“Tidaklah menimpa seorang mukmin
rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan
sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengan
dosa-dosanya”. (HR. Muslim no. 2573).
Bulan September kemarin, selama
satu bulan beberapa kali saya mengunjungi Rumah Sakit, ada beberapa teman,
saudara, dan tetangga yang sakit dan harus dirawat di Rumah Sakit. Menjenguk
orang sakit adalah salah sunah Rasul, beliau adalah orang yang sangat peyayang
pada siapa saja, dan beliau selalu menganjurkan untuk menjenguk dan mendoakan
orang-orang yang sakit. Banyak pelajaran yang akan kita dapatkan ketika kita
menjenguk orang sakit, pelajaran bahwa kita harus menjaga kesehatan dengan
baik, pandai bersyukur dengan apa yang Allah beri, dan tentunya menjadi
pelajaran berharga untuk tidak terlalu cinta dengan dunia. Dunia yang fana, mau
tidak mau suatu saat akan kita tinggalkan dan kita harus menyiapkan bekal untuk
kehidupan kita kelak di akhirat.
Bulan lalu salah seorang sahabat
saya, guru senior di sekolah sakit dan masuk ruangan ICU, beliu terkena
penyakit Liver..., dan saya pun meyempatkan diri untuk menjenguknya di hari
Senin, saya bersama teman-teman dan murid-murid sempat menjenguk dan berbincang
sebentar dengan beliau, walau bagian tubuhnya lemas, dipasang berbagai selang
untuk infus ataupun oksigen, beliau masih tetap bisa menyapa kami, saya fikir
beliau akan berhasil melewati masa-masa kritisnya, sayang di hari Kamis Allah
memanggilnya..., kami guru-guru dan murid-murid disekolah merasa sangat
kehilangan beliau, kami ikut bertakziah dan melihat pemakamannya, beliau adalah
salah satu guru senior yang cukup bersemangat dalam mengajar, jarang sekali
beliau marah pada murid-murid. Beberapa murid merasa bersalah, karena jarang
memperhatikan beliau ketika sedang belajar, otomatis saat mereka sedang
mengerjakan ujian tengah semester tangis mereka pecah dikelas, mereka saling
berpelukan satu sama lain.
Setelah sahabat saya meninggal,
saya mendapatkan kabar kalau Bude, kaka ibu yang paling tua masuk rumah sakit,
beliau sepertinya kecapaian, ngedrop, dan mengalami penyempitan jantung, saya
bersama kedua orang tua saya bertolak ke Jakarta untuk menjenguk bude,
alhamdullilah ketika kami datang ke Rumah Sakit didaerah Tebet, kondisi beliau
sudah mulai pulih, meski tidak pulih 100% dan tetap harus melakukan kontrol
rutin ke rumah sakit. Saya sendiri merasa sedih, karena sebenarnya Ibu pun tidak
berada dalam kondisi yang fit, tapi karena rasa cinta pada kakaknya, ibu
akhirnya pergi bersama kami ke Jakarta.
Sepulang dari Jakarta, beberapa
hari setelahnya tetangga sebelah rumah juga sakit dan masuk Ruang ICCU, bapak
Iwan yang anak terakhirnya seumur dengan saya, tiba-tiba terkena serangan
jantung, dan sempat tak sadarkan diri, kemudian beliau sadar ketika sudah ada
di rumah sakit. Saya, bersama kedua orang tua saya pun ikut menjenguk beliau,
Alhamdullilah... saat menjenguknya beliau sudah sadar dam sudah bisa bicara, sedih
rasanya... tapi beliau terlihat ceria dan bisa bercanda dengan kami. Saya bersyukur, beliau sudah seperti ayah
saya, ketika berpamitan saya mencium tangannya dan berkata agar beliau lekas
sehat, beliau hanya tersenyum sambil berkata “Terima kasih ya anakku....” hati
saya berdesir, air mata saya sepertinya ingin jatuh saat itu.
Dan beberapa minggu setalah
rentetan kunjungan ke rumah sakit, akhirnya Ibu yang ngedrop... ibu sepertinya
kecapaian, dan sempat jatuh setelah keluar dari kamar mandi, ibu dirawat. Saat
bapak memberi kabar ibu dirawat saya tengah berada di sekolah, sedih rasanya.
Sepulang dari sekolah saya langsung pergi ke Rumah Sakit..., melihat kondisi
ibu sungguh sangat memprihatinkan, saya benar-benar sedih, ibu terkena stroke
ringan, jangan ditanya perasaan saya seperti apa, saya sudah tidak bisa
menangis, saya hanya bisa menjalani dan menerima keadaan ini. Yang membuat saya
bersyukur adalah saya lah satu-satunya anak yang masih tinggal dirumah, saya
yang masih bisa merawat ibu dan bapak, Alllah yang menguatkan hati saya, saya
tidak bisa menangis dihadapan ibu, ketika dirumah sakit ibu terus memegang
tangan saya.
Saya hanya bisa berdoa kepada Allah
meminta kesembuhan untuk ibu, saya tidak mau kehilangan ibu... saya sangat
sayang sama ibu...
Bandung, 12 Oktober 2018

Tidak ada komentar:
Posting Komentar