Jumat, 21 Februari 2014

Tablet

Aku berusaha untuk tidak marah, berusaha meredakan emosiku, meski aku merasa sangat lelah hari itu.

Seperti biasa, sabtu sore adalah jadwalku mengajar di mesjid, yah aku sempatkan diri mengajar dimadrasah walau satu hari, jadwal mengajarku yang padat ditempat bimbingan belajar membuat aku harus mengatur waktu, aku tidak ingin hanya mengejar dunia, Aku ingin, meski hanya sekali, aku tetap menyempatkan waktu untuk mengajarkan Qur’an kepada adik-adikku dimesjid. Ya meskipun muridnya hanya ada satu, karena hanya satu yang bertahan, Naufal. Anak kelas 6 SD yang meski hujan sekalipun, tetap datang kemesjid untuk mengaji.

Dan hari itu, ia membawa tab kesayangannya, hari itu dimas ikut ngaji, meskipun sebenarnya dimas yang dulu juga ngaji dimadrasah lebih tertarik dengan permainan yang ada ditab Naufal ketimbang mengaji, dimas datang tanpa membawa apapun, tidak buku, tidak Qur’an, apalagi alat tulis -___-

Sejak awal datang mereka sudah fokus dengan tab, berdoa dan mengaji naufal tetap main game, ia menyuruh dimas ngaji duluan, akhirnya dimas ngaji. Ngajinya juga satu halaman kurang, setelah dimas selesai mengaji, kemudian giliran Naufal yang mengaji, ia tidak gunakan Qur’annya, ia memilih membaca Qur’an dari Tab. Sudahlah, fikirku sama saja, dan setelah selesai membaca Qur’an mereka  kembali melanjutkan gamenya bersama dengan dimas. Aku??? Diam. Kemudian, aku mengajak mereka untuk membaca hafalan surat “Yauda sekarang kita hafalan surat yah”

Naufal tetep fokus ke Tab sama Dimas, dan ia hanya bilang “Enggak ah teh”

“Yauda Tabnya simpen dulu, ntar dilanjutin dirumah maennya”  mereka tetep fokus ke Tab.

Aku diam, kesal, pengen marah, akhirnya aku membuka Qur’anku, mengaji didepan mereka beberapa ayat, kemudian membaca artinya :
“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu orang yang berinfak, baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan....” (QS Ali-Imran 134)

Dadaku sudah sesak, aku merasa lelah hari itu...

“Yauda, teteh duluan yah...” mengajinya belum selesai, belum Isya, belum berdoa, aku memutuskan untuk meninggalkan ruangan.

Dan Naufal hanya berkata “ Teteh mau kemana?”

“Mau sholat”

Akhirnya aku masuk kedalam mesjid, aku duduk, dan hanya bisa menangis..., aku tau aku belum mampu menjadi hamba yang baik, tapi setidaknya aku harus bisa mengendalikan emosiku untuk tidak marah, meskipun aku berharap mereka paham jika tetehnya ini sedang marah. Aku benar-benar lelah..., aku tau aku belum mampu ikhlas dalam beramal. Tapi aku tidak bisa memaksa anak kecil yang umurnya masih 10 tahun itu untuk bisa memahami aku, yang untuk bisa datang mengajarnya harus mempertaruhkan nyawa, dengan memacu motorku diatas kecepatan normal.


Semoga Allah mengampuni dosaku, mengampuni kelemahanku, mengampuni ketidakikhlasanku, dan menjadikan aku sebaik-baik manusia, aamiin.

Bandung, 22 Februari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar