“Aku menyukai
sesuatu karena aku menyukainya, bukan berusaha menyukai apa yang disukai oleh
orang yang aku sukai, dan kalaupun aku berusaha menyukai sesuatu yang disukai
oleh orang yang kusukai, orang itu hanya ada satu, Nabiku Muhammad Bin
Abdullah, aku akan menyukai apa saja yang Ia sukai.”
Sudah beberapa hari ini aku lebih
sering menggenggam quran hafalan, yah quran hafalan yang merupakan hadiah ulang
tahun dari sahabat tercinta. Ia sengaja membelinya di Mekah pada saat umroh
beberapa bulan yang lalu. Saya bukan seorang penghafal yang baik, tapi sejak
sma dan aktif di organisasi DKM saya mulai rajin menghafal surat2 pendek dan
panjang yang ada di Juz 30. Hingga Kuliah, hingga sekarang, meski menghafalnya
putus-putus. Jadi ada yang ingat dan ada yang lupa.
Namun sepertinya baru seekstrim
sekarang keliatannya, maklum bulan Ramadhan, banyak orang yang punya banyak
target dibulan ini, tak terkecuali saya. Namun tiba-tiba saja, saya agak
tersentak dengan pertanyaan kakak saya.
“Sejak kapan kamu jadi ngapalin
Quran kaya gitu? Gara-gara liat Fatih Seferagic yah? Atau jangan-jangan lagi
ngeceng Ikhwan yang Hafidz yah?”
JLEB.... ini bener-bener jleb
buat saya. Saya bingung harus jawab apa... “Enggak, emang suka ngapalin kok,
mba aja gak tau”
Tiba-tiba fikiran saya terbang
melayang kemana-kemana, saya tidak menyangka, ekspektasi kakak saya tentang
saya bisa sejauh itu. Saya memang menyukai Fatih Seferegic, beliau adalah
seorang pemuda tampan yang Hafidz, tapi bukan gara-gara Fatih juga. Ngecengin
Ikhwan Hafidz? Ah... siapalah saya sini, saya tau diri, interaksi saya dengan
Ikhwan (laki-laki aktivis dakwah) minim sekali, kalaupun ada itupun saya
berinteraksi dengan adik-adik saya dimesjid. Jadi mau ngeceng siapa? Toh saya
tidak punya sahabat ikhwan yang Hafidz.
Banyak alasan mengapa saya begitu
ingin menghafal Quran, namun satu dari banyak alasan itu, kalo boleh saya
bilang alasan utamanya satu. Ingin Selamat, itu saja. Dan kalaupun saya ingin
menghafal, itu bukan karena orang lain, tapi murni kesadaran diri yang saya
rasa begitu telat sekali :(
Bukankah hal yang wajar kita
tiba-tiba menyukai sesuatu karena orang yang kita sukai? Bisa jadi, tapi apakah
saya yang seorang Liverpudlian harus jadi the Gunners karena orang yang saya
sukai misalnya suka dengan Arsenal? Haruskah saya yang suka dengan Cerita Putri
Salju, harus mengikuti orang yang saya sukai karena dia suka Cerita Pinokio? Apakah
Harus pula saya yang tak pandai metamatika, tak mengerti Fisika, harus pindah
kejurusan IPA supaya bisa sefakultas dengan orang yang saya disukai ke Fakultas
Tehnik atau Kedokteran?
Menyukai seseorang apakah harus
memaksakan diri dengan menyukai hal yang sama???
17 Ramadhan 1434 H

Tidak ada komentar:
Posting Komentar