“Sendiri itu,
adalah ketika merasa lebih banyak tahu dari orang lain. Dan itulah sebuah
jebakan. Sebab sesungguhnya apa yang kita yakini, belum tentu sebuah
pengetahuan yang sampai pada taraf ilmu.
Sendiri itu, ketika orang lain menyangka kita bisa, padahal kenyataannya kita tidaklah demikian.
Sendiri itu, pada saat orang lain mengatakan kita cerdas, padahal kita belum terlalu mengerti apa-apa. Disana tentu sudah pasti ada jebakan, yang bakal menyeret kita pada kepercayaan diri yang tak memberi rasa aman.”
Sendiri itu, ketika orang lain menyangka kita bisa, padahal kenyataannya kita tidaklah demikian.
Sendiri itu, pada saat orang lain mengatakan kita cerdas, padahal kita belum terlalu mengerti apa-apa. Disana tentu sudah pasti ada jebakan, yang bakal menyeret kita pada kepercayaan diri yang tak memberi rasa aman.”
|
—
|
Sultan Hadi
& Ahmad Zairofi, Tarbawi Ed.284
|
Sejak meninggalkan bangku kuliah sekitar empat tahun yang lalu..., aku
mulai belajar untuk mandiri. Mandiri identik dengan kesendirian, yah aku harus
bisa melakukan apa-apa sendiri, menyelesaikan segala sesuatu sendiri, dan
memutuskan segala sesuatu sendiri. Waktu memang mampu mendewasakan seseorang.
Perempuan itu mainstreamnya selalu berkelompok, kalaupun tidak minimal pasti berdua, dia makhluk yang aneh,
tidak seperti laki-laki yang bisa cuek berjalan seorang diri kemana saja
mengikuti kata hatinya, saya tidak membahas tentang gender, tapi bercerita
tentang apa yang saya lihat dan saya rasakan dalam kehidupan saya sebagai
seorang perempuan.
Saat kuliah dulu... aku selalu mencari teman untuk pergi kemana-mana,
dengan alasan takut, malu, sepi, aku selalu minta ditemani ketika akan
bepergian, memilih tidak pergi dan tidak ikut satu kegiatan karena tidak ada
teman, alasan yang simple dan sederhana waktu itu, mungkin faktor usia juga,
masih muda dan manja
Dan liatlah sekarang...
Saat teman-teman telah menjalani kehidupannya ditempat yang jauh dariku,
kalaupun ada teman yang dekat sekarang, biasanya frekuensi pertemuan kami
sangat jarang, dan bisa diitung dengan jari kapan kami bisa bertemu dan jalan bareng.
Pekerjaan cukup menyita waktu, membuat dua orang manusia yang sama-sama tinggal
di kota bandungpun masih sulit untuk bertemu.
Bersama waktu... aku dipaksa untuk mandiri, dipaksa untuk dewasa, tidak
lagi bergantung pada orang lain. Begitulah... aku yang takut menyebrang, siapa
sangka mampu mengendarai motor sendiri hingga ke Soekarno-Hatta, bisa
menyebrang dijalur cepat yang banyak kendaraan-kendaraan besar, jangan
dibayangkan rasanya, jujur aku masih takut.. :’( dan jika harus menyebrang
sekalipun.... seorang diri, aku masih saja takut sebenarnya... trauma masa
kecil sepertinya, waktus SD aku pernah 2 kali diserempet motor, bahkan sampai
jatuh dan pingsan -.-
Dan ketika aku harus memenuhi hak saudaraku...
Sekarang untuk menuntut Ilmu aku tak perlu dijemput temanku, aku pergi
kemanapun aku mau mencari Ilmu sendiri..., bukankah menuntut Ilmu itu suatu
kewajiban. Aku masih ingat Ramadhan tahun lalu, aku mengendarai motor dengan
cepatnya, karena ingin menghadiri kajian sore yang di isi oleh Ustdz Felix di
Salman. Ustadz yang gak terlalu mainstream, tapi namanya begitu sering berkicau
dan di Retweet oleh banyak anak pemuda, rasa penasaran bisa membunuhku (lebay),
aku berjalan sendirian, dan melanjutkan tarawih sendirian pula di Salman, tanpa
seorang teman pun, bahkan hingga pulang.
Masih di Bulan Ramadhan pula, saat
aku ingin berI’tikaf, mana ada aku pergi kemesjid besar, apalagi mesjid sebesar
Habiburahman tanpa mengajak seorang teman sendirian. Tapi Tidak untuk sekarang, aku berI’tikaf
karena aku benar-benar ingin sendiri, ingin fokus bermunajat pada Allah, tak
ingin diajak mengobrol atau berdiskusi, aku sanggup pergi ke kamar mandi
sendiri untuk berwudhu.
Mendapat kabar bahwa sahabatku yang sedang hamil 9 bulan sakit, dan harus
diopname di rumah sakit..., apakah aku harus menunggu dan mencari teman untuk
menjenguknya? Rumah Sakit adalah tempat yang asing bagiku... tapi aku bisa
melewatinya... aku bisa datang menjenguk sahabatku sendirian
Mendapatkan Undangan Pernikahan dari sahabat dekat..., bingung harus pergi
dengan siapa... aku coba menghubungi teman tapi mereka datang dengan
pasangannya (kebanyakan dengan suami), aku pun menghubungi adik kelasku untuk
menemani, namun tetap tidak bisa... Ingin rasanya diam saja dirumah dan
mengucapkan Barakallah dari rumah, tapi itu bukan solusi, bukankah memenuhi
undangan itu juga sebuah hak saudara yang harus kita tunaikan. Aku bisa pergi
sendiri, dan bertemu dengan teman-teman yang lain disana.
Ini bukan sesuatu yang perlu di ratapi, tapi mungkin ini adalah satu dari
ratusan atau mungkin ribuan episode kehidupan yang harus saya lalui, mungkin
belum saatnya saya dipertemukan dengan seseorang yang dapat melengkapi hidup
saya, melepaskan saya dari kesendirian. Saya yakin diluar lingkaran kehidupan
saya banyak orang yang mengalami hal yang sama dengan saya. Semoga ada hikmah
dibalik setiap peristiwa kehidupan, yang membuat saya semakin bijaksana,
membuat Ilmu saya kian melangit, namun akhlak saya semakin membumi.
Karena pada dasarnya aku tak pernah sendiri.. Allah selalu ada...
Kita tidak bisa membunuh rasa sepi, tak bisa lepas juga dari kesendirian,
toh saat kita mati nanti, kita juga akan mati sendiri, dikubur sendiri, dan
dihisab sendiri?
Sendiri itu ganjil , namun Berdua itu menggenapkan.
Bandung, 2013
|
|
|
|
|
|

Tidak ada komentar:
Posting Komentar