Sabtu, 19 Februari 2011

Like Father Like Son

“Aku ingin menyampaikan Dakwah ini sampai kepada Janin di perut Ibunya” (Hasan Al Banna)

Itulah salah satu kalimat yang terucap dari seorang ulama yang rendah hati, setelah membaca buku Cinta di Rumah Hasan Al Banna, saya merasa mendapatkan banyak  pencerahan, bagaimana seharusnya hubungan keluarga itu terbina. 


Hasan Al Banna paham betul  bagaimana Rasullulah memperlakukan keluarganya dengan baik, sebagaimana ucapan Rasul , “Wa anaa khairukum li ahlii” Saya adalah orang yang paling baik diantara kalian kepada keluarga. Dalam salah satu bagian bukunya ada sepenggal kisah keteladanan dari Umar bin Abdul Aziz dan putranya.

“Buah jatuh tidak jauh dari Pohonnya”.... begitulah kira-kira kata pepatah. Maknanya mungkin sahabat lebih paham. Dan akhirnya saya berfikir..., seorang anak yang sholeh hanya akan lahir dari orangtua yang sholeh. Bukankah keluarga merupakan tempat pembentukan kepribadian anak??? Maka tak ada salahnya kita belajar mengambil keteladanan dari orang-orang yang tercatat dalam Sejarah Peradaban Islam berikut ini :

  1. Ibrahim dan Ismail
Sahabat pasti tau siapakah kedua orang ini??? Yah... mereka adalah dua orang nabi yang memiliki keimanan sangat besar. Dan Al-Quran pun mengabadikan kisah Ayah dan anak yang sholeh ini
“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh” Maka Kami memberikan dia kabar gembira dengan anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah pendapatmu!” Ia menjawab “Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah kamu akan mendapatiku temasuk orang-orang yang sabar” (QS As Saffat 100-102)

2. Umar bin Abdul Aziz dan Abdul Malik
“Siapakah yang menjaminmu sampai waktu dzuhur?” pertanyaan itu terlontar dari mulut seorang pemuda kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz, tokoh pemimpin yang bergelar khulafaur rasyidin yang kelima. Ketika itu, khalifah yang terkenal keadilannya itu sangat tersentak dengan perkataan sang pemuda. Terlebih saat itu, ia tengah merebahkan diri beristirahat usai menguburkan khalifah sebelumnya Sulaiman bin Malik.

Tapi baru saja ia merebahkan badannya, seorang pemuda berusia tujuh belasan tahun datang menghampirinya dan mengatakan, “Apa yang ingin engkau lakukan wahai Amirul Mukminin?” khalifah Umar bin Abdul Aziz menjawab, “Biarkan aku tidur barang sejenak. Aku sangat lelah dan capai sehingga nyaris tak ada kekuatan yang tersisa.” Namun pemuda itu tampak tidak puas dengan jawaban tesebut. Ia bertanya lagi, “Apakah engkau akan tidur sebelum mengembalikan barang yang diambil secara paksa kepada pemiliknya, wahai Amirul Mukminin?” Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengatakan , “Jika tiba waktu dzuhur, saya  bersama orang-orang akan mengembalikan barang-barang tersebut kepada pemiliknya.”
Jawaban itulah yang kemudian ditanggapi oleh sang pemuda.”Siapa yang menjaminmu hidup sampai seteleh dzuhur, Wahai Amirul Mukminin?” Pemuda itu bernama Abdul Malik, Ia putra Amirul Mukminin sendiri.

3.  Abu Bakar As Sidiq dan Aisyah
Apa kata Rasulullah mengenai pribadinya: “Tidak seorangpun diantara manusia yang lebih banyak dari Abu Bakar dalam menjaga diriku denganm jiwa dan hartanya. Sekiranya dibolehkan aku menjadikan teman baik diantara manusia niscaya saya jadikan Abu Bakar sebagai teman baik. Akan tetapi pertemanan dan persaudaraan atas nama Islam itu lebih utama. Silahkan kalian tutup setiap pintu untukku di masjid kecuali pintu Abu Bakar (HR.Bukhori).

Dan tentang Aisyah  Pada suatu ketika Rasulullah ditanya, “Siapakah orang yg paling enkau cintai ?” maka beliau menjawab, “Aisyah” Hal ini didasarkan kepada hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Amr bin ‘Ash, dimana dia datang kepada Nabi seraya bertanya,”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling engkau cintai?” beliau menjawab,”Aisyah” kemudian Amr bin Ash bertanya, “”Siapakah orang lelaki yang paling engkau cintai?”beliau menjawab,”Bapaknya (Abu Bakar)”Dia bertanya, “Kemudian siapa lagi?” beliau menjawab,”Umar”, yakni Ibnu Al Khaththab, semoga Allah meridhai semuanya.

4.  Umar Bin Khatab dan Abdullah bin Umar
"Ya Allah...buatlah Islam ini kuat dengan masuknya salah satu dari kedua orang ini. Amr bin Hisham atau Umar bin Khattab." Salah satu dari doa Rasulullah pada saat Islam masih dalam tahap awal penyebaran dan masih lemah. Doa itu segera dikabulkan oleh Allah. Allah memilih Umar bin Khattab sebagai salah satu pilar kekuatan islam, sedangkan Amr bin Hisham meninggal sebagai Abu Jahal.

Keislaman beliau telah memberikan andil besar bagi perkembangan dan kejayaan Islam. Beliau adalah pemimpin yang adil, bijaksana, tegas, disegani, dan selalu memperhatikan urusan kaum muslimin. Pemimpin yang menegakkan ketauhidan dan keimanan, merobohkan kesyirikan dan kekufuran, menghidupkan sunnah dan mematikan bid'ah. Beliau adalah orang yang paling baik dan paling berilmu tentang al-Kitab dan as-Sunnah setelah Abu Bakar As Siddiq.

Dan putranya Abdullah bin Umar,  termasuk seorang sahabat yang memiliki keistimewaan dalam ilmu dan amal. Sejak masih kecil, ia sudah masuk Islam bersama Ayahnya, Umar bin Khattab. Ia termasuk anak cerdas dan hebat yang menjadi kesayangan orang tuanya. Ayahnya benar-benar mendidik kedisiplinan dan ketaatan kepada agamanya. Apalagi lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar sangat mendukungnya dalam hal-hal keislaman. Ia ikut hijrah (pindah) ke Kota Madinah bersama Ayahnya ketika usianya baru menginjak sepuluh tahun.

Keistimewaan lain yang melekat pada diri Abdullah bin Umar ialah keluasan ilmu, kerendahan hati, kebulatan tekad dan ketegasan pendirian, kedermawanan, serta keteguhannya pada contoh yang telah diberikan Rasulullah. Kepribadiannya yang sungguh mengagumkan nyaris tanpa cela sedikit pun. Orang-orang yang semasa dengan Abdullah bin Umar umumnya mengatakan: “Tak seorang pun di antara sahabat-sahabat Rasulullah yang lebih berhati-hati agar tidak  terselip atau terkurangi sehuruf pun dalam menyampaikan hadis Rasulullah sebagaimana halnya Abdullah bin Umar.”

5. Zaid bin Haritsah dan Usamah bin Zaid
Rasul sangat sayang sekali kepada Zaid. Kesayangan Nabi itu memang pantas dan wajar disebabkan kejujurannya, kebesaran jiwanya, kelembutan dan kesucian hatinya, serta terpelihara lidah dan tangannya. Semua itu menyebabkan Zaid punya kedudukan tersendiri sebagai “Zaid Kesayangan” sebagaimana yang telah dipanggilkan sahabat-sahabat rasul kepadanya. Berkatalah Aisyah ra, “Setiap Rasulullah mengirimkan suatu pasukan yang disertai oleh Zaid, pastilah ia yang selalu diangkat menjadi pemimpinnya. Seandainya ia masih hidup sesudah Rasul, tentulah ia akan diangkatnya sebagai khalifah.”

Dan putranya.... Kaum muslimin turut bergembira dengan kelahiran Usamah bin Zaid, melebihi kegembiraan meraka atas kelahiran bayi-bayi lainnya. Hal itu bisa terjadi karena tiap-tiap sesuatu yang disukai Rasulullah juga mereka sukai. Bila beliau bergembira mereka pun turut bergembira. Bayi yang sangat beruntung itu mereka panggil “Al-Hibb wa Ibnil Hibb” (kesayangan anak kesayangan).

Sejak Usamah meningkat remaja, sifat-sifat dan pekerti yang mulia sudah kelihatan pada dirinya, yang memang pantas menjadikannya sebagai kesayangan Rasulullah. Dia cerdik dan pintar, bijaksana dan pandai, takwa dan wara. Ia senantiasa menjauhkan diri dari perbuatan tercela. Beberapa peperangan yg diikuti Usamah, Perang Uhud, Perang Khandaq, Perang Hunain Perang Mu’tah dan Perang Melawan Romawi.

Begitulah..., orang –orang yang Allah karunia hatinya cahaya keimanan... sehingga Allah mengaruniai kepada mereka keturunan yang sholeh dan sholehah, namun satu hal yang harus kita jadikan catatan
Keimanan tidak bisa diturunkan!!!...
“......Barang siapa yang dikehendaki Allah (kesesatanya), niscaya disesatkanNya. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah (untuk diberiNya petunjuk) niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.” (QS. Al-An’am: 39). Itulah yang menjadi alasan Mush’ab bin Umair meninggalkan kehidupan mewahnya, meninggalkan kedua orang tua yang ia cinta, dan menjadi orang yang sangat zuhud bersama Rasullulah. Atau sahabat ingat seorang pahlawan perang Khandaq... Salman Al Farisi yang meninggalkan kehidupannya di Persia hanya untuk mencari kebenaran sebuah agama baru yang dibawa oleh Muhhamad bin Abdullah, hingga ia rela berjalan jauh, bertanya pada setiap pendeta, bahkan menjadi budak!

Dan pada kenyataannya... tidak semua anak sholeh dilahirkan dari orang tua yang sholeh, bagimanapun mereka berusaha agar orangtuannya terlepas dari kekafiran, mereka tak akan mampu merubahnya tanpa izin Allah. Sebagaimana firman Allah SWT “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Al-Qasas: 56).
Tidak seperti Ayahnya,... keimanan mereka tak bisa dipatahkan oleh apapun... mereka adalah Ibrahim bin Azzar, Ikrimah bin Abu Jahal, dan Ali bin Abi Thalib..., semoga Allah merahmati mereka semua.

Begitulah sahabat..., semoga kisah-kisah para nabi dan sahabat Rasullulah bisa menjadi teladan bagi kita, dan berdoalah....

Robbana Hablana min ajwajina wadzuriiyatina kurrata 'ayyun waj'alna
lilmutaqiina imama. (Wahai Tuhan Kami Karuniakan kepada kami  istri-istri
dan anak-anak yang menyejukan mata dan jadikan mereka pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa)
(QS Al Furqan ayat 74)

            
Sumber :   1. Biografi Umar Bin Abdul Aziz
                2. Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasullulah
                3. Syama'il Rasullulah
                4. Cinta di Rumah Hasan Al-Banna
                5. www.google.com






1 komentar: