Saya bersyukur ketika saya diberi kesempatan untuk belajar meringankan
beban orang tua untuk biaya kuliah. Saya tau, keluarga saya adalah keluarga
yang sederhana, bapak yang hanya lulusan SMA dan Ibu yang tidak selesai sekolah
dasar, tapi mereka berdua dengan penuh keikhlasan, merelakan satu persatu
hartanya dijual untuk membiayai kuliah anak-anaknya, hingga saya dan ketiga
kakak saya dapat lulus kuliah dari perguruan tinggi negeri dan mendapat gelar
sarjana.
Memang bukan perkara yang
sederhana ketika kita bicara pendidikan dinegara kita “jangankan kuliah, buat
makan aja susah” itulah mungkin kalimat
yang sering saya denger dari beberapa orang dipinggiran kota besar, atau
mungkin dikampung-kampung yang hidupnya masih jauh dari kata sejahtera. Biaya
pendidikan yang tidak cukup 1-2 juta sekarang, bahkan sekalipun masuk ke
Universitas Negeri tetap saja biaya kuliah saat ini mahal.
Saya bersyukur bisa keterima di
PTN, karena bapak selalu bilang kepada kami anak-anaknya. “Kalau kalian bisa
masuk PTN, sesulit apapun, bapak akan berusaha membiayai kalian, tapi kalo
kalain tidak masuk PTN, maaf bapak tidak bisa membiayai kalian untuk kuliah,
biaya kuliah di PTS itu mahal sekali” Mungkin inilah yang akhirnya menjadi
motivasi bagi kami, khususnya saya, tanpa buku-buku bagus, tanpa bimbingan
belajar, saya alhamdullilah bisa keterima kuliah di perguruan tinggi negeri.
Toh ketika masukpun, sering
sekali terlambat membayar SPP dan bersama ratusan mahasiswa yang lain saya
harus mengajukan penangguhan, dan mengantri di kantor bagian akademik dan
administrasi tiap kali akan mengontrak semester baru, wkwkwkwkwk. Dan 2 tahun
pula, saya kuliah dengan biaya beasiswa, maka sejak kuliah saya mulai belajar
memutar otak untuk mendapat uang, alhamdullilah dikasih kesempatan ngajar
dimadrasah, ngajar privat anak-anak, ada rizky yang saya dapatkan untuk
menambah uang saku dan uang angkot. Saya lupa berapa pertama kali saya dapat
uang hasil kerja sendiri, kalo gak salah sekitar Rp 20.000
.
.
Hal itu saya lakukan hingga saya
beres kuliah, artinya ketika orang lain beres sidang santai-santai, beres
wisuda istirahat, saya enggak. Beres wisuda saya sorenya udah ngajar lagi,
keren kan??? Yah begitulah, saya lebih menghargai uang, hingga sekarang. Maka
ketika ada proyekan, atau ada pekerjaan sampingan, tawaran pekerjaan dari
teman, selama halal, insya allah pasti saya kerjakan. Saya pernah buat
bola-bola coklat, pernah jadi penyebar flyer, pernah jualan jus dan makanan,
dll
Hingga setelah mendapat pekerjaan
tetap, alhamdullilah akhirnya 3 tahun bisa punya kendaraan sendiri untuk pergi
menjemput rizky yang lain. Entahlah, saya bukan tipe perempuan yang
shoppingholic, saya belanja kalo ada uang, dan ada kebutuhan aja. Saya jarang
menikmati libur hari minggu, kalo tidak ada kepentingan, minggu-minggu pun saya
tetap bekerja, mengajar anak privat dirumahnya. Ini manfaatnya 2, membantu anak
itu supaya pintar, kedua sayanya pun dapat rizky tambahan.
Maka... saya kurang up date
tempat nongkrong yang enak dibandung apa? Jangan tanya film apa yang rame, saya
jarang nonton kebioskop, sebulan sekali tidak, bahkan tiga bulan sekali juga
tidak. Perawatan Tubuh? Aaah... ini kebutuhan tersier buat saya, belom pernah
sama sekali, saya juga jarang nyalon, saya ke salon kalo lagi ada butuhnya
doang, potong rambut, atau creambath, itu juga jarang banget, sebulan sekali
juga jarang. Bahkan untuk membeli gadget terbaru pun saya harus berfikir
ratusan kali, saya hanya berfikir, membeli sesuatu harus sesuai dengan
kebutuhan bukan keinginan, dan untuk gadget saya harus pastikan membeli barang
yang kualitasnya bagus. Dan tentu barang kualitas bagus harganya pun sepadan,
jadi harus sabar untuk bisa membelinya.
Tapi jangan ditanya kalo tentang
buku, dulu waktu kuliah saya uang sakunya yang serba pas-pasan, punya tekad
untuk membeli buku minimal satu per bulannya, itu terus saya lakukan hingga
sekarang saya punya penghasilan tetap, dan untuk buku saya termasuk yang royal,
meskipun budgetnya tidak pernah lebih dari Rp 150.000/bulan. Saya punya
tabungan khusus, untuk membeli buku di IBF (Islamic Book Fair) di Jakarta.
Setahun sekali saya bisa menghabiskan uang hampir setengah juta unutk membeli
buku. Biarlah... buku itu bisa jadi investasi kelak bagi anak-anak saya kelak.
Siapa tau bisa kasih manfaat juga bagi orang banyak nantinya.
Kembali ke tabungan..., saya
merasa penting untuk menabung, bagi saya menunda kesenangan dunia lebih baik,
karena kesenangan sejatinya hanya ada di Surga, saya ingin menabung bukan hanya
untuk kepentingan duniawi, saya punya keinginan dan cita-cita untuk bisa
menunaikan ibadah haji sebelum umur 30 tahun, itu artinya sekitar 3 tahunan
lagi, dan saya sudah memulai tabungan dari tahun 2011, mulai dari angka nol
yang hanya ada 5 digit, tahun ini alhamdullilah sudah 6 digit, dan Insya Allah
akhir tahun ini sudah 7 digit. Semoga menjadi barakah, sekaligus jadi motivasi untuk diri saya. Sengaja, saya
tuliskan disini, semoga menjadi pengingat untuk saya, agar saya bisa Istiqomah
dengan tujuan saya, dan bisa menyegerakan panggilan Allah itu.
Berhaji itu bukan untuk riya,
tapi itu salah satu Rukun Islam, seruan yang Allah wajibkan di Qur’an, saya
sendiri pun sedang berusaha memampukan diri saya, jika bukan sekarang, kapan
lagi? Semoga kita semua diberikan kemudahan untuk menyegerakan panggilan Allah
ini, dan semoga kita semua diberi kesempatan menunaikan ibadah Haji, sebelum
kita dipanggil malakait Izrail, aamiin.
Bandung, 18 Februari 2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar