Sudah setahun berlalu..., gak
kerasa sudah satu tahun saya bekerja ditempat yang baru, alhamdullilah sejauh
ini pekerjaan saya lancar dan bisa saya tangani dengan baik, begitu pula dengan
lingkungan tempat saya bekerja, setahun ini semuanya berjalan dengan baik,
seumur hidup saya berada didunia kerja alhamdullilah saya tidak pernah
berkonflik dengan atasan, maupun rekan kerja. Ditempat yang baru saya bisa
bekerja dengan tenang, tanpa harus takut apapun, keputusan saya resign tahun
lalu saya anggap sebagai keputusan yang tepat.
Tapi tidak ada seorang pun yang
tau bagaimana susah payahnya saya mencari pekerjaan selepas resign. Saya ingat
setahun lalu sebenarnya saya sudah mengikuti pelatihan untuk menempati posisi
baru dikantor, tapi kemudian saya berfikir keras tentang kehidupan pribadi
saya, saya tidak mungkin menyembunyikan masalah dengan senyum manis dihadapan
semua orang yang mengenal baik diri saya, saya berusaha berdiri tegak
diihadapan orang lain, berusaha berada dalam kondisi baik, dan menjalani kehidupan
seperti orang normal pada umumnya, hingga disatu titik saya berfikir jika ini
tidak sehat bagi perkembangan jiwa dan emosi saya. Dengan berat hati setelah
hampir 8 tahun bekerja saya putuskan untuk Resign.
Bulan Juni tahun lalu selesai
sudah pembelajaran selama satu tahun, setelah UN, Ujian kenaikan kelas, dan
Ujian SBMPTN akhirnya tugas saya selesai. Saya berfikir saat itulah waktu yang
tepat untuk mengundurkan diri, saat itu saya mendapatkan tunjangan hari raya,
dan uang hasil membuat soal selama satu tahun yang jumlahnya lumayan besar,
sekitar 5-6 jutaan. Saya fikir uang ini cukup untuk menyambung hidup selama 3
bulan kedepan, hal bodoh memang, resign tanpa punya pekerjaan pengganti yang
lebih baik. Dan tidak tau juga harus melamar pekerjaan kemana.
Saya harus memulai semuanya dari
nol lagi. saya tidak punya banyak pilihan saat itu, saya tidak peduli harus
bekerja apa dan dimana, fokus saya saat itu yang penting saya bekerja, kasian
bapak dan ibu, bapak yang sudah pensiun dan ibu yang hanya ibu rumah tangga
biasa, bapak yang bukan PNS dan sudah tidak punya pensiun, saya harus bekerja
untuk membantu kedua orang tua saya. Akhirnya saya mulai lagi membuat surat
lamaran, mencari lowongan kerja kesana kemari, entahlah mungkin mas-masa foto
copyan dekat rumah saya bosan liat saya ngeprint lagi ngeprint lagi, saya buat
belasan surat lamaran kemana saja. Dan saat itu saya melakukan kebodohan yang
luar biasa.
Hari itu hari Jumat, saya harus
pergi kekantor lama menyelesaikan pekerjaan yang masih tersisa, tempat kerja
saya di daerah Venter, dan rumah saya sekitar Cimahi. Saya waktu itu mampir ke
JNE untuk mengirimkan surat lamaran, setelah selesai saya langsung pergi ke
Venter, ketika sampai Venter jam 11an saya cek tas saya, dan ternyata.... Foto
Copy Ijazah, Transkrp Nilai, dan Akta IV saya tertinggal ditas, artinya amplop
surat lamaran yang saya titip ke JNE gada tiga dokumen itu..., saya panik dan
akhirnya saya memutuskan kembali ke daerah Cimahi buat mampir ke JNE, sampai di
JNE sekitar jam setengah 12an... kantornya tutup dan si mas-masnya juga sholat
Jumat, saya menunggu didepan kantor JNE sendirian hanya ada seekor kucing yang
lagi tidur dengan nyenyak disudut kantor tersebut. Menunggu... 1 jam lebih mungkin,
dan akhirnya si mas-mas JNE yang menerima amplop berisi surat lamaran saya tiba
“mas maaf tadi surat lamaran saya
yang diamplop coklat masih ada? ini foto copy ijaazahnya ketinggalan”
“Oh maaf mba, udah diangkut tadi
waktu mba pergi”
saya langsung lemas saat itu,
berfikir kenapa saya bisa seceroboh itu...
“terus gimana dong mas, gak bisa
dicancel juga yah?”
“Gak bisa mba, kalau mau mba
susul aja ke kantor pusat JNE, kayanya surat lamaran mba masih disana”
“oh gitu ya mas, dimana kantor
pusatnya mas?”
“didekat perumahan Batu Nunggal”
Hening....
“oh yauda deh mas, makasih yah”
“iya mba... sama-sama”
Kalian tau saat itu bulan apa?
bulan itu bulan Ramadhan, saat itu saya sedang berpuasa. Fikiran saya sudah
kacau balau, saya akhirnya memutuskan untuk pergi ke daerah Batu Nunggal, dan
mampir disekitar jalan Rajawali buat sholat Zuhur terlebih dahulu. Selesai
sholat saya tidak bisa membendung air mata saya, saya lelah, saya lapar juga,
dan saya bodoh sekali, saya mengutuki diri saya, dan nasib saya yang begitu
menyedihkan, saya tdak menghubungi siapapun, keluarga ataupun teman tak ada
satu pun yang saya hubungi, saya hanya menghubungi atasan saya, izin kalau saya
harus menyelesaian urusan ke batu nunggal dan akan segera ke kantor secepatnya.
Singkat cerita setelah menghapus
air mata, dengan bismillah akhirnya saya pergi ke batu nunggal ditengah
kemacetan, terik panas matahari, rasa lelah, lapar dan haus. Sampai dengan
selamat, dan akhirnya setelah mengurus ini itu kebagian customer service dan
dicari kesana-sini surat lamaran saya bisa ditemukan, dan bisa saya masukan
foto copy ijazah saya yang tadi tertinggal, selesai dari Batu Nunggal saya
balik lagi ke Venter karena jam kerja saya masih sampai jam 5. Dan ketika
sampai di Venter saya hanya bisa mengehla nafas panjang.
Keputusan reisgn bukanlah hal
yang sederhana, mau tidak mau saya akan kehilangan teman terbaik saya ditempat
kerja... delapan tahun lebih, seolah saya pergi tanpa pamit, saya tidak mau
menangis dihadapan teman-teman, mereka baru menyadari saya akan resign pada
saat saya bersalaman diacara silaturahmi dengan seluruh karyawan. Salah satu
atasan yang memeluk saya dihari bahagia saya dulu tidak bisa membendung air
matanya, sama saya pun tidak bisa menahan air mata saya, dia memeluk saya erat,
dan mendoakan kebaikan buat saya. Saya berfikir ini mungkin yang terbaik, saya tidak mau menambah masalah kedepannya, jika saya tetap bertahan dikantor yang lama.
Alhamdullilah beberapa minggu
kemudian saya mendapatkan panggilan dari beberapa sekolah untuk mengikuti tes,
dan alhamdullilahnya saya mendapatkan kesempatan untuk bergabung disalah satu
sekolah di Bandung, saya sedih... dan hanya bisa mengucap syukur pada Allah,
Allah benar-benar mengujI kesabaran dan keikhlasan saya, kalau saya menyerah
saat itu, kalau saya tidak berikhtiar saat itu, mungkin saya akan kehilangan
kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
Saya bersyukur ditempatkan
ditempat yang baik oleh Allah, walaupun jaraknya cukup jauh dari rumah, tapi
alhamdullilah saya mendapatkan lingkungan kerja yang baik, atasan yang baik,
rekan kerja yeng baik, juga senior-senior yang baik. Mereka dapat menerima
keadaan saya yang seperti ini, entahlah apa yang ada difikirian mereka tentang
saya, yang jelas saya hanya ingin fokus bekerja dan menngerjakan pekerjaan baru
saya dengan sebaik-baiknya, setelah delapan tahun lebih saya mengajar dilembaga
bimbingan belajar, akhirnya saya merasakan juga posisi sebagai Guru, di
sekolah.
Bandung, 29 Juli 2018

Tidak ada komentar:
Posting Komentar