Senin, 17 Februari 2014

Nabung

Saya bersyukur ketika saya diberi kesempatan untuk belajar meringankan beban orang tua untuk biaya kuliah. Saya tau, keluarga saya adalah keluarga yang sederhana, bapak yang hanya lulusan SMA dan Ibu yang tidak selesai sekolah dasar, tapi mereka berdua dengan penuh keikhlasan, merelakan satu persatu hartanya dijual untuk membiayai kuliah anak-anaknya, hingga saya dan ketiga kakak saya dapat lulus kuliah dari perguruan tinggi negeri dan mendapat gelar sarjana.

Memang bukan perkara yang sederhana ketika kita bicara pendidikan dinegara kita “jangankan kuliah, buat makan aja  susah” itulah mungkin kalimat yang sering saya denger dari beberapa orang dipinggiran kota besar, atau mungkin dikampung-kampung yang hidupnya masih jauh dari kata sejahtera. Biaya pendidikan yang tidak cukup 1-2 juta sekarang, bahkan sekalipun masuk ke Universitas Negeri tetap saja biaya kuliah saat ini mahal.

Saya bersyukur bisa keterima di PTN, karena bapak selalu bilang kepada kami anak-anaknya. “Kalau kalian bisa masuk PTN, sesulit apapun, bapak akan berusaha membiayai kalian, tapi kalo kalain tidak masuk PTN, maaf bapak tidak bisa membiayai kalian untuk kuliah, biaya kuliah di PTS itu mahal sekali” Mungkin inilah yang akhirnya menjadi motivasi bagi kami, khususnya saya, tanpa buku-buku bagus, tanpa bimbingan belajar, saya alhamdullilah bisa keterima kuliah di perguruan tinggi negeri.

Toh ketika masukpun, sering sekali terlambat membayar SPP dan bersama ratusan mahasiswa yang lain saya harus mengajukan penangguhan, dan mengantri di kantor bagian akademik dan administrasi tiap kali akan mengontrak semester baru, wkwkwkwkwk. Dan 2 tahun pula, saya kuliah dengan biaya beasiswa, maka sejak kuliah saya mulai belajar memutar otak untuk mendapat uang, alhamdullilah dikasih kesempatan ngajar dimadrasah, ngajar privat anak-anak, ada rizky yang saya dapatkan untuk menambah uang saku dan uang angkot. Saya lupa berapa pertama kali saya dapat uang hasil kerja sendiri, kalo gak salah sekitar Rp 20.000
.
Hal itu saya lakukan hingga saya beres kuliah, artinya ketika orang lain beres sidang santai-santai, beres wisuda istirahat, saya enggak. Beres wisuda saya sorenya udah ngajar lagi, keren kan??? Yah begitulah, saya lebih menghargai uang, hingga sekarang. Maka ketika ada proyekan, atau ada pekerjaan sampingan, tawaran pekerjaan dari teman, selama halal, insya allah pasti saya kerjakan. Saya pernah buat bola-bola coklat, pernah jadi penyebar flyer, pernah jualan jus dan makanan, dll

Hingga setelah mendapat pekerjaan tetap, alhamdullilah akhirnya 3 tahun bisa punya kendaraan sendiri untuk pergi menjemput rizky yang lain. Entahlah, saya bukan tipe perempuan yang shoppingholic, saya belanja kalo ada uang, dan ada kebutuhan aja. Saya jarang menikmati libur hari minggu, kalo tidak ada kepentingan, minggu-minggu pun saya tetap bekerja, mengajar anak privat dirumahnya. Ini manfaatnya 2, membantu anak itu supaya pintar, kedua sayanya pun dapat rizky tambahan.

Maka... saya kurang up date tempat nongkrong yang enak dibandung apa? Jangan tanya film apa yang rame, saya jarang nonton kebioskop, sebulan sekali tidak, bahkan tiga bulan sekali juga tidak. Perawatan Tubuh? Aaah... ini kebutuhan tersier buat saya, belom pernah sama sekali, saya juga jarang nyalon, saya ke salon kalo lagi ada butuhnya doang, potong rambut, atau creambath, itu juga jarang banget, sebulan sekali juga jarang. Bahkan untuk membeli gadget terbaru pun saya harus berfikir ratusan kali, saya hanya berfikir, membeli sesuatu harus sesuai dengan kebutuhan bukan keinginan, dan untuk gadget saya harus pastikan membeli barang yang kualitasnya bagus. Dan tentu barang kualitas bagus harganya pun sepadan, jadi harus sabar untuk bisa membelinya.

Tapi jangan ditanya kalo tentang buku, dulu waktu kuliah saya uang sakunya yang serba pas-pasan, punya tekad untuk membeli buku minimal satu per bulannya, itu terus saya lakukan hingga sekarang saya punya penghasilan tetap, dan untuk buku saya termasuk yang royal, meskipun budgetnya tidak pernah lebih dari Rp 150.000/bulan. Saya punya tabungan khusus, untuk membeli buku di IBF (Islamic Book Fair) di Jakarta. Setahun sekali saya bisa menghabiskan uang hampir setengah juta unutk membeli buku. Biarlah... buku itu bisa jadi investasi kelak bagi anak-anak saya kelak. Siapa tau bisa kasih manfaat juga bagi orang banyak nantinya.

Kembali ke tabungan..., saya merasa penting untuk menabung, bagi saya menunda kesenangan dunia lebih baik, karena kesenangan sejatinya hanya ada di Surga, saya ingin menabung bukan hanya untuk kepentingan duniawi, saya punya keinginan dan cita-cita untuk bisa menunaikan ibadah haji sebelum umur 30 tahun, itu artinya sekitar 3 tahunan lagi, dan saya sudah memulai tabungan dari tahun 2011, mulai dari angka nol yang hanya ada 5 digit, tahun ini alhamdullilah sudah 6 digit, dan Insya Allah akhir tahun ini sudah 7 digit. Semoga menjadi barakah, sekaligus  jadi motivasi untuk diri saya. Sengaja, saya tuliskan disini, semoga menjadi pengingat untuk saya, agar saya bisa Istiqomah dengan tujuan saya, dan bisa menyegerakan panggilan Allah itu.

Berhaji itu bukan untuk riya, tapi itu salah satu Rukun Islam, seruan yang Allah wajibkan di Qur’an, saya sendiri pun sedang berusaha memampukan diri saya, jika bukan sekarang, kapan lagi? Semoga kita semua diberikan kemudahan untuk menyegerakan panggilan Allah ini, dan semoga kita semua diberi kesempatan menunaikan ibadah Haji, sebelum kita dipanggil malakait Izrail, aamiin.


Bandung, 18 Februari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar