Kamis, 15 Agustus 2013

Menjaga Hijab = Menjaga Jarak = Menjaga hati = Menjaga Perasaan



 "Perempuan adalah Aurat, apabila ia keluar maka setan pasti mengawasinya"
(HR At-Tirmidzi)




Anjuran behijab sudah sangat terang dan jelas disampaikan oleh Pemilik Semesta ini kepada Rasullulah SAW agar menjadi pedoman hidup bagi kami umatnya yang berabad-abad ditinggalkan oleh beliau,  hingga kami berusaha mengikuti apa yang beliau sampaikan sejak turunnya ayat itu.
Menjaga hijab bukan perkara sederhana yang selesai begitu saja ketika kami kaum perempuan mengenakannya, tapi setelah itu kami pun harus tetap menjaga hijab kami dengan lawan jenis. Seseorang yang secara agama bukan mahram kami, yang halal untuk dinikahi. Maka ketika belum halal, siapa pun perempuan harus benar-benar menjaga hijabnya dengan lawan jenis.

Saya sedang merenung kenapa Allah memerintahkan kami untuk mengenakan hijab, dan menjaga hijab dengan lawan jenis kami, yang bukan mahram kami. Bukankah itu akan membuat jarak yang dapat memisahkan kami dengan kaum adam? Ya. Memang itu yang diharapkan, jarak dibuat untuk menjaga hati. Kenapa Hati? Karena hati mudah sekali berubah, dan mudah sekali jatuh ditempat yang salah dengan waktu yang salah pula. Apa salahnya jatuh cinta? Bukankah Allah yang memberikannya secara fitrah kepada setiap manusia, agar kita saling mencintai? Ya... tapi jika cinta itu hanya cinta karena nafsu, bukan karena Allah, bukan karena Iman, maka bisa saja cinta itu yang akan membunuhmu.

Mungkin tidak akan sampai membuatmu mati atau masuk ruang UGD, tapi tak sedikit orang pula yang mati konyol gara-gara cinta. Apa karena ditolak, diselingkuhi, dibuat cemburu, atau hal-hal lainnya yang memaksa seseorang melakukan perbuatan dosa besar, yang menghilangkan kesadaran akal mereka. Atau mungkin efek paling ringan dari cinta ini membunuhku adalah membuat orang melakukan perbuatan bodoh, seperti menangisi diri, berharap terlalu tinggi, berangan-angan,  menyepi dengan kegalauan yang panjang.

Menjaga hati  itu mungkin maksudnya untuk menjaga perasaan. Allah tidak ingin melihat kita sedih karena kebodohan kita sendiri, tidak tega melihat perasaan kita tersayat-sayat karena sosok manusia, padahal Ia ingin dicintai lebih dari apapun. Lantas, ketika tidak bisa menjaga hati, dan akhirnya patah hati, siapa yang akan mengobati perasaan kita? Jangan terlalu mendramatisir keadaan menjadi begitu dramatis. Kendalikan saja hatimu, agar perasaanmu tidak tersakiti.

Islam adalah agama yang sempurna, agama yang begitu preventif. Bukankah benar, lebih baik mencegah daripada mengobati??? Jika tidak ingin terlukai perasannya, maka jagalah hatimu, jaga hatimu dengan menjaga jarak dengan lawan jenis, bukan tidak boleh berteman, berteman saja... tapi jangan pakai hati, pakai logikamu, rasionalah, ntar klo sakit hati saya tidak mau bertanggung jawab, satu lagi cara menjaga Jarak dengan laki-laki yang paling baik, dan paling sopan itu dengan berhijab. Jika kamu sudah berhijab, sudah mengenakan pakaian muslimah dengan baik-baik, maka laki-laki pun akan segan mendekat kepadamu. Terakhir. Ini hanya teori dari pemikiran seseorang yang fakir Ilmunya, Berdoalah kepada Allah SWT untuk selalu mendapatkan perlindungan, mintalah kepadaNya KeIstiqomahan setelah mendapatkan Ilmu serta Hidayah. Semoga Allah yang akan melindungiMu, hingga ia memberikan seseorang yang dapat melindungi dan menjaga kehormatan dirimu secara Halal. Sekian dan terima kasih.

Bandung 15 Agustus 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar