“Sesungguhnya diantara dosa yang
tidak bisa ditebus dengan pahal shlata, sedekah atau haji, maka bisa ditebus dengan kesusah payahan dalam
mencari nafkah “ HR. Ath Thabrani
“Sesungguhnya Allah menyukai
hamba yang bekerja dan terampil. Siapa yang bersusah payah mencari nafkah untuk
keluarganya maka ia serupa dengan seorang mujahid dijalan Allah” HR Ahmad
Sejak kuliah saya berusaha untuk
tidak membebani orang tua, saya lakukan apa yang bisa lakukan untuk mendapatkan
uang agar bisa meringankan biaya kuliah saya. Berjualan atau mengajar adalah
hal yang biasa saya lakukan saat itu. Dan saya sangat bersyukur Allah
mengaruniai saya ilmu yang bermanfaat, yang dengannya saya bisa mendapatkan
sejumlah uang dari kegiatan mengajar, entah di madrasaah atau privat-privat ke
rumah-rumah.
Saya mulai bekerja serius pada
saat tingkat akhir kuliah, alhamdulilah bisa mengajar dibimbel saat itu dengan
gaji yang lumayan cukup, hingga akhirnya saya lulus kuliah dan memutuskan
melamar pekerjaan kesana kemari. Dalam perjalanannya saya melamar pekerjaan
ternyata profesi mengajarlah yang lebih cocok, saya pernah melamar ke beberapa
perusahaan tapi kalaupun lulus sampai tahap intervieuw ada saja kendalanya yang
akhirnya saya balik lagi bekerja ditempat saya bisa mengajar.
Dan setelah beberapa kali pindah
akhirnya saya menemukan satu tempat kerja yang membuat saya nyaman, saya
bekerja cukup lama disana, dari tahun 2009 sampai tahun 2017. Mengajar dibimbel
dibeberapa cabang, sehingga saya bisa merasakan mengajar murid dari beberapa
sekolah sebandung raya, dari SMA 1 sampai SMA 27, hanya 2 sekolah yang muridnya
belum pernah saya ajar, SMA 16 dan SMA 18 Bandung. Sehingga saya pun jadi tau
jalan-jalan dikota bandung.
Mungkin orang menyangka jika
profesi sebagai Guru, bukan profesi yang menantang seperti profesi-profesi
lainnya, nyatanya tidak sesederhana itu. Kalau dijelaskan tentu banyak sekali
yang harus saya tulis. Satu hal yang namanya bekerja, sudah barang tentu kita
harus mau ditempatkan dimana saja, dan ketika ditempatkan ditempat yang jauh
tentu resikonya akan lebih besar. Satu
waktu saya pernah ditempatkan di kantor cabang yang ada di jalan Soekarno
Hatta, jaraknya lumayan jauh dari rumah dan tentu setiap kali kesana saya harus
melewati lajur cepat, tiap pindah jalur saya sering merasa takut, alhamdullilah
selalu dilindungi Allah, sampai selesai bekerja disana saya bisa melewatinya
dengan baik, diberi keselamatan setiap harinya, tak jarang saya melihat sendiri
kecelakaan lalu lintas disana, kadang agak ngeri tapi demi mencari nafkah, dan
ingat kedua orang tua, biasanya rasa takutnya hilang sendiri.
Dan akhirnya setelah kurang lebih
8 tahun saya resign juga dari perusahana yang lama tempat saya bekerja, sedih
sih harus meninggalkan pekerjaan dan teman-teman yang baik, tapi saya tidak
punya pilihan lain, daripada saya malu dan sedih, lebih baik saya melanjutkan
hidup saya dengan baik, saya berfikir bumi Allah luas, Rizky Allah pun melimpah
dibumi, asal saya mau berusaha dan bekerja keras, saya percaya Allah akan
berikan ganti pekerjaan yang lebih baik buat saya. Memang berada dalam “Comfort
Zone” itu menyenangkan, seringkali membuat kita terlalu santai. Tapi kalau kita
mau keluar dari comfort zone itu, kita pasti akan menemukan pilihan-pilihan
hidup lain yang mungkin jauh lebih baik untuk perkembangan diri kita. Umur kita
terus bertambah, harusnya Kualitas diri dan kemampuan kita pun ikut bertambah.
Dan sekarang setelah saya pindah
kerja ditempat yang baru, saya harus adaptasi lagi dari awal, harus memulai
semuanya dari titik nol. Jarak tempat saya bekerja dari rumah 4 kali lebih jauh dari tempat saya bekerja sebelumnya wkwkkwkwwk. Belum lagi medannya yang curam hahaha, saya hanya bisa mengelus dada, berdoa semoga setiap hari dikasih keselamatan sama Allah, saya pilih naik jemputan sekolah bareng anak2 dari tempat parkiran didekat mesjid daerah Dago. Entahlah... kalau bukan karena pertolongan Allah rasa-rasanya
akan sulit menjalaninya. Belum lagi dengan kepindahan tempat kerja saya yang
lokasinya cukup jauh dari rumah, butuh energi ekstra untuk bekerja. Kalau bukan
diniatkan ibadah, rasanya lelah sekali. Tapi yang selalu saya ingat adalah
kedua orang tua saya, dua pintu Surga untuk saya yang selalu jadi kekuatan
untuk saya bekerja, saya tidak boleh malas-malasan, harus bekerja dengan sebaik-baiknya,
banyak hal dalam hidup yang belum saya capai, apalagi saya belum dikasih amanah
anak sama Allah. Sedih sih... tapi saya gak bisa berbuat banyak, bismillah
saja. Saya sudah tawakal kepada Allah, biarlah saya menjalani semuanya, biar Allah
yang mengurus dan mengatasi semua kebutuhan saya didunia. Saya percaya Allah
Maha Baik, Maha Adil, Allah tidak akan meninggalkan saya sendiri.
Bandung, 21 Agustus 2018

Tidak ada komentar:
Posting Komentar