Jumat, 26 Juli 2013

Menyukai...



Aku menyukai sesuatu karena aku menyukainya, bukan berusaha menyukai apa yang disukai oleh orang yang aku sukai, dan kalaupun aku berusaha menyukai sesuatu yang disukai oleh orang yang kusukai, orang itu hanya ada satu, Nabiku Muhammad Bin Abdullah, aku akan menyukai apa saja yang Ia sukai.


Sudah beberapa hari ini aku lebih sering menggenggam quran hafalan, yah quran hafalan yang merupakan hadiah ulang tahun dari sahabat tercinta. Ia sengaja membelinya di Mekah pada saat umroh beberapa bulan yang lalu. Saya bukan seorang penghafal yang baik, tapi sejak sma dan aktif di organisasi DKM saya mulai rajin menghafal surat2 pendek dan panjang yang ada di Juz 30. Hingga Kuliah, hingga sekarang, meski menghafalnya putus-putus. Jadi ada yang ingat dan ada yang lupa.
Namun sepertinya baru seekstrim sekarang keliatannya, maklum bulan Ramadhan, banyak orang yang punya banyak target dibulan ini, tak terkecuali saya. Namun tiba-tiba saja, saya agak tersentak dengan pertanyaan kakak saya.

“Sejak kapan kamu jadi ngapalin Quran kaya gitu? Gara-gara liat Fatih Seferagic yah? Atau jangan-jangan lagi ngeceng Ikhwan yang Hafidz yah?”

JLEB.... ini bener-bener jleb buat saya. Saya bingung harus jawab apa... “Enggak, emang suka ngapalin kok, mba aja gak tau”

Tiba-tiba fikiran saya terbang melayang kemana-kemana, saya tidak menyangka, ekspektasi kakak saya tentang saya bisa sejauh itu. Saya memang menyukai Fatih Seferegic, beliau adalah seorang pemuda tampan yang Hafidz, tapi bukan gara-gara Fatih juga. Ngecengin Ikhwan Hafidz? Ah... siapalah saya sini, saya tau diri, interaksi saya dengan Ikhwan (laki-laki aktivis dakwah) minim sekali, kalaupun ada itupun saya berinteraksi dengan adik-adik saya dimesjid. Jadi mau ngeceng siapa? Toh saya tidak punya sahabat ikhwan yang Hafidz.

Banyak alasan mengapa saya begitu ingin menghafal Quran, namun satu dari banyak alasan itu, kalo boleh saya bilang alasan utamanya satu. Ingin Selamat, itu saja. Dan kalaupun saya ingin menghafal, itu bukan karena orang lain, tapi murni kesadaran diri yang saya rasa begitu telat sekali :(
Bukankah hal yang wajar kita tiba-tiba menyukai sesuatu karena orang yang kita sukai? Bisa jadi, tapi apakah saya yang seorang Liverpudlian harus jadi the Gunners karena orang yang saya sukai misalnya suka dengan Arsenal? Haruskah saya yang suka dengan Cerita Putri Salju, harus mengikuti orang yang saya sukai karena dia suka Cerita Pinokio? Apakah Harus pula saya yang tak pandai metamatika, tak mengerti Fisika, harus pindah kejurusan IPA supaya bisa sefakultas dengan orang yang saya disukai ke Fakultas Tehnik atau Kedokteran?

Menyukai seseorang apakah harus memaksakan diri dengan menyukai hal yang sama???

17 Ramadhan 1434 H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar