Aku berusaha untuk tidak marah,
berusaha meredakan emosiku, meski aku merasa sangat lelah hari itu.
Seperti biasa, sabtu sore adalah
jadwalku mengajar di mesjid, yah aku sempatkan diri mengajar dimadrasah walau
satu hari, jadwal mengajarku yang padat ditempat bimbingan belajar membuat aku
harus mengatur waktu, aku tidak ingin hanya mengejar dunia, Aku ingin, meski
hanya sekali, aku tetap menyempatkan waktu untuk mengajarkan Qur’an kepada
adik-adikku dimesjid. Ya meskipun muridnya hanya ada satu, karena hanya satu
yang bertahan, Naufal. Anak kelas 6 SD yang meski hujan sekalipun, tetap datang
kemesjid untuk mengaji.
Dan hari itu, ia membawa tab
kesayangannya, hari itu dimas ikut ngaji, meskipun sebenarnya dimas yang dulu
juga ngaji dimadrasah lebih tertarik dengan permainan yang ada ditab Naufal
ketimbang mengaji, dimas datang tanpa membawa apapun, tidak buku, tidak Qur’an,
apalagi alat tulis -___-
Sejak awal datang mereka sudah
fokus dengan tab, berdoa dan mengaji naufal tetap main game, ia menyuruh dimas
ngaji duluan, akhirnya dimas ngaji. Ngajinya juga satu halaman kurang, setelah
dimas selesai mengaji, kemudian giliran Naufal yang mengaji, ia tidak gunakan
Qur’annya, ia memilih membaca Qur’an dari Tab. Sudahlah, fikirku sama saja, dan
setelah selesai membaca Qur’an mereka kembali melanjutkan gamenya bersama dengan
dimas. Aku??? Diam. Kemudian, aku mengajak mereka untuk membaca hafalan surat “Yauda
sekarang kita hafalan surat yah”
Naufal tetep fokus ke Tab sama Dimas,
dan ia hanya bilang “Enggak ah teh”
“Yauda Tabnya simpen dulu, ntar
dilanjutin dirumah maennya” mereka tetep
fokus ke Tab.
Aku diam, kesal, pengen marah,
akhirnya aku membuka Qur’anku, mengaji didepan mereka beberapa ayat, kemudian
membaca artinya :
“Dan bersegeralah kamu mencari
ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi
yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu orang yang berinfak, baik
diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, dan
memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat
kebaikan....” (QS Ali-Imran 134)
Dadaku sudah sesak, aku merasa
lelah hari itu...
“Yauda, teteh duluan yah...”
mengajinya belum selesai, belum Isya, belum berdoa, aku memutuskan untuk
meninggalkan ruangan.
Dan Naufal hanya berkata “ Teteh
mau kemana?”
“Mau sholat”
Akhirnya aku masuk kedalam
mesjid, aku duduk, dan hanya bisa menangis..., aku tau aku belum mampu menjadi
hamba yang baik, tapi setidaknya aku harus bisa mengendalikan emosiku untuk
tidak marah, meskipun aku berharap mereka paham jika tetehnya ini sedang marah.
Aku benar-benar lelah..., aku tau aku belum mampu ikhlas dalam beramal. Tapi aku
tidak bisa memaksa anak kecil yang umurnya masih 10 tahun itu untuk bisa
memahami aku, yang untuk bisa datang mengajarnya harus mempertaruhkan nyawa,
dengan memacu motorku diatas kecepatan normal.
Semoga Allah mengampuni dosaku,
mengampuni kelemahanku, mengampuni ketidakikhlasanku, dan menjadikan aku
sebaik-baik manusia, aamiin.
Bandung, 22 Februari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar