ketiga, ketika sudah hamil,
kekhawatiran selanjutnya seorang wanita adalah tentang kandungan, tentang janin
yang ada dalam rahimnya, bisakah ia melahirkan secara normal atau harus melalui
operasi caesar. Perjuangan yang sangat berat ketika mengandung dan melahirkan
tidak akan pernah bisa dirasakan oleh seorang pria, tak sedikit ibu-ibu yang
meregang nyawa saat harus melahirkan anaknya, melahirkan seorang bayi bagi
seorang wanita sama seperti pertaruhan hidup dan mati nyawanya, maka ia harus
berusaha kuat bertahan untuk tetap hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri,
tapi juga untuk orang-orang yang sangat dicintainya, suami dan buah hatinya.
Keempat, kesempurnaan seorang
wanita dirasakan ketika ia sudah menjadi seorang Ibu, itulah yang saya baca
dari beberapa buku selama ini, entahlah itu informasi berasal dari mana, tapi
memang begitulah adanya “jika kamu belum melahirkan, kamu belum bisa menjadi
Ibu dari anak yang kamu kandung kamu belum jadi wanita sempurna... “ kasihan...
padahal wanita mulia sekelas Aisyah, istri dari manusia mulia, ia hingga akhir
hayatnya tidak pernah menjadi seorang Ibu. Menjadi seorang Ibu itu bukan hal
terakhir yang membuat gelisah seorang wanita. Ketika sudah melahirkan, bentuk
tubuh seorang wanita tidak lagi ideal, berat badannya mungkin bertambah lebih
berat, kecantikannya pun mungkin mulai memudar sesuai dengan pertambahan
usianya, waktunya lebih banyak terkuras untuk mengurus segala kebutuhan suami
dan anaknya, beruntung jika dikaruniai suami yang sholeh, suami yang mau
menerima kondisi fisiknya yang sudah tidak ideal, suami yang mau membantu
memperingan pekerjaannya sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya, suami
yang selalu memberikan support dan kasih sayang pada kondisi apapun. Tapi
bagaimana jika yang terjadi malah sebaliknya, suami yang kemudian mejadi kurang
perhatian, cuek, banyak menuntut ini itu, bahkan mungkin suami yang mulai
melirik wanita lain yang dianggap lebih cantik dan lebih memuaskan dari
istrinya? Bahkan sampai hal terburuk jika suami berselingkuh dengan wanita lain
dan menikahi wanita lain. Ketakutan itu mungkin hanya bisa dirasakan oleh
wanita.
Kelima, ini bukanlah kekhawatiran
terakhir bagi seorang wanita, tapi dimanapun sebagai seorang wanita, sebagai
seorang istri, dan sebagai Ibu bagi anak-anaknya, seorang wanita harus mau
menerima kenyataan pahit jika suatu saat suami tercintanya meninggal dunia,
dipanggil terlebih dahulu dari dirinya oleh Allah. Tak sedikit wanita yang
menghabiskan sisa hidupnya menyandang status Janda dan harus membesarkan
anak-anaknya sendiri tanpa suami. Suatu kenyataan pahit yang harus diterima, ia
harus mencari nafkah sendiri untuk dirinya juga anak-anaknya. Kenapa tidak
menikah lagi ? Mungkin jika ada jodohnya wanita itu akan menikah lagi, tapi kebanyakan
janda yang ditinggal meninggal oleh suami akan tetap bertahan sendiri, bukan
karena dia tidak butuh laki-laki, tapi karena rasa cinta dan sayang yang besar
pada suaminya, ia berharap dapat dikumpulkan lagi bersama suaminya kelak di
Surga.
Dan kekhawatiran itu belumlah
hilang dari fikiran saya, saya wanita normal yang sudah masuk fase-fase diatas,
namun sebagai seorang muslim saya berusaha menghalau segala ketakutan itu,
ketakutan akan pasangan hidup, tentang keturunan, atau apapun itu yang belum terjadi
harusnya bisa disikapi dengan Iman, bahwa sejatinya masa depan hidup kita ada
ditangan Allah, tugas kita hanyalah berikhiar dan berdoa, apa yang Allah
takdirkan untuk kita itulah yang terbaik, kita hanya bisa menjalani biar Allah
yang mengurus dan menyelesaikan urusan kita selama didunia.
20 September 2018

Tidak ada komentar:
Posting Komentar