Kemarin adalah Father's Day, ditumblr, path, twitter, atau lainnya banyak yang posting ucapan hari ayah, banyak juga yang pasang foto bersama ayah, saya? gak pasang foto sama ayah saya, tapi hanya posting gambar yang ada disamping ini :)
Hari Ayah atau Hari Ibu rasanya sama saja bagi saya, sesuatu yang tidak dirayakan secara berlebihan, tapi mungkin diperingati oleh banyak orang di hari-hari tertentu, agar kita tidak lupa pada mereka berdua, yang berjasa mengantarkan kita ke dunia ini. Hari ini saya akan menulis tentang ayah saya, bapak.
Rasa-rasanya saya pernah menuliskan hal yang sama tentang bapak, tapi entah kenapa diusia saya yang semakin bertambah, rasa-rasanya saya semakin sayang pada kedua orang tua saya, saya belum menikah hingga kini, mungkin memang belum takdirnya, meski dimulut saya bilang ingin menikah tapi nyata-nyatanya saya masih sayang dengan mereka berdua, dan belum bisa membayangkan jika harus meninggalkan rumah ini dan ikut suami.
Bapak..., adalah ayah yang begitu perhatian pada anaknya, yang sering kali mengantar saya pergi kesekolah, kekampus, bahkan tempat kerja, saya begitu mandiri sejak bisa bawa motor sendiri, bahkan sebelum bisa motor, saya memegang prinsip saya untuk tidak pergi dengan laki-laki yang bukan muhrim saya, meski beberapa kali teman laki-laki saya mengajak pulang bareng, entah dengan motor atau mobil.
Di usia saya yang sudah 27 tahun ini, saya pergi kemana pun lebih sering bersama bapak. Mulai dari pergi ke tempat les privat yang sering pulang malem, ke undangan karena saya tidak punya pasangan, bahkan ke dokter untuk periksa gigi atau sakit, pasti bapak yang menemani. Kemesjid saat Iti'kaf pun bapak yang menemani saya kemesjid, mesjid saya lumayan jauh dari rumah, terpisah beberapa gang, tapi lagi-lagi bapak yang antar saya kemesjid.
Ada satu waktu yang saya tidak bisa lupa, saat saya harus memberi privat kepada salah seorang murid saya di daerah Arcamanik, entah kenapa les saat itu begitu lama, tugas anak itu banyak dan harus selesai besok, ayah dari anak yang saya ajari ini meminta saya untuk menginap dirumahnya, atau kalau perlu nanti pulangnya diantar saja sama sopir atau sama ia sendiri dan istrinya.
Saya sebagai anak, merasa tidak enak, malam itu bapak yang anter saya buat privat, jam 11 lebih saya belum selesai mengajar anak itu, dan saya sms sama bapak. "Pak, bapak pulang aja udah malem, biar dede pulang dianter sama sopir" gak berapa lama bapak balas sms saya dan isinya
"Gapapa de, bapak tungguin, beresin aja ngajarnya sampai selesai"
Jam 11 lebih akhirnya saya selesai mengajar dan membantu anak itu mengerjakan tugasnya, jalanan mulai dari antapani sampai asia afrika dan jalan sudirman, benar-benar lengang, dan dimotor tiba-tiba bapak berbicara pada saya
"Selama bapak sehat, bapak akan anter kamu, bapak gak ridha kalau kamu pulang sama laki-laki yang bukan muhrim kamu"
Air mata saya menetes malam itu, dan saya semakin kuat memeluk bapak dimotor, semoga Allah sayangi bapak..., dan memberikan pasangan hidup yang baik seperti bapak untuk saya. Begitulah bapak, yang setiap hari setelah pensiun justru sibuk mengurus pekerjaan rumah tangga membantu ibu dirumah.
Bapak yang tak pernah menanyakan kepada saya perihal laki-laki yang dekat dengan saya, dan kapan saya akan menikah. Bapak tau betul bagaimana anaknya ini berusaha menemukan jodohnya sesuai syariat Islam, meski tak pernah bertanya, saya sangat yakin, bapak selalu menyebut nama saya dalam setiap doanya.
Oh iya satu hal yang istimewa untuk saya, adalah ketika nama bapak ada diakhir nama saya..., diantara keempat anaknya, hanya saya yang punya nama belakang pake namanya bapak, diakte tertulis seperti itu :)
terima kasih banyak pak, semoga Allah sayangi bapak selalu
Semoga Allah segera mengirim laki-laki yang sholeh untuk menjaga putri bapak ini...
aamiin
13 November 2014
Kamar Terang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar